Kategori
Artikel

2015 Wilayah Regional Lampung (Daratan) Masih Eendemik Rabies

rabies-1Agen penyebab rabies adalah virus rabies yang termasuk dalam genus Lyssavirus dari keluarga Rhabdoviridae. Hospes utamanya adalah kelompok canidae, termasuk anjing (bertanggung jawab untuk lebih dari 99% dari semua kematian manusia akibat rabies), rubah, anjing hutan, serigala juga kucing, sigung, rakun, mongooses, kelelawar dan hewan karnivora lainnya. Penularan utamanya melalui gigitan atau luka yang terbuka akibat jilatan HPR. Masa inkubasi berkisar dari beberapa hari sampai beberapa tahun (paling sering 3-8 minggu).

Rabies di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi pada kerbau oleh Esser tahun 1884, kemudian oleh Penning pada anjing tahun 1889 dan oleh E.V. de Haan pada manusia tahun 1894. Selanjutnya selama pendudukan Jepang situasi daerah tertular Rabies tidak diketahui dengan pasti, namun setelah Perang Dunia Ke-II peta Rabies di Indonesia berubah. Secara kronologis tahun kejadian penyakit Rabies mulai di Jawa Barat (1948), Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur (1953), Sumatera Utara (1956), Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara (1958), Sumatera Selatan (1959), DI. Aceh (1970), Jambi dan Yogyakarta (1971), Bengkulu, DKI Jakarta dan Sulawesi Tenggara (1972), Kalimantan Timur (1974), Riau (1975), Kalimantan Tengah(1978), Kalimantan Selatan (1983) dan P. Flores (1997). Pada akhir tahun 1997, wabah Rabies muncul di Kabupaten Flores Timur, NTT sebagai akibat pemasukan secara illegal anjing dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara yang merupakan daerah endemik Rabies. Hingga tahun 2012, ada 24 provinsi di Indonesia belum bebas rabies. Penyebabnya, kesehatan hewan masih belum menjadi prioritas di daerah serta minimnya tenaga kesehatan hewan. Sebanyak sembilan daerah yang dinyatakan bebas rabies adalah Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, DKI Jakarta, Bangka Belitung, Pulau Enggano, Bengkulu, Riau, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Barat.

Di tahun 2015 kejadian Rabies di wilayah kerja Balai Veteriner Lampung masih tergolong Endemik kecuali di Kepulauan Bangka Belitung dan Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu yang telah mendapatkan pengakuan dari kementerian Pertanian melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian di tahun 2012 dan 2015. Berdasarkan data yang di himpun selama tahun 2015 adalah sebagai berikut:

rabises

Berdasarkan data diatas menggambarkan angka prevalensi untuk rabies di regional Lampung masih tinggi. Angka Prevalensi yang tinggi adalah Sumatera Selatan (60 %), Bengkulu (25 %), Lampung (4,3 %). Secara total prevalensi rabies di regional Lampung 8,23 %, hal ini seharusnya menjadi perhatian yang serius terhadap angka kejadian penyakit yang masih tinggi.

Di Indonesia sebagaimana kita ketahui dinamika ekologi yang berbeda antar wilayah sehingga diperlukan kajian yang menyeluruh dalam melakukan pemberantasan rabies dengan mempelajari genetik virus dilanjutkan dengan pemetaan diiringi dengan pemahaman ekologi HPR semoga ditemukan Model Penyebaran Penyakit Rabies di Indonesia dan kemudian dapat dilakukan intervensi terhadap penyebaran penyakit tersebut.

Dengan pendekatan Lokal Area Spesifik dengan budaya masyarakat dan diiringi dengan pembentukan kekebalan kelompok diatas 80 % maka diharapakan kejadian rabies dapat menurun.

Penulis

Drh Tri Guntoro, MP

Kepala Seksi Infovet Bvet Lampung