4 Provinsi Di Wilker BPPV Regional III “Siap Sukseskan Sumatera Bebas Rabies 2015“

sattttttuuuuDalam acara workshop dan evaluasi pemberantasan rabies yang diselenggarakan oleh Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner ( BPPV ) Regional III Lampung di hotel Amalia, Bandar Lampung 10 – 14 september 2012 yang dihadiri oleh semua BPPV ( Regional I – VIII ) dan 4 propinsi di wilayah kerja BPPV Regional III ( Lampung, Sumsel, Bangka Belitung dan Bengkulu ). Acara ini membahas lengkap mengenai upaya pembebasan rabies di Indonesia, khususnya di pulau Sumatera.

Dalam penjelasannya, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung yang diwakili oleh drh Lela menjelaskan bahwa kejadian kasus rabies di Lampung setiap tahunnya berfluktuasi. Berdasarkan evaluasi 5 tahun terakhir 2007 s/d 2012 jumlah kasus rabies pada hewan cenderung meningkat tahun 2007 (19 kasus), 2008 (23 kasus), 2009 ( 11 kasus ), 2010 (13 kasus), 2011 (8 kasus ), dan 2012 s/d bulan Juli adalah 19 kasus. Kasus tertinggi pada anjing 73,08 %, kucing 13 %, kera 9,34 % dan hewan lain (sapi ) 2,22 %. Tahun 2012 s/d juli Kasus Gigitan hewan tertular Rabies (GHTR) 285 kasus, kasus kematian pada manusia karena rabies 2 orang dan kasus rabies pada hewan 19 kasus. Ada 4 kabupaten / kota dengan yang ditemukan kasus rabies dalam 3 tahun terakhir di Lampung adalah Kota Bandar Lampung, Kab. Pesawaran, Kab. Lampung Selatan, dan Lampung Tengah.

Tabel 1 : Kejadian Rabies di Provinsi Lampung selama 10 tahun

NO

TAHUN

JENIS HEWAN

JUMLAH

Anjing

Kucing

Kera

Hewan lain

1

2002

17

7

4

0

28

2

2003

6

4

1

1

12

3

2004

10

2

2

0

14

4

2005

16

4

0

0

20

5

2006

10

1

4

0

15

6

2007

13

2

2

2

19

7

2008

19

4

0

0

23

8

2009

11

0

0

0

11

9

2010

9

4

0

0

13

10

2011

6

0

2

0

8

11

2012

16

0

2

1

19

Jumlah

133

28

17

4

182

Beberapa langkah tindakan yang dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung bekerja sama dengan dinas terkait di daerah tingkat II masing masing untuk pemberantasa rabies di Lampung meliputi :

  1. Vaksinasi masal terhadap HPR  yang dilaksanakan pada bulan Rabies rutin setiap tahunnya yaitu pada bulan september dilanjutkan dengan eliminasi anjing liar. Tahun 2012 kegiatan vaksinasi massal ditandai dengan pemasangan peneng pada HPR yang telah divaksinasi untuk memudahkan penandaan dan estimasi populasi anjing dengan jumlah vaksin yang disiapkan 31.050 dosis. Sejak tahun 2012 eliminasi tidak dilaksanakan lagi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  1. Melakukan sosialisai dan penyuluhan pada masyarakat umum dan murid-murid sekolah tentang bahaya penyakit Rabies, program pencegahan dan pemberantasan Rabies
  2. Penyebaran Poster dan Leaflet tentang Rabies

 Kendala kendala yang dihadapi dalam pemberantasan rabies meliputi lemahnya koordinasi di tingkat pengambil kebijakan, pelaksanaan pemberantasan rabies di tingkat regional, provinsi, kabupaten/kota maupun di tingkat lapangan belum terpadu (TKP4 Rabies tidak berfungsi & belum semua Kab/Kota membentuk Komisi Daerah Zoonosis, menurunnya alokasi dana, sarana dan prasarana serta SDM petugas lapangan merupakan kendala utama di hampir semua Kab/Kota, dan belum adanya akurasi data populasi HPR terutama Anjing.

Provinsi Bangka Belitung memiliki 2 kepulauan ( Bangka dan Belitung ) dengan 7 kabupaten / kota. Provinsi Bangka Belitung memiliki daya tarik tersendiri untuk pariwisata terlebih diperkenalkan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Banyak cara yang sudah dilakukan pemerintah provinsi  Bangka Belitung untuk mempromosikan daerahnya  salah satunya memiliki program pengendalian 3 prioritas penyakit hewan menular strategis ( Flu burung, brucellosis, dan rabies ). Menurut drh Judnaidi ( Dinas Peternakan Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Provinsi Bangka Belitung ), sampai sekarang masih merupakan daerah bebas rabies secara historis dan ditagetkan bebas secara laboratories pada 2012 dan mendapatkan status bebas pada 2013.

Beberapa langkah yang dilakukan untuk bebas rabies 2013 meliputi :

  1. Pembebasan secara formal wilayah Babel yang secara historis bebas rabies dengan surveilans terstruktur;
  1.  Pengawasan lalu lintas HPR yang ketat;
  2.  KIE
  3.  Kontrol populasi ( Eliminasi HPR Liar ), pada 2012 sebanyak 4.025 ekor dari total estimasi populasi HPR 64.922 ekor.
  4.  Dukungan peraturan daerah ( Perda ) untuk memproteksi wilayahnya dari masuknya HPR dari luar wilayah melalui Surat Edaran Gubernur Babel Nomor. 524.3/020/DPPP-NAK/2010: Mengenai Upaya Pencegahan, Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
  5. Peningkatan sistem peringkatan dini (early detection, reporting dan response)

Di Sumatera selatan dengan 15 kabupaten / kota dengan kejadian kasus positif rabies 2007 ( 2 kasus ) , 2008 ( 2 kasus ), 2009 ( 4 kasus ), 2010 ( 5 kasus ), 2011 ( 5 kasus ), dan 2012 ( 2 kasus ). Kasus tersebut terjadi di Kota Palembang pada 2011 ( 1 kasus ), Kab. Lubuk Linggau 2007 ( 1 kasus ), Kab. Ogan Komering Ulu 2009 ( 1 kasus ) dan Kab. Muara Enim  2008 ( 2 kasus ), 2009 ( 3 kasus ), 2010 ( 5 kasus ), 2011 ( 4 kasus ), 2012 ( 2 kasus ). Menurut drh Mahmudin Bidang Keswan dan Kesmavet Disnak Sumsel, pada 2012 populasi HPR  di wilayah Sumsel  103.468 ekor, Vaksinasi 16.055 ekor, Eliminasi 3.113 ekor dan 9 kasus gigitan HPR 2 diantaranya positif Rabies.

Bagaimana menghitung populasi HPR yang akurat ?

            Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut drh Heru Susetya Ph.D pengajar Kesmavet dan Epidemiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Beliau menyampaikan materi tentang teknis penghitungan populasi HPR. Dalam paparannya, disampaikan bahwa cakupan vaksinasi ditargetkan mencapai 70% populasi HPR untuk memutus mata rantai penularan virus rabies. Sehingga untuk mencapai cakupan vaksinasi 70% adalah dengan cara mendapatkan populasi yang akurat, vaksinasi rutin ( pengulangan setiap tahun sebanyak 70% populasi ), ketersediaaan vaksin, SDM yang memenuhi, sarana dan prasarana memadai, dukungan masyarakat dan vaksinasi oral bagi HPR liar.

Gambar  drh Heru Susetya Ph.D

            Cara mendapatkan populasi yang paling akurat adalah melakukan sensus HPR secara menyeluruh, akan tetapi jika sensus sulit dilakukan maka dilakukan penghitungan berdasarkan densitas ( kepadatan ). Densitas dapat dinyatakan dalam jumlah individu per kelompok atau per satuan panjang, luas atau volume. Seiring waktu, densitas suatu populasi dapat mengalami perubahan yaitu dapat meningkat atau berkurang. Empat proses yang dapat menyebabkan perubahan densitas populasi adalah natalitas ( kelahiran baru ), mortalitas ( kematian ), imigrasi ( populasi baru yang masuk ke suatu area ) dan emigrasi ( populasi yang keluar dari suatu area ). Ukuran populasi berubah sepanjang waktu yang disebut dinamika populasi. Pertumbuhan populasi dibatasi oleh sumber daya, konsekuensinya populasi tidak tumbuh tanpa batas. Biasanya laju mortalitas akan naik dan laju pertumbuhan akan turun. Beberapa populasi akan mencapai densitas kesetimbangan di dekat daya dukung lingkungan (carrying capacity)

Selain itu, Tingkat kesuburan (fecundity rate) dihitung berdasarkan jumlah anak yang dilahirkan oleh seekor induk per tahun, atau jumlah anak yang dilahirkan oleh seekor induk per interval waktu ataupun interval umur. Tingkat kesuburan (fecundity rate) dihitung berdasarkan jumlah anak yang dilahirkan oleh seekor induk per tahun/per interval waktu /interval umur. Suatu populasi digolongkan sebagai a birth flow model jika populasi tersebut melakukan perkembangbiakan terus-menerus sepanjang tahun. Sedangkan  a birth pulse model, jika populasi menghasilkan seluruh individu baru setiap tahun dalam waktu yang bersamaan atau kelahiran terjadi secara musiman.

Faktor kematian dapat mengurangi kepadatan populasi. Kematian dapat disebabkan karena beberapa faktor, yaitu karena keadaan alam misalnya penyakit, pemangsaan dan kelaparan, kematian yang disebabkan karena kecelakaan, perkelahian, dan akibat aktifitas manusia. Angka kematian kasar adalah perbandingan antara jumlah kematian darI semua sebab dengan total populasi selama satu periode waktu. Biasanya angka kematian kasar dihitung untuk setiap 1000 ekor. Jika kematian lebih besar dari kelahiran maka populasi akan menurun dan sebaliknya. Keberhasilan perkembangbiakan suatu populasi dapat pula dinilai dari struktur populasi. Struktur populasi dapat dikelompokkan menurut umur atau jenis kelamin. Struktur umur adalah perbandingan jumlah individu dalam setiap kelas umur dari suatu populasi dan dapat digambarkan dalam sebuah piramida .

Skema gambaran dinamika populasi

Ada 2 macam cara perhitungan populasi yang bisa dilakukan:

  1. Metode Transek

Metode ini banyak digunakan pada penelitian satwaliar, Garis transek merupakan garis lurus suatu petak tertentu, yang di dalamnya ada seorang petugas berjalan di sepanjang garis transek dan mencatat jenis satwa yang diamati.

Gambar metode perhitungan populasi dengan metode transek.

  1. Metode Tangkap – Tandai – Tangkap kembali ( Capture – Mark – recapture )

Metode ini  menandai misalnya dengan kalung warna atau khas dan kemudian kemudian menghitung proporsi individu yang ditandai dalam populasi. Dari jumlah anjing ditandai dan rasio diamati dari ditandai dengan anjing ditandai jumlah anjing jalanan dihitung. Penandaan dapat dilakukan selama kampanye vaksinasi. Penting untuk melakukan penandaan dan menghitung kembali dalam jangka waktu beberapa hari saja untuk meminimalkan tanda yang hilang,  gerakan anjing dan efek kematian. Baik untuk melaksanakan wilayah  0,5 – 2km persegi  dari pada melaksanakan transek. Dapat dikombinasikan dengan survei  kuesionerRT  untuk menghitung kepemilikan anjing.

                Drh Heru Susetya juga menjelaskan bahwa penghitungan anjing jugsa dapat dilakukan dengan menghitung rasio rumah tangga yang memiliki anjing : yang tidak memiliki, rasio rumah tangga yang memiliki anjing : jumlah anjing, rasio jumlah anjing : penduduk, densitas ( ekor/km2 ), dan jumlah anjing tak berpemilik. Program keberhasilan vaksinasi  juga sangat dipengaruhi oleh pemanfaatan anjing oleh pemilik seperti menjaga kebun, menjaga rumah, teman seperjalanan, kesayangan, berburu, prestise ( adat ), atau konsumsi.

            Pelayanan yang dilakukan oleh Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner ( BPPV ) Regional III Lampung adalah melakukan surveillance aktif ke wilayah kerja dengan melakukan pengujian titer antibody pre vaksinasi dan post vaksinasi, bekerja sama dalam proses eliminasi untuk pengambilan hippocampus anjing, serta berkoordinasi dengan dinas kesehatan tentang recording kasus gigitan anjing atau kematian manusia karena gigitan anjing. Pelayanan pasif dilakukan dengan menerima sample otak anjing dari Dinas terkait berhubungan dengan kasus gugutan HPR untuk dilakukan pengujian di laboratorium dengan metode Seller, FAT, ataupun PCR. [drh Joko Susilo]

BERITA TERKINI