Kategori
Berita Terbaru

Anthrax: Tidak Perlu Resah dan Tetap Waspada

anthraxAnthrax atau penyakit radang limpa merupakan salah satu penyakit zoonosis di Indonesia yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini selalu muncul setiap tahun serta menyebabkan kerugian yang besar bagi peternak. Istilah anthrax berarti arang, sebab penyakit ini menimbulkan gejala pada manusia berupa bisul kehitaman yang jika pecah akan menghasilkan semacam borok (bubonic palque). Dahulu, penyakit ini dikatakan sebagai penyakit kutukan karena menyerang orang yang telah disisihkan di masyarakat, bahkan bangsa Mesir pun pernah terkena panyakit ini kira-kira 4000 tahun sebelum masehi. Anthrax ditemukan oleh Heinrich Hermann Robert Koch pada tahun 1877, sedangkan Louis Pasteur adalah ilmuwan pertama penemu vaksin yang efektif untuk Anthrax pada tahun 1881.

Etiologi

Penyebab

Anthrax disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang merupakan bakteri gram positif non motil dan berspora. Di bawah mikroskop tampak terlihat seperti barisan batang panjang dengan ujung-ujungnya siku, sementara di dalam tubuh inang, Bacillus anthracis tidak terlihat rantai panjang, biasanya tersusun secara tunggal atau pendek serta melindungi dirinya dalam kapsul, dan akan membentuk spora segera setelah berhubungan dengan udara bebas karena spora diketahui dapat bertahan hidup bertahun-tahun di dalam tanah yang cocok dan bisa menjadi sumber penularan pada hewan dan manusia.

Oleh karena itu, bangkai hewan yang positif terkena anthrax atau mati dengan gejala anthrax tidak diperbolehkan dibedah untuk menutup peluang bakteri anthrax bersinggungan dengan udara. Hewan yang mati akibat anthrax harus langsung dikubur atau dibakar. Semua peralatan kerja yang pernah bersentuhan dengan hewan sakit harus direbus dengan air mendidih minimal selama 20 menit. Bacillus anthracis tidak begitu tahan terhadap suhu tinggi dan berbagai desinfektan dalam bentuk vegetatif.

Epidemiologi

Hewan Rentan

Semua hewan berdarah panas dapat terserang penyakit anthrax yang tingkat kepekaannya akan berbeda di antara spesies. Domba adalah yang paling peka, diikuti sapi, dan kuda. Sedangkan kerbau dan babi tergolong lebih tahan terhadap serangan anthrax. Penyakit ini bahkan pernah menyerang burung unta di daerah Purwakarta (Jawa Barat). Masa inkubasi bervariasi antara 3 – 5 hari.Dalam dunia kedokteran hewan anthrax sebenarnya merupakan penyakit yang sumber penularannya terdapat di tanah, hewan sering terkena akibat memakan sesuatu yang terdapat di tanah yang tercemar oleh spora Bacillus anthracis (daerah endemic).

Epidemiologi

Hewan Rentan

Semua hewan berdarah panas dapat terserang penyakit anthrax yang tingkat kepekaannya akan berbeda di antara spesies. Domba adalah yang paling peka, diikuti sapi, dan kuda. Sedangkan kerbau dan babi tergolong lebih tahan terhadap serangan anthrax. Penyakit ini bahkan pernah menyerang burung unta di daerah Purwakarta (Jawa Barat). Masa inkubasi bervariasi antara 3 – 5 hari.

Dalam dunia kedokteran hewan anthrax sebenarnya merupakan penyakit yang sumber penularannya terdapat di tanah, hewan sering terkena akibat memakan sesuatu yang terdapat di tanah yang tercemar oleh spora Bacillus anthracis (daerah endemic).

Cara Penularan
Pada Hewan

Anthrax tidak menyebar langsung dari salah satu hewan terinfeksi ke hewan lain, tetapi biasanya masuk ke dalam tubuh hewan bersama makanan, alat-alat kandang, dan atau tanah (rumput) yang dianggap paling penting dan berbahaya. Spora yang ada di dalam tanah dapat naik ke permukaan karena pengolahan tanah dan selanjutnya spora tersebut hinggap di rumput yang kemudian termakan oleh hewan (ternak).

Spora juga dapat masuk ke dalam kulit apabila hewan berada dan tidur di tempat yang tercemar. Spora akan tumbuh dan berkembang dalam jaringan tubuh menyebar keseluruh tubuh mengikuti aliran darah. Hewan penderita anthrax dapat menulari ternak lain melalui cairan (eksudat) yang keluar dari tubuhnya.

Pada Manusia

Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Mengkonsumsi produk hewan yang terkena anthrax atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja di pabrik wool atau kulit binatang (Woolsorters disease). Oleh karena itu ada empat tipe ántrax pada manusia, yaitu anthrax kulit, ántrax pencernaan/anthrax usus, anthrax pernapasan/anthrax paru-paru dan anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak.

Faktor Resiko

Siklus dari infeksi di pengaruhi oleh beberapa hal, yaitu faktor terjadinya sporulasi dan germinasi, seperti PH, suhu lingkungan aktivitas air, kandungan mineral. Faktor lain yaitu faktor yang berhubungan dengan musim seperti aktivitas merumput, kesehatan dari inang, populasi serangga dan aktivitas manusia.

Identifikasi Penyakit

Penularan dan Gejala Klinis

Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Mengonsumsi produk hewan yang kena anthrax atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja di pabrik wool atau kulit binatang. Karenanya ada empat tipe anthrax, yaitu anthrax kulit, pencernaan/anthrax usus, pernapasan/anthrax paru dan anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak.

Masa inkubasi anthrax kulit sekitar 2 – 5 hari, walaupun masa inkubasi dapat mencapai 60 hari. Tingkat kematian manusia akibat Anthrax mencapai 18%. Penyakit Anthrax memang layak ditakuti karena sangat mematikan. Sapi, domba atau kambing yang terserang, akan mengalami kematian dalam hitungan jam. Kemampuan membunuh yang sangat cepat ini justru ada baiknya, karena penularan penyakit anthrak sangat lambat dan tak meluas (endemik, sporadik).

Tanda-tanda Anthrax pada hewan
  • Demam suhu 41 – 42o C, gelisah, lemah, paha gemetar, nafsu makan hilang, kejang dan rubuh (akut)
  • Keluar darah dari dubur, mulut dan lubang hidung. Darah berwarna merah tua seperti kecap atau ter, agak berbau amis dan busuk serta sulit membeku.
  • Pembengkakan di daerah leher, dada dan sisi lambung, pinggang dan alat kelamin luar
  • Kematian dalam waktu singkat tanpa disertai tanda-tanda sebelumnya (perakut).
Tanda-tanda Anthrax pada manusia
  • Bentuk kulit Bersifat lokal, timbul bungkul merah pucat (karbunkel) yang berkembang menjadi kehitaman dengan cairan bening berwarna merah. Bungkul dapat pecah (koreng) dan akan muncul bungkul lain disekitarnya. Jaringan disekitar bungkul tegang, bengkak dengan warna merah tua pada kulit sekitar, kematian (septikemia)
  • Bentuk pernapasan Sesak nafas di daerah dada, batuk, demam (tidak terlalu tinggi), kematian akibat sesak nafas (dyspnoe disertai sianosis)
  • Bentuk pencernaan Nyeri dibagian perut, demam, menimbulkan kematian (septikemia)

Pada manusia awalnya kulit gatal, kemudian melepuh yang jika pecah membentuk keropeng hitam di tengahnya. Di sekitar keropeng bengkak dan nyeri. Pada anthrax yang masuk tubuh dalam 24 jam sudah tampak tanda demam. Mual, muntah darah pada anthrax usus, batuk, sesak napas pada anthrax paru, sakit kepala dan kejang pada anthrax otak.

Penanganan Penyakit
Pencegahan
Pada manusia
  • Tidak memakan daging tercemar Anthrax.
  • Tidak menyembelih hewan yang sakit, atau jatuh karena sakit.
  • Tidak memanfaatkan atau bersentuhan dengan daging, jerohan, kulit, tanduk tulang, dan rambut atau bagian tubuh lainnya dari hewan/ternak penderita Anthrax.
  • Mencuci bersih bahan makanan sebelum dimasak.
  • Memasak daging dan jerohan sampai matang, karena spora dapat dimusnahkan pada suhu 90 derajat C selama 45 menit atau 100 derajat C selama 10 menit.
  • Mencuci tangan sebelum makan.
Pada Hewan Sehat
  • Semua hewan ternak (sapi, kambing, domba, kerbau, babi, kuda) harus di vaksin secara teratur 2 kali dalam setahun.
  • Ternak yang sehat, tapi tinggal sekelompok dengan yang sakit diberi suntikan serum atau antibiotik, dan setelah kurang lebih 5 hari baru divaksin.
  • Kebersihan dan kesehatan kandang selalu di jaga dengan membersihkan kotoran dan memberikan desinfectan.
  • Hewan ternak diberi pakan yang tidak bercampur dengan tanah
  • Bagi hewan ternak besar (kerbau dan sapi) jangan terlalu dipaksakan bekerja berat, karena keletihan dan kurang makan dapat mempermudah berjangkitnya wabah anthrax.
  • Melaksanakan prosedur penyembelihan ternak dengan benar.
    • Ternak dipotong di RPH.
    • Ternak diistirahatkan minimal 12 jam sebelum penyembelihan.
    • Dilaksanakan pemeriksaan kesehatan hewan (pemeriksaan ante mortem)
    • Dilaksanakan penyembelihan sesuai dengan tata cara Islam dibawah pengawasan petugas yang berwenang.
    • Dilaksanakan pemeriksaan daging (pemeriksaan post mortem)
    • Pemberian cap/stempel pada daging sebagai tanda bukti sehat dan layak dikonsumsi.
    • Setiap ternak atau Bahan Asal Hewan (BAH) yang diperjualbelikan harus disertai Surat Keterangan Kesehatan Hewan dan BAH dari daerah asal ternak.
Pada Hewan Sakit
  • Dipisahkan dari ternak yang sehat.
  • Pengobatan dengan serum dan atau kombinasi antibiotik (penicillium, Streptomycin, Oxitetracyclin, Chloramphenicol) atau terapi (Sulametazine, Sulafanilamide, Sulafapyridin dan lain-lain).
  • Melakukan vaksinasi setelah sembuh.
Pengobatan

Anthrax stadium awal pada kuda dan sapi dapat diobati dengan procain penicilin G dilarutkan dalam air suling steril dengan dosis untuk hewan besar : 6.000 – 20.000 IU/kg berat badan, IM setiap hari. Streptomycin sebanyak 10 gram (untuk hewan besar seberat 400 – 600 kg) setiap hari yang diberikan dalam dua dosis secara intramuskuler dianggap lebih efektif dari penicillin. Antibiotika lain yang dapat dipakai antara lain: chloramphanicol, erythromycin, atau sulfonamine (sulfamethazine, sulfanilamide, sulfapyridine, sulfathiazol), tetapi obat-obat tersebut kurang ampuh dibandingkan dari penicillin atau tetracycline.

Penisilin merupakan obat antibiotika yang paling ampuh untuk penderita antraks yang alami dan jarang resisten. Pengobatan penderita/ tersangka antraks, tergantung dari tipe atau gejala klinisnya yaitu dilakukan penyuntikan antiserum dengan dosis kuratif, dapat juga dikombinasikan dengan pemberian antibiotika (penicillin atau tetracycline).

Setiap kasus kejadian atau dugaan anthrax harus dilaporkan kepada Dokter Hewan berwenang dan Dinas Peternakan setempat, karena dampaknya bisa sangat luas apabila dilakukan penanganan yang salah. Pengobatan dapat menggunakan penisilin, tetrasiklin, dan obat-obatan sulfa. Apabila pengaruh obat sudah hilang, vaksinasi baru bisa dilakukan sebab pengobatan dapat mematikan spora vaksin. Untuk memutus penularan, bangkai ternak dan semua material yang diduga tercemar (karena pernah bersinggungan dengan hewan sakit) harus dimusnahkan (dibakar) dan dikubur dalam-dalam di bawah pengawasan Dokter Hewan atau petugas peternakan berwenang. Bagian atas dari lubang kubur dilapisi batu gamping secukupnya. Area penguburan diberi tanda supaya semua hewan di area sekitar menjauhi lokasi penguburan.

Untuk Regional Lampung (Kep. Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung) pernah terjadi tapi itu sudah cukup lama yakni di Teluk Betung, Lampung tahun 1884. Warga masyarakat tidak perlu resah tetapi diperlukan kewaspadaan yang extra hati-hati. Karena sebagaimana telah dipaparkan diatas bakteri ini dapat dengan mudah mati dengan lingkungan yang sesuai. Balai Veteriner Lampung di tahun ini akan mengadakan kegiatan surveilans dengan metode Risk Based untuk mendeteksi Antraks di berbagai lokasi yang dijadikan lokasi yang berisiko dibanding dengan daerah lainnya contohnya tempat pengepul ternak atau pasar ternak.

Dari Berbagai Sumber