Anti Microbial Resisten ?

Agenda global yang tertuang dalam kerangka Global Health Security Agenda, mengisyaratkan bahwa Resistensi Antimikroba merupakan salah satu paket utama dari komitmen global yang harus menjadi perhatian untuk dapat direspon ke dalam Global Action Plan.

Untuk itu, WHO, IE, dan FAO telah menyepakati untuk bersama-sama membangun komitmen secara global dalam memerangi laju resistensi antimikroba. Hal ini tertuang dalam rekomendasi Global Action Plan, dimana setiap Negara anggota akan membangun rencana aksi nasional yang ditargetkan di tahun 2017, dengan memfokuskan rencana aksi terhadap 5 (lima) tujuan strategik, yaitu: 1) meningkatkan kepedulian dan pemahaman terkait resistensi antimikroba; 2) memperkuat pengetahuan melalui surveillans dan penelitian; 3) mengurangi insidensi infeksi; 4) mengoptimalkan penggunaan antimicrobial secara bijaksana; dan 5) menjamin keberlangsungan sumber daya nasional dalam menghambat laju resistensi antimikroba.

Saat ini, dunia sedang dalam masa kewaspadaan kritis di bidang kesehatan, dimana dalam 20 tahun terakhir laju perkembangan insidensi kejadian resistensi bakteria tidak sebanding dengan perkembangan penemuan obat antimikroba baru, dan untuk itu konservasi terhadap penggunaan antimikroba yang bijak baik di sektor kesehatan manusia dan kesehatan hewan merupakan titik kritis yang harus diperhatikan untuk kita dapat memperlambat laju perkembangan resistensi antimikroba. Tentu, pilihannya tidak lain adalah dengan bekerja bersama secara terintegrasi di kedua sektor (kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan) yang diterjemahkan manjadi langkah nyata, Jelas Muladno (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan).

Penelitian kaitanya tentang AMR masih sangat terbatas hanya beberapa research yang tersedia. Balai Veteriner mampu untuk melakukan kajian-kajian terbatas kaitannya AMR diantaranya dengan mentrace back/ mentelusur sampel positif pengujian Salmonella, E Coli atau bakteri lainnya untuk kemudian di cek kaitanya dengan resistensi terhadap antibiotik bisa dari pakannya yang diberi imbuhan Growth Promotor. Dan bisa dikaitkan dengan resistensi pada manusia dan lingkungan.

Kita mengetahui bahwasanya obat hewan dan manusia sangat mudah didapatkan tanpa resep dokter. Dan banyak yang menggunakan antibiotik tidak tuntas, hal ini mengakibatkan resistensi terhadap antibiotik yang berdampak terhadap kurang manjurnya pengobatan yang dilakukan baik di sektor peternakan ataupun kesehatan manusia. Dan hal yang terpenting adalah penggunaan antibiotik yang bijak dapat memberikan dampak positif terhadap terapi dan masa depan.

drh Tri Guntoro, MP

Kasi Informasi Veteriner Balai Veteriner Lampung

BERITA TERKINI