Kategori
Artikel Berita Terbaru

Ascaridia galli setia menemani ayam kampung dan itik

cacong cacing

Beberapa bulan, kami melakukan survei dan kunjungan ke kelompok ternak ayam kampung di Sekincau, Lampung barat. Kedatangan kami didasarkan kejadian ND pada ayam kampung yang telah mematikan sekitar 30% dari total populasi 250 ekor. Kelompok ternak tersebut   mengeluhkan sisa ayamnya tidak lahi bertelur walaupun tidak lagi terjadi kematian. Penasaran dengan laporan tersebut, maka kami meminta  2 ekor ayam yang masih sehat untuk kami bedah. Dari hasil nekropsi kami temukan cacing giling menyebar di seluruh usus kecil. Tanda tanda lain yang mengarah ke gejala penyakit lain tidak kami temukan, hanya adanya atropi indung telur.

Kasus serupa kami jumpai di kelompok peternak itik di Bengkulu selatan. Itik yang dikandangkan dibelakang rumah yang berada di saluran air dan rawa yang tersedia banyak pakan alami seperti keong / siput serta ikan kecil kecil. Kelompok bantuan tersebut mengalami kematian itiknya lebih dari 50% dari total populasi lebih dari 500 ekor. Gejala penyakit menunjukkan gejala kekurusan, kelemahan dan kelumpuhan. Dari bedah bangkai yang kami lakukan tidak menunjukkan gejala menciri ke arah penyakit bakterial, viral ataupun mikal. Kami menemukan cacing Ascaridia galli pada usus halusnya dan cacing yang ada pada trachea.

cacing lagi lagi copy

Ascaridia galli , cacing gilig ini paling sering ditemukan pada ayam kampung dan itik yang dipelihara secara ekstensif serta menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi.  Cacing gilig ini biasanya menimbulkan kerusakan yang parah pada fase jaringan dari stadium perkembangan larva. Migrasi terjadi pada lapisan mukosa usus dan menyebabkan perdarahan ( enteritis hemoraghica ).  Jika lesi tersebut bersifat parah akan mengalami gangguan proses pencernakan dan mengganggu proses penyerapan nutrisi sehingga dapat mengganggu pertumbuhan ataupun produksi.

cacing lagi copy

Infeksi  Ascaridia galli dapat menimbulkan penurunan berat badan yang berhubungan langsung dengan jumlah cacing yang terdapat dalam tubuh. Status nutrisi juga penting, ayam yang diberi protein tinggi lebih tinggi penurunan berat badannya dibanding dengan diberi pakan dengan protein lebih rendah. Infeksi  Ascaridia galli dalam jumlah besar akan kehilangan darah , mengalami penurunan kadar gula darah, peningkatan asam urat, atrofi timus, gangguan pertumbuhan dan peningkatan kematian. Pada infeksi sangat berat akan terjadi penyumbatan usus. Yang perlu menjadi catatan penting  bahwa infeksi Ascaridia galli mempunyai efek sinergik / menimbulkan infeksi sekunder seperti koksidiosis dan infectious bronchitis bahkan disinyalir dapat membawa reovirus dan menularkan virus tersebut.

Siklus hidup Ascaridia galli tidak membutuhkan hospes perantara. Penularan cacing terjadi melalui pakan, air minum, liter, lingkungan atau bahan lain yang tercemar telur cacing Ascaridia galli. Ayam muda lebih sensitif terjadi kerusakan usus yang ditimbulkan  Ascaridia galli. Pada  umur 2 – 3 bulan, ayam akan membentuk kekebalan berperantara seluler terhadap cacing tersebut. Ayam umur 3 bulan lebih menunjukkan adanya resistesi terhadap Ascaridia galli. Ayam yang diberi pakan dengan kadar Vitamin A, B kompleks, kalsium dan lisin yang tinggi akan meningkatkan resistensi terhadap infeksi Ascaridia galli.

Obat cacing yang paling sering digunakan untuk membasmi Ascaridia galli adalah piperazin, higromisin B, dan kumafos melalui pakan untuk mengendalikan cacing Ascaridia galli. Piperazin dapat diberikan pada ayam lewat pakan dengan dosis 0,2% – 0.4%, melalui air minum 0,1% – 0.2%, atau untuk sekali pengobatan dengan dosis 50 – 100 mg / ayam. Pengobatan akan efektif jika piperazin kontak dengan cacing dengan konsentrasi tinggi dan dikonsumsi ayam dalam waktu beberapa jam. Efek obat akan muncul ditandai dengan keluarnya cacing dari efek peristaltik usus, cacing keluar dalam kondisi hidup ataupun mati. Jika infeksinya bersamaan dengan Heterakis sp. maka pengobatan membutuhkan kombinasi piperazin dan fenotiazin untuk sekali pengobatan.

Pengendalian dapat dilakukan dengan perbaikan manajemen, sanitasi kandang dan lingkungan, pembasmian lalat ( sebagai vektor mekanik ), dan desinfeksi ketat.  Pengobatan untuk pencegahan pada pullet diberikan umur 5 minggu, diulang setiap 4 minggu sampai umur 21 minggu. Pemberian vitamin A bermanfaat untuk membantu penyembuhan mukosa usus yang mengalami kerusakan.

Penulis: Drh Joko Susilo (Medik Veteriner Balai Veteriner Lampung)

( Majalah Infovet Agustus 2013 )