Kategori
Artikel

Surveilans: PMK di daerah yang beresiko

PMK atau yang secara internasional dikenal sebagai foot-and-mouth disease merupakan penyakit hewan yang paling ditakuti oleh semua negara di dunia, karena sangat cepat menular dan menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat luar biasa besarnya. Seluruhnya ada 15 jenis penyakit hewan menular berbahaya, yang secara ekonomis sangat merugikan, yang dimasukkan dalam daftar A oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties). Salah satu penyakit tersebut adalah PMK.

saee2

Telah dilakukan surveilans berbasis resiko PMK di Kabupaten Banyu Asin, Sumatera Selatan. Kabupaten ini dipilih dikarenakan memiliki populasi diatas 5000 dan berdekatan dengan bandara internasional Sumatera Selatan. Swill feeding menjadi kriteria dalam penentuan lokasi sampling dan dilokasi ini terkadang menggunakan pakan sisa walaupun yang pokok adalah pakan olahan.

Pengujian yang dilakukan oleh Pusvetma dengan metode Elisa NSP untuk mendeteksi antibodi terhadap protein non struktural PMK dengan hasil negatif ( babi, 37 dan sapi, 10). Dari gejala klinis pada babi yang nampak sakit tidak ada gejala yang menunjukkan PMK seperti tertera di foto diatas.

Tentunya surveilans partisipatif tetap dibutuhkan oleh petugas lapangan melalui respon dini dengan menggunakan sistem pelaporan yang terintegrasi yakni Isikhnas.

 

drh Tri Guntoro, MP

Kasi Infovet Balai Veteriner Lampung

 

Kategori
Berita Terbaru Lelang

Pengumuman Lelang Balai Veteriner Lampung 2017

Balai Veteriner Lampung akan melakukan lelang via LPSE Kementerian Pertanian yang akan mulai diumumkan pada tanggal 14 Desember 2016. Berikut dapat di unduh surat pengumuman dan paket yang akan di Lelangkan.

pengumuman Lelang Bahan Hog Cholera

Pengumuman Lelang Bahan Pembebasan Rabies

Pengumuman Lelang Bahan Uji Rabies

Pengumuman Lelang Bahan Wabah Penyakit Hewan

Pegumuman Lelang Bahan Penyakit Hewan UPT

Kategori
Berita Terbaru Download

Materi Pertemuan Verifikasi dan Validasi Gangrep

Terlampir Materi Pertemuan Verifikasi dan Validasi Gangrep yang dilaksanakan di the 7th Hotel Lampung.

 

download

Kategori
Berita Terbaru

Peningkatan Kewaspadaan dan Pengendalian Penyakit Avian Influenza

Berdasarkan surat edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan nomor: 04041/PK.310/F111/2016 sebagai berikut:

Menindak-lanjuti informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa sejak November 2016 hingga beberapa bulan ke depan diperkirakan akan terjadi perubahan cuaca ekstrim dan tidak menentu, kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada menurunnya kondisi tubuh unggas dan meningkatnya kasus berbagai penyakit menular pada unggas, termasuk Avian Influenza (AI).

Guna mengantisipasi kemungkinan resiko tersebut dan meminimalisir kerugian ekonomi peternak unggas dan ancaman zoonosis bagi kesehatan masyarakat, maka diinstruksikan kepada seluruh jajaran kesehatan hewan di lapangan seluruh indonesia agar meningkatkan tindakan pelayanan kesehatan hewan antara lain sebagai berikut :

  1. Meningkatkan penyuluhan dan himbauan kepada masyarakat dan peternak unggas agar segera melapor kepada petugas kesehatan hewan terdekat bila menemukan adanya unggas sakit atau mati mendadak dengan menerapkan i-SIKHNAS (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional Terintegrasi)
  2. Segera merespon laporan masyarakat dengan melakukan tindakan 3 Cepat (Deteksi cepat menggunakan uji cepat, Lapor cepat mengginakan i-SIKHNAS/SMS Gateway dan Respon cepat tindakan pengendalian penyakit sesuai SOP)
  3. Meningkatkan pembinaan dan pendampingan peternak untuk menerapkan tindakan Biosekuriti guna mencegah masuknya kuman penyakit ke dalam suatu peternakan unggas. Pada peternakan unggas komersial skala kecil dan menengah dengan menerapkan Biosekuriti 3 Zona sebagai model percontohan biosekuriti sederhana, hemat, praktisi dan efektif.
  4. Meningkatkan pembinaan dan pendampingan peternak untuk menerapkan vaksinasi AI pada unggas komersial terutama pada wilayah risiko tinggi AI dengan menerapkan prinsip Vaksinasi AI 3 Tepat (Tepat vaksin, Tepat program ulangan dan Tepat tekhnik vaksinasi). Vaksinasi AI pada itik, dianjurkan menggunakan Vaksin Subtipe H5N1 clade 2.3.2. Vaksinasi pada unggas ayam petelur agar menggunakan vaksin AI yang menggunakan clade 2.1.3 atau clade 2.3.2 atau vaksin AI kombinasi clade 2.1.3 dan clade 2.3.2 produksi normal.
  5. Meningkatkan pembinaan penerapan sanitasi pada sepanjang rantai pemasaran unggas guna memutus rantai penyebaran virus dan meminimalisir risiko penularan ke masyarakat umum.
  6. Menghimbau kepada warga masyarakat agar membiasakan menerapakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), antara lain selalu menggunakan masker saat menangani unggas hidup/mati dan sesudahnya mencuci kaki dan tangan dengan air dan sabun agar tercegah dari penularan Flu Burung.
  7. Balai Besar Veteriner (BBV) dan Balai Veteriner (BV) agar meningkatkan kegiatan surveilans dan investigasi penyakit unggas bekerjasama dengan jajaran kesehatan hewan Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota di wilayah kerjanya. Kegiatan Influenza Virus Monitoring (IVM) online harus lebih ditingkatkan dan bila terdapat kasus Suspek atau positif Flu Burung pada manusia agar melakukan investigasi terpadu dengan jajaran kesehatan manusia.
  8. Guna lebih terjaminnya bibit unggas yang sehat dan bebas AI, maka dalam pengadaan Anak Ayam (Day Old Chick/D.O.C) dihimbau berasal dari Kompartemen Breeding Farm yang telah memiliki Sertifikat Bebas AI. Diinformasikan bahwa sampai dengan januari 2016 telah diterbitkan Keputusan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan tentang Perusahaan Peternakan Unggas yang telah memperoleh Sertifikat Kompartemen Bebas AI.
Kategori
Artikel

Indonesia: salah satu ‘hotspot’ zoonosis di Asia Tenggara?

Indonesia terletak di Asia Tenggara yang dianggap sebagai salah satu ’wilayah panas’ di dunia (global hotspot) dari penyakit-penyakit menular baru muncul (emerging infectious diseases) dan yang muncul kembali (re-emerging infectious diseases), termasuk yang berpotensi menimbulkan pandemi (lihat Gambar 1). Penyakit-penyakit menular tersebut memiliki implikasi luar biasa hebatnya terhadap kesehatan masyarakat dan ekonomi suatu negara. Seperti flu burung H5N1 yang berdampak ekonomi sangat merugikan bagi industri perunggasan.

selengkapnya silahkan download….

download

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Kategori
Berita Terbaru

Indonesia sebagai Hotspot Penyakit Menular Baru

Sebanyak 1.415 mikroorganisme penyebab penyakit pada manuasia telah teridentifikasi, yang terdiri dari 217 virus dan prion, 538 bakteri dan riketsia, 307 cendawan (fungi), 66 protozoa, dan 287 cacing. Dan dari 1415 mikroorganisme tersebut, 868 (61,3%) mikroorganisme bersifat zoonotik.

 indonesia2

Dan sebanyak 175 dari 1415 (12,4%) mikroorganisme tersebut terkait penyakit menular baru (EID) dan yang muncul kembali (REID). Dari 175 mikroorganisme EID/ REID, 132 (75%) bersumber pada hewan atau bersifat zoonotik (Taylor et al., 2001).

indonesia3

Dapat dilihat dari gambaran peranan vektor terhadap terjadi penyakit baru atau penyakit yang muncul kembali. Oleh karenanya diperlukan penguatan kapasitas terhadap Analisa Risiko dan pengidentifikasian terhadap vektor terutama terhadap peluang masuknya hewan atau produk asal hewan dari negara yang memiliki kecenderungan terhadap penularan penyakit.

Dari berbagai sumber.