Awas!!!!! Alih Fungsi Betina Produktif Menjadi Produksi Daging

betinaSampai saat ini bisnis sapi potong susah diprediksi,  banyak pengamat yang salah memberikan prediksinnya. Ternyata puncak harga sapi  potong lokal pada lebaran haji tahun kemarin, hingga saat ini tetap  berjaya  tidak terpengaruh dengan rencana membanjirnya sapi import dari Australia. Hal ini diperkuat dengan fakta di lapangan, harga karkas yang tetap tinggi pada kisaran Rp. 80.000,00 / kg dan harga daging di kisaran harga Rp. 100.000,00 / kg. Beberapa shipment sapi import sudah masuk ke seluruh feedlot  di Lampung, namun hal ini tidak memberi pengaruh harga sapi lokal di Lampung. Harga sapi lokal jantan untuk penggemukan ( bakalan ) dengan berat 250 –  325 kg masih bertengger di angka Rp. 40.000,00 / kg berat hidup. Sapi dengan berat  di atas berat  tersebut harganya Rp. 38.000 – Rp. 40.000,00 /kg. Sapi  bakalan simetal dan limousin harganya  lebih tinggi Rp.1000,00 / kg dibanding dengan sapi Po. Sapi  jantan Po siap potong di kandang penggemukan saat ini dijual dengan harga Rp.38.000,00 di Lampung.

            “ Sapi import khusus untuk RPH bersertifikat Animal Welfare dari MLA, sapi lokal milik para jagal tradisional ataupun TPH perorangan “. Satu kunci tersebut menjawab keraguan para pengusaha ternak yang memiliki modal untuk tetap meningkatkan kapasitas kandang penggemukan mereka.  Berpusat di Lampung Selatan dan Lampung  tengah, penggemukan sapi lokal ( sapi box ) menjamur. Ketersediaan pakan alternatif yang murah dan mudah didapat, dimanfaatkan untuk penggemukan sapi potong. Pasar ( konsumennya ) bukan main main, seluruh Kota di Sumatera membutuhkan sapi lokal dari Lampung bahkan Jabodetabek dan Sukabumi, Jabar juga banyak mengambil sapi siap potong dari Lampung. Anehnya, sapi bakalan yang dibeli dari Jawa Tengah dan Jawa timur untuk digemukkan lagi di Lampung dan akhirnya dikembalikan lagi ke Pulau Jawa dengan tetap profitable.

            Gambaran Lumbung sapi PO di Lampung Selatan

            Ada puluhan bahkan ratusan penggemukan sapi lokal dari populasi puluhan ekor hingga ribuan ekor yang ada di Lampung. Di Lampung Tengah, kebanyakan memelihara sapi simetal atau limousin yang banyak didatangkan dari Jawa. Untuk Lampung selatan, sapi simetal dan limousin berimbang jumlahnya dengan sapi Po. Hal ini mengingat Lampung Selatan adalah lumbung ( basis ) sapi Po, terutama di kecamatan Tanjung Bintang dan Kecamatan Tanjung Sari, Lampung Selatan.  Lamsel adalah satu-satunya kabupaten di Provinsi Lampung yang menjadi sentra pembibitan sapi PO. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan terus berupaya menjadikan wilayah itu sebagai sentra pembibitan sapi peranakan ongole (PO) pada 2014. Salah satunya dengan memaksimalkan program pengembangan ternak sapi PO di Desa Wawasan, Kecamatan Tanjungsari.

            Potensi pakan yang melimpah dimanfaatkan para peternak rakyat untuk memelihara sapi. Hampir semua penduduk di 2 kecamatan tersebut memiliki sapi lebih dari 3 ekor. Sapi diangon pada padang rumput di perkebunan karet pada pagi sampai dengan sore hari sambil mereka bercocok tanam. Pada malam hari sapi diberikan pakan tambahan dengan rumput dari  sawah / kebun petani. Sapi betina dikawinkan secara alami dengan sesama Po ataupun dilakukan IB dengan straw sapi PO. Di daerah ini, perkembang biakan sapi Po sangatlah pesat. Kepemilikan sapi yang cukup banyak ini sangat mendukung perekonomian masyarakat. Untuk biaya sekolah atau kebutuhan lainnya, masyarakat cukup menjual anak anak sapinya ataupun sapi yang yelah gemuk. Tidak butuh waktu lama untuk menjual sapi mereka, karena blantik dan peternak penggemukan selalu siap menampung sapi dari peternak.

Gambaran penggemukan sapi lokal di masyarakat

            Saat ini, sapi PO jantan dengan umur 13 – 18 bulan jantan dengan berat kurang lebih 250 – 300 kg dihargai Rp.10.000.000,00 – Rp. 12.000.000,00. Harga tersebut sudah harga yang tercipta di lapangan. Petani dan peternak penggemukan sudah menganggap harga tersebut adalah harga yang saling menguntungkan. Jual beli sapi dari petani ke peternak penggemukan masih banyak didominasi dengen metode jogrok (  taksiran ), namun sebagian sudah terbiasa dengan cara timbang berat hidup. Selanjutnya di kandang penggemukan, sapi sapi tersebut diberikan vitamin dan obat cacing. Pakan yang diberikan juga sudah lebih baik dari petani. Pakan yang diberikan dengan hitungan otodidak, memanfaatkan onggok basah, kulit singkong, kulit kopi, dedak, bungkil sawit, janggel jagung dicampur dengan tetes tebu, mineral, premiks dan dilakukan fermentasi . Dengan pakan yang sangat variatif maka hasil penggemukan juga menunjukkan perbedaan. Persentase karkas yang dihasilkan dari pakan dengan komposisi onggok basah, kandungan serat tinggi, serta protein yang rendah tersebut menghasilkan karkas yang kurang tinggi, berlemak dan daging agak basah. Namun dengan pertimbangan memanfaatkan pakan alternatif secara ekonomis cukup menguntungkan dan sebagian sapi menghasilkan karkas cukup bagus.

betina2

Sapi yang digemukkan bervariasi, PO, simetal, limousin, jantan-betina, usia produktif – tua. Sapi tersebut dipelihara 4 -6 bulan penggemukan dengan pakan intensif. Kebanyakan peternak penggemukan belum menghitung detail pertumbuhan berat badan harian ( ADG ), % asupan bahan kering, ataupun FCR. Standar yang mereka pakai dengan menghitung pakan harian perekor diberikan semaksimal mungkin dengan harapan 4 -6 bulan sapi akan sangat gemuk. Kriteria gemuk menurut mereka berbeda dengan para jagal / penjual daging, terkadang sapi hanya besar dibagian perut dan gemuk berisi lemak ( bukan daging ), walhasil % karkas kurang memuaskan.

Bagaimana dengan sapi betina produktif penggemukan ?

            Dari beberapa kandang penggemukan yang didatangi oleh responden Infovet dari Lampung, ada 50% menggemukan sapi betina produktif. Sapi betina produktif tersebut biasanya PO, simetal, atau limousin yang berumur 1,5 – 5 tahun. Sapi tersebut dibeli dari petani yang butuh uang, biasanya induk dan anak, indukan produktif atau mengalami gangguan reproduksi, atau anakan yang menjadi dewasa. Nasib sapi betina di kandang  penggemukan tergantung pada kepemilikan sapi. Dari semua  sapi yang digemukkan, biasanya ada 30% betina penggemukan.

Secara umum ada 3 kelompok peternak penggemukan sapi betina. Kelompok 1: peternak yang memelihara sapi betina untuk tujuan utama breeding. Namun karena beberapa kendala reproduksi : gagal bunting, pengamatan birahi tidak optimal karena kesibukan, banyak kematian pedet, anestrus post partus dan gangguan lainya maka sapi bermasalah tesebut digemukkan untuk dijual potong. Kelompok 2:  peternak yang memiliki sapi betina  digemukkan sambil dikawinkan dalam jangka 4 – 6 bulan, jika tidak bunting maka langsung menjadi sapi yang dijual untuk dipotong. Kelompok 3: kelompok yang paling menyedihkan,  peternak yang langsung memberi pakan penggemukan tanpa dilakukan perkawinan.

Secara matematis, penggemukan sapi betina cukup menguntungkan. Hal ini didukung oleh beberapa faktor meliputi: harga beli sapi betina dari petani relatif lebih murah, sapi betina nafsu makan lebih rakus sehingga lebih cepat gemuk, menjadi alternatif ketika sapi jantan mahal atau langka, dan pangsa pasarnya cukup tinggi. Harga sapi betina PO yang sudah gemuk di peternak sekitar Lampung sekitar Rp. 34.000,00 / kg, untuk simetal dan Limousin Rp. 36.000,00 / kg berat hidup. Dengan asumsi transportasi Rp. 1000,00 /kg dan harga karkas di Jabodetabek Rp. 80.000,00 maka BEP terjadi pada karkas 45 – 47%. Sebenarnya bagi pemotong atau jagal cukup kawatir membeli sapi betina, terlebih lagi kebanyakan sapi betina penggemukan dari masyarakat hanya menghasilkan karkas 45 %.

Perlu penataan kembali sapi betina produktif

            Dalam pencanangan program PSDSK 2014, sapi betina produktif ditugaskan menjadi mesin untuk memproduksi sapi sehingga terdapat point penting untuk penyelamatan betina produktif.  Pelaksanaan dilapangan perlu ditingkatkan lagi karena selama ini masih banyak dijumpai kendala seperti; susahnya pengawasan betina produktif di RPH. Disisi lain, penjaringan / insentif betina bunting sangat signifikan hasilnya dalam memacu semangat peternak membuntingkan sapinya. Untuk kondisi saat ini, penyelamatan betina produktif  harus dibarengi dengan optimalisasi produktifitas ternak. Jika sapi sapi produktif tidak dikelola dengan baik maka bisa dipastikan akan menjadi tidak produktif. Upaya preventif jauh lebih diharapkan daripada penanganan gangguan reproduksinya. Pendampingan kepada peternak untuk manajemen breeding yang efektif  akan mengurangi jumlah sapi tidak produktif ( majir ), dan secara otomatis akan mengurangi pemotongan sapi betina. Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi Peternakan di daerah harus menggerakkan semua pegawainya untuk melakukan hal tersebut dan melakukan usaha persuasif, personal approach kepada peternak penggemukan agar sapi betinanya dijadikan pabrik pedet. Sapi betinaku, pabrik sapi bagi Indonesiaku… (dimuat di Majalah Infovet  Februari 2014  )

Drh. Joko Susilo

 Medis Veteriner  Muda, Balai Veteriner Lampung

Direktorat Kesehatan Hewan, Dirjennak Keswan

Kementrian Pertanian RI

BERITA TERKINI