Bahaya Residu Hormon Trenbolon Asetat pada Daging Sapi

 hormon

Penggunaan beberapa hormon pemicu pertumbuhan pada peternakan sapi potong ( feedlot ) di Indonesia perlu diwaspadai pengaruhnya bagi kesehatan manusia. Hormon sintesis yang digunakan untuk hewan agar  pertambahan berat badan sapi lebih cepat, dan karkas yang dihasilkan juga lebih banyak. Sifat kerjanya adalah sebagai anabolik sehingga membuat metabolismenya lebih cepat.  Hormon yang sering digunakan sebagai growth promotor antara lain: Trenbolon asetat ( TBA ), Estrogen alami, Progesteron alami, Malagestrol asetat, Zeranol, DES ( diethyl stilbestrol ).

Regulasi

Penggunaan obat hewan di berbagai negara di dunia ternyata berbeda beda. Di Uni Eropa, semua jenis pemacu pertumbuhan ( antimikrobia, beta agonis, hormon ) dilarang dipakai untuk hewan. Peraturan dillakukan secara ketat dalam rangka perlindungan terhadap kesehatan masyarakat. Di Amerika Serikat, penggunaan pemacu pertumbuhan boleh digunakan dengan memenuhi keseluruhan ketentuan meliputi:

  1. Pengawasan
  2. Pencatatan / recording
  3. Waktu henti obat ( withdrawal time ) dengan berdasarkan perhitungan MRL ( Maksimum Residue Limit )
  4. Lama pemberian
  5. Penghentian Pemberian

Berdasarkan ketentuan di Indonesia dalam Undang Undang no. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan disebutkan beberapa antibiotik dan hormon tertentu tidak boleh digunakan untuk ternak produksi. Hormon dan antibiotik yang dimaksud adalah hormon pemacu pertumbuhan dan antibiotik chlorampenicol.

Sistem Surveilans

Fokus surveilans yang dilakukan di abbatoir yang menjadi suplay change sapi import eks Australia. Sapi sapi tersebut berasal dari feedlot di Lampung, dan hanya bisa dipotong di RPH yang ditunjuk sebagai suplay change. Hormon TBA secara umum boleh dipakai di negara asal sapi Australia, namun di Indonesia dilarang. Merk pasaran hormon ini diaplikasikan dalam bentuk Implant pada subcutan telinga. Beberapa merk dagang yang ada adalah Synovex H, Synovex S, atau Synovex Plus secara signifikan meningkatkan produksi karkas.  Target surveilans lainnya adalah daging dan jeroan import yang beredar di masyarakat.

 hormon2

Dari beberapa surveilans secara fisik masih ditemukan beberapa feedlot di Lampung menggunakan hormon ini. Hormon ini memiliki masa withdrawal time 60 hari, kebanyakan sapi difeedlot masa pemeliharaan selama 90 hari  sehingga sebenarnya  aman bagi sapi sapi slaughter dengan masa pemeliharaan 90 hari. Menjadi berbahaya karena ada beberapa % sapi dari setiap shipment yang telah diimplant masuk kategori reject, salvage, potong paksa, atau illness yang dipotong sebelum 60 hari maka dipastikan daging masih mengandung hormon TBA. Disinyalir ada beberapa feedlot yang ingin mendapatkan keuntungan maksimal dengan mengaplikasikan hormon double dosis. Pemberian double dosis menyebabkan masa withdrawal time menjadi lebih panjang melebihi masa panen sapi ( 90 hari ).  Hal ini terbukti masih ditemukan  pada sapi yang telah dipotong di abbatoir, masih terdapat butiran implant TBA di subcutan telinga, atau telah melebur menjadi suspensi keputihan pada subcutan telinga.

 hormon3Bahaya yang ditimbulkan TBA pada Manusia

Pemerintah harus bertindak hati hati dan pengawasan yang ketat  dalam importasi daging sapi atau  sapi eks Australia.  Dalam aturan codex internasional  TBA masih diperbolehkan  2 ppb ( part per billion ) pada daging sapi dan 10 ppb pada hati sapi. Konsumsi daging yang mengadung residu TBA secara terus menerus dapat menyebabkan:

  1. Bersifat carsinogenik ( kanker rahim, kanker payudara, kanker prostat )
  2. Bahaya pada anak laki laki yang mengkonsumsi secara terus menerus menyebabkan peningkatan kadar testosteron, sehingga cepat dewasa kelamin dan tanda tanda sekunder cepat terlihat
  3. Teratogenik  ( menyebabkan kelainan pada embrio / cacat pada bayi )
  4. Mutagenic
  5. Perubahan perilaku seksual menyimpang ( Gay, Lesbian, feminin pada lelaki, atau tomboy pada perempuan ).
  6. Mempengaruhi siklus menstruasi wanita

Menurut  Prof.  Dr. R Warsito ( FKH UGM Yogyakarta dalam pertemuan ilmiah di Yogyakarta menyarankan hanya memperbolehkan konsumsi daging yang mengandung 0% TBA.  Konsumsi daging . Beliau menyarankan agar dilakukan pengujian residu hormon ini secara terus menerus oleh laboratorium berwenang.

Ditulis oleh drh Joko Susilo

Medik Veteriner Muda Balai Veteriner Lampung

BERITA TERKINI