Kategori
Artikel

Bercermin Pada Keberhasilan Program Integrasi Transmigran Dengan Sapi

Transmigrasi di Indonesia sudah berjalan dari mulai pemerintahan orde lama kemudian berkembang pesat di orde baru yang diteruskan di orde reformasi sekaran ini. Transmigrasi bertujuan untuk pemerataan penduduk dari wilayah padat penduduk ke wilayah yang jarang penduduk,  menciptakan lapangan kerja, pengelolaan sumber daya alam  secara optimal dan peningkatan taraf kesejahteraan rakyat. Wilayah padat penduduk yang utama sebagai sumber transmigran adalah pulau Jawa dengan tujuan pulau pulau di luar Jawa ( Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua ) sehingga tidak heran di pulau manapun di pelosok negara ini banyak kita jumpai orang dari suku Jawa.

hati2Di Pulau Sumatera contohnya, transmigran dari Jawa telah hidup berpuluh tahun dengan slogan “ Guyub rukun, toto titi tentrem, kerto raharjo “ dan tetap menjunjung tinggi  prisip “ di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung / tepo seliro“ sehingga kehidupan yang rukun dan saling hormat menghormati dengan masyarakat pribumi asli terjalin dengan baik. Niat dan tekad untuk merubah nasib di daerah transmigrasi telah tertanam dalam di benak masing masing sehingga pantang pulang ke kampung asal di Jawa sebelum meraih penghidupan yang lebih baik. Di Lampung, transmigran dari Jawa mendominasi populasi penduduk dan mereka membuat nama nama desa atau kecamatan dengan nama daerah asal mereka, contohnya Way Jepara, Surabaya, Wates, Jogja, Bantul, Bagelen, Purwodadi, Purworejo, Karanganyar, Sukoharjo, Pekalongan, Wonosobo dan banyak nama desa lainnya yang sama dengan nama Jawa.

Pada awalnya transmigran diberikan paket tanah kosong ( hutan belantara tanpa fasilitas sarana prasarana yang memadai ) oleh pemerintah untuk diolah sebagai lahan pertanian atau perkebunan. Salah satu program perkebunan yang berhasil hingga saat ini adalah perkebunan karet dan perkebunan sawit. Kita mengenal perkebunan sawit di Indonesia pertama kali dikembangkan di pulau Sumatera. Perkembangan perkebunan sawit saat ini semakin cepat, baik dari perorangan, BUMN, swasta, sampai dengan penanaman modal asing. Kemajuan ini juga didukung dengan berdirinya pabrik pabrik pengolahan minyak sawit yang menampung penjualan hasil panen sawit. Saat ini jalan jalan yang menjadi akses pengangkutan hasil panen sudah tersedia lebar dan sebagian sudah aspal sehingga membuat proses transaksi dan pengangkutan semakin efektif, ekonomis dan efisien.

INTEGRASI SAPI DAN SAWIT

Sejalan dengan program swasembada daging sapi / kerbau 2014 oleh pemerintah, maka telah banyak perkebunan sawit milik perorangan, BUMN, swasta, dan penanaman modal asing yang mengintegrasikan sapi dengan sawit. Bentuk integrasi sapi dengan sawit meliputi pemanfaatan lahan rumput di sekitar lahan sawit untuk lahan penggembalaan sapi ( terutama sapi Bali ), pemanfaatan limbah pabrik sawit berupa bungkil inti sawit, lumpur sawit ( sludge ), pelepah daun sawit sebagai bahan pakan ternak, dan pemanfaatan kotoran ternak dalam bentuk kompos ke lahan sawit untuk peningkatan produksi sawit.

Integrasi sapi yang dikelola ekstensif di lahan sawit memiliki kelebihan: mendapatkan bahan pakan ( rumput ) yang murah, angka kebuntingan pada kawin alami lebih tinggi dan tidak membutuhkan banyak tenaga kerja untuk merawat ternak dan mencari rumput. Namun memiliki kelemahan sebagai berikut:

  1. Kotoran sapi yang tercecer di lahan pada musim hujan menjadi pendukung munculnya cacing dan lalat yang menyebabkan banyak kasus cacingan pada ternak dewasa atau pedet dan lalat bisa menjadi perantara / pembawa penyakit Surra.
  2. Lingkungan yang kurang bersih menyebabkan turunya daya tahan sapi ditandai adanya kematian sapi dewasa karena demam tiga hari, kematian pedet karena diare, atau keguguran pada induk bunting
  3. Musim kemarau rumput tidak mencukupi untuk kebutuhan pakan sehingga terjadi gangguan pertumbuhan dan ganguan reproduksi
  4. Perkawinan lebih banyak dilakukan secara alami dan inseminasi buatan sulit dilakukan, perbaikan genetic unggul sulit tercapai serta memungkinkan tingginya kasus inbreeding
  5. Recording reproduksi juga sulit dilakukan seperti perkawinan, kebuntingan, kelahiran, kemajeran, dan parameter keberhasilan reproduksi ( service per conception, days open, calving interval )
  6. Minimnya pengetahuan peternak tentang keseimbangan nutrisi ternak menyebabkan banyak masalah pencernaan, Salah satunya sapi diberikan pakan dari limbah sawit berupa sludge secara berlebih dengan kuantitas rumput apa adanya menyebabkan tingginya kasus acidosis.

Dengan tekad yang kuat untuk maju, transmigran yang berprofesi sebagai petani di perkebunan sawit melakukan pemeliharaan sapi dengan pola semi intensif. Kepemilikan ternak 5 – 10 ekor per orang, dipelihara dengan cara diangon di lahan sawit pada siang hari dan pada pagi, sore dan malam hari sapi dikandangkan untuk diberi pakan tambahan dari hasil merumput setelah menggarap kebun sawit. Modifikasi pemeliharaan sapi secara semi intensif seperti ini terbukti memberi  hasil yang lebih baik yaitu:

  1. Sapi terjamin ketercukupan rumput untuk pakannya ( 10% dari berat badan ) sehingga dapat tumbuh, bunting, dan melahirkan dalam kondisi optimal
  2. Kebersihan kandang terjaga dengan baik dan sapi tumbuh sehat
  3. Perkawinan, kebuntingan dan kelahiran dapat terkontrol dengan baik sehingga efektifitas reproduksi berjalan baik, pedet akan terselamatkan
  4. Perkawinan dilakukan dengan inseminasi buatan dan mendapatkan bibit dengan genetic yang lebih baik tanpa terjadi kasus inbreeding
  5. Kesehatan sapi bisa terpantau dengan baik karena sapi selalu mudah diawasi setiap hari, pemberian obat cacing dan penambahan vitamin juga bisa dilakukan dengan mudah

Ketaatan transmigran terhadap pemerintah, salah satunya dibuktikan juga dengan terbentuknya kelompok tani ternak sebagai pusat informasi dan koordinasi yang dibina oleh dinas terkait. Pembinaan intensif yang diikuti dengan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan mendukung keberhasilan pertanian peternakan. Walhasil setiap tahun, kelompok kelompok tani ternak yang dianggap berhasil akan selalu menjadi prioritas utama mendapatkan sapi bantuan dari daerah ataupun pusat.

Dari pengamatan petani transmigran di daerah transmigrasi dapat dikatakan bahwa sebagian besar transmigran sudah menikmati jerih payahnya dengan meraih keberhasilan. Taraf perekonomian yang sudah meningkat ditandai dengan perumahan yang permanen, kepemilikan kendaraan bermotor sebagai alat angkut hasil kebun, kepemilikan lahan yang semakin bertambah, ketercukupan kebutuhan pokok, dan meningkatnya mobilisasi masyarakat Jawa ke Sumatera untuk mengikuti jejak sukses saudaranya menjadi transmigran. Di daerah transmigran semua masyarakat mendapatkan lapangan kerja , baik sebagai pemilik kebun ataupun sebagai buruh tani / kebun. Namun tidak mengherankan jika seorang buruh penyadap karet bisa mendapatkat upah Rp. 5.000.000 per bulan di 2 – 5 Ha lahan karet tetangganya, jika pendapatan buruh ini adalah 25% dari total penghasilan karet maka si pemilik lahan karet memiliki penghasilan 75% atau 3 kali lipat buruh.

Keberhasilan transmigran ini tidak lepas dari jerih payah atas kerja keras mereka, semoga menjadi prestasi bagi pemerintah. Yang terpenting bagi transmigran sekarang adalah upaya pemerintah melindungi mereka dari rendahnya harga komoditi panen perkebunan / peternakan karena pengaruh harga diluar, investor asing atau karena rendahnya pajak dari investor asing. Seperti yang dialami petani sawit sekarang yang cenderung merugi karena rendahnya harga sawit Rp.400 / kg yang biasanya mencapai Rp. 1.500 / kg. Pendidikan juga harus menjadi sorotan utama pemerintah agar transmigran dan generasinya mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas seperti di kampung asalnya di Jawa. Mereka membutuhkan hak atas lahan lahan mereka secara jelas agar tidak terulangnya konflik petani dengan perusahaan asing akan Hak Guna Lahan. Mari kita dukung kesejahteraan petani peternak. [drh. Joko Susilo]