Kategori
Berita Terbaru

Bvet Lampung Monitoring Kesmavet di Lampung Tengah

kesmavet2Lokasi kegiatan Pengambilan Sampel Kesmavet kali ini berada di Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung. Kegiatan yang dipimpin oleh drh Celentina Pardya Putri dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus 2014 dengan pengambilan sampel di TPH /RPH untuk uji hormon trenbolon asetat. Sedangkan sampel yang di ambil yaitu sampel daging daerah leher dan hati.

Berdasarkan wawancara dengan pemilik TPH, diketahui bahwa sapi berasal dari petani. Sampel daging dan hati berasal dari sapi Brangus milik petani setempat, dengan bobot sapi  hidup ± 600kg, sapi berwarna hitam, umur 48 bulan, kelamin jantan. Sampel sampel tersebut diperiksa di laboratorium Kesmavet untuk di uji ada tidaknya residu hormon TBA menggunakan metode uji ELISA Ridawin.

Residu adalah bahan induk atau metabolit yang terakumulasi atau tersimpan dalam sel atau jaringan yang bila terlalu lama berada dalam tubuh dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan berupa bahaya toksikologi (manifestasi mutagenik, teratogenik dan karsinogenik), menimbulkan bahaya mikrobiologis  yaitu resistensi dan gangguan pertumbuhan floral normal usus,  serta menimbulkan bahaya imunopatologi (reaksi alergi).

Hewan yang dipotong setelah pemberian obat, atau pengambilan produk dari hewan yang dalam masa pengobatan, akan didapati residu obat dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibanding batas toleransinya. Untuk menghindari hal tersebut perlu diadakan penerapan konsep withdrawal time, yaitu : kurun waktu yang diperlukan sampai residu obat/hormon mencapai konsentrasi aman (interval antara penghentian pemberian obat sampai hewan dipotong untuk konsumsi).  Keberadaan residu hormon pada produk  pangan asal hewan biasanya dikontrol dengan melakukan upaya monitoring dan perbaikan management.

Sampel yang diperoleh dalam kegiatan ini tidak sesuai target dikarenakan dua TPH  yang disurveilans tidak melakukan penyembelihan/penyembelihan dilakukan musiman. Penyembelihan tidak dilakukan karena harga sapi kurang stabil saat ini sehingga sapi yang disembelih hanya 1 atau 2 ekor, dan jika sapi kurang dari 5 ekor penyembelihan dilakukan di RPH GGLC   disebabkan biaya operasional yang tinggi  untuk penyembelihan di TPH milik pribadi.

Laporan drh Celentina Pardya Putri