Kategori
Artikel Berita Terbaru

Cacing tambang dari anjing dan kucing timbulkan CUTANEUS LARVA MIGRAN (CREEPING ERUPTION)

cacing 4

Dalam acara Kompetensi laboratorium Parasiter di BPPV Lampung 27 – 31 Mei 2014 , drh Eni fatiyah dari Laboratorium parasitologi BBVet Wates menyampaikan pengalamannya tentang Cutaneus Larva Migran (CLM). Penyidikan kasus Cutaneus Larva Migran (CLM) diawali dengan adanya pelaporan oleh Petugas Dinas Kab. Kulon Progo. Di kecamatan Panjatan, Temon, Galur, Wates, telah terjadi kasus CLM sebanyak  105 kasus yang terjadi pada bulan Januari-awal Juli 2012, kebanyakan terjadi pada anak-anak. Kasus CLM telah dinyatakan KLB(Kejadian Luar Biasa) oleh Dinkes pada awal Januari 2011. Kasus diduga ditularkan oleh Anjing dan Kucing melalui feses yang mengandung telur cacing.

Penyakit Cutaneus Larva Migran adalah penyakit zoonozis yang menular ke manusia. Cutaneus Larva Migran merupakan kelainan kulit karena peradangan yang berbentuk linear / berkelok-kelok, menimbul dan progresif, disebabkan oleh invasi larva cacing tambang dari anjing dan kucing (Ancylostoma brazilienze, Ancylostoma caninum). Investigasi dilakukan pada tgl 28-29 Juni 2012 oleh Tim BBVet. Wates bersama petugas Puskesmas dan Dinas Peternakan kulon Progo. Lokasi investigasi di Kecamatan  Panjatan, Temon, Galur, dan Wates. Teknis pengambilan data dilakukan dengan pengambilan sampel feses anjing dan kucing , sample pasir, wawancara dengan masyarakat dan inspeksi lingkungan. Dari sample yang diambil berupa feses kelompok sample 114 sample, kelompok control 75 sample dan pasir 22 sample. Semua sample diuji dengan uji apung di Laboratorium parasitologi BBVet Wates.

cacing3

Dari hasil wawancara, kasus CLM sudah ada beberapa tahun sebelumnya, kebanyakan menyerang anak-anak (suka bermain pasir dan tidak memakai alas kaki) dan Orang yang pekerjaannya kontak langsung dengan pasir. Hasil pengamatan di lokasi kasus, di lingkungan mereka terdapat gundukan   pasir dan halaman rumah ditimbuni pasir. Ada tiga kecamatan dekat dengan pantai a.l.: Kecamatan Panjatan, Temon, dan Galur. Di kecamatan tersebut banyak  kucing dan anjing semi liar dan liar (sebagai tempat pembuangan kucing). Di kecamatan Wates (Wilayah perkotaan) kasus positif terjadi karena di rumah mereka terdapat gundukan pasir.

Berdasarkan uji laboratorium tersebut, sampel kasus 60,53 % positif Ancylostoma sp., sampel kontrol 38,67 % ,dan sampel pasir 54,54 % positif Ancylostoma sp. Dari kasus positif disebabkan karena tidak semua kucing/anjing berada di tempat saat  pengambilan sampel dan terinfeksi di luar lingkungan. Sample control positif disebabkan karena factor perilaku yaitu kepemilikan kucing / anjing tanpa pemeriksaan kesehatan hewan terutama pemberian obat cacing.

Pathogenesis penyakit ini, dengan bantuan enzim proteolitik, larva dapat menembus kulit. Larva tidak dapat menembus kulit dermis, karena tidak memiliki enzim kolagenase. Larva bermigrasi pada dermis tepat di atas membrana basalis dan jarang menembus dermis, biasanya antara stratum germinativum dan korneum. Larva tinggal di kulit berjalan-jalan tanpa tujuan sepanjang dermoepital. Saat larva masuk ke kulit disertai gatal dan panas, awalnya muncul papul, diikuti bentuk khas, yaitu lesi berbentuk linier atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2-3 mm berwarna kemerahan. Biasanya muncul setelah beberapa jam atau 1-5 hari setelah larva berada di kulit. Pada malam hari akan terasa gatal sekali dan digaruk garuk menimbulkan infeksi sekunder. Pada anak kecil, menyebabkan sulit tidur atau sering menangis menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan fisik terganggu. Jika kondisi berlanjut akan menyebabkan kelemahan fisik, penurunan daya tahan dan serangan penyakit lain mudah masuk.

cacing2

            Ada beberapa factor resiko penyebab kasus CLM, diantaranya:

  • Faktor perilaku

Masyarakat tinggal/beraktifitas di pantai atau pasir, dan terjadi kontak langsung dengan pasir/tanah

  • Faktor Lingkungan

Lantai rumah masyarakat yang sebagian besar masih berupa tanah dan di sekitar  rumah ditemukan adanya kucing dan anjing yang terinfeksi Ancylostoma sp

  • Faktor kelompok sosial ekonomi

Pekerjaan sering kontak dengan pasir atau tanah ( penambang pasir dan petani ) dan adanya kemiskinan masyarakat sehingga status kesehatan kucing/anjing tidak dipehatikan

Untitled-4 copy
Kasus CLM pada Kaki

 Beberapa saran untuk masyarakat agar terhindar dari kasus CLM diantaranya perlu dilakukan pengobatan pada penderita CLM dan pemberian obat cacing secara rutin per 3 atau 4 bulan sekali pada anjing dan kucing ( contoh dengan albendazol 500 mg ) serta pemberian salep Clor ethyl pada kulit bayi yang terserang dan AB untuk infeksi sekunder. Anjing dan kucing sebaiknya dikandangkan dan ada tempat khusus untuk buang air besar. Feses  anjing dan kucing harus dikubur / segera dibersihkan. Dibiasakan anak-anak tidak main di pasir dan biasakan memakai alas kaki. Perlu dilakukan sosialisasi pada masyarakat setempat mengingat penyakit ini bersifat zoonosis.

Drh Joko Susilo

( Majalah Infovet Agustus 2013 )