Kategori
Artikel Berita Terbaru

SWASEMBADA DAGING SAPI DALAM ILUSI PENGETAHUAN

(Refleksi dan Aksi Untuk Mewujudkan Mimpi)

Oleh drh. Tarsisius Considus Tophianong, M.Sc

Dosen dan Praktisi Bagian Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan Undana

“Gnothi Seauton” Kenalilah dirimu sendiri karena hidup yang tidak direfleksikan tidak patut dihidupi. Dalam perspektif swasembada daging sapi Nasional petuah bijak Socrates ini patut untuk direfleksikan, karena penurunan kinerja reproduksi induk sapi akibat gangguan reproduksi menjadi momok tersendiri bagi swasembada daging sapi. Swasembada daging sapi di Indonesia merupakan ideal yang terlampau tinggi, ibarat pungguk merindukan bulan. Jika swasembada daging sapi adalah gadis, maka para pemuda yang mengejarnya akan jadi bujang abadi alias bujang lapuk. Swasembada daging sapi saat ini menemui realitas yang samar dikejauhan, tetapi tetap ada setitik cahaya jika mau direfleksikan dan berbenah diri.

            Banyak program pemerintah dibidang peternakan cenderung kurang berhasil, salah satu contoh diantaranya penerapan manajemen reproduksi terutama teknologi reproduksi Inseminasi Buatan (IB) dilaksanakan secara nasional pada peternakan rakyat diseluruh wilayah Indonesia. Hal ini berarti penerapan manajemen reproduksi di suatu wilayah disamakan dengan wilayah lain, tanpa memperhatikan sistem pemeliharaan sapi  dan sumber daya yang ada di suatu wilayah. Pada umumnya peternakan sapi rakyat di pulau Jawa adalah pola pemeliharaan intensif, dimana seluruh kebutuhan hidup sapi tersebut sejak perkawinan sampai kelahiran sepenuhnya membutuhkan interfensi peternak. Hal ini tentunya sangat jauh berbeda dengan sistem pemeliharaan sapi bali di Nusa Tenggara Timur dan beberapa wilayah di Indonesia yaitu semi intensif dan ekstensif dimana hampir sebagian besar hidup sapi terjadi secara alami dipadang pengembalaan. Sistem peternakan sapi rakyat dipulau Jawa dengan segala permasalahannya, yang mungkin bersifat spesifik lokasi dijadikan sebagai potret peternakan sapi rakyat di Indonesia. Perlu diingat pepatah tua mengatakan lain padang, lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Program nasional yang dicanangkan pemerintah (GBIB-Gangrep, SIWAB, SIKOMANDAN) serta berbagai seminar, bimbingan teknis sampai pada refreshing penanganan gangguan reproduksi sapi adalah bentuk usaha menuju swasembada daging sapi. Manusia menjadi faktor penentu terjadinya gangguan reproduksi pada sapi yang menjadi penghambat tercapainya swasembada daging sapi. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan keputusan, petugas lapangan sebagai ujung tombak pelaksana bersama peternak. Sapi yang berada pada puncak piramid pembangunan peternakan hanyalah menerima imbas dari manajemen yang ditelah diterapkan. Potret kondisi peternakan sapi adalah pantulan representasi dari penerapan manajemen yang dilakukan oleh peternak bersama petugas.

Fakta empiris aplikasi teknologi reproduksi IB pada seekor sapi bali dengan berat badan ± 200 kg, dilakukan IB crossbreed dengan breed dari bos taurus yang sejak awal sudah dapat diestimasi akan potensi distokia dan gangguan reproduksi lain yang mengikutinya. Jika kita temui petugas lapangan dan menanyakan terkait hal ini maka jawaban yang akan kita terima adalah peternak meminta, memaksa dan sangat menginginkan sapi crossbreed. Dalam konteks ini, mengikuti dan mewujukan keinginan peternak adalah sebuah kekonyolan yang tidak patut dilestarikan. Distokia yang berujung pada tindakan sectio caesaria sebagian orang menganggapnya berkat tersembunyi, karena dengan adanya distokia banyak petugas akhirnya bisa melakukan sectio caesaria. Setiap orang tentunya melihat dari sudut pandang berbeda, menurut saya distokia yang terjadi pada sapi akseptor IB yang berujung pada sectio caesaria adalah bukti kegagalan manajemen perkawinan. Mestinya mencegah terjadinya distokia jauh lebih penting daripada menepuk dada atas keberhasilan sectio caesaria. “Sebab jika distokia yang melahirkan sectio caesaria dianggap sebuah berkat, maka pendidikan medis veteriner, pelatihan serta berbagai bimbingan teknis adalah upaya tanpa faedah”. Jika hal demikian terjadi, akankah mimpi mulia one cow, one calf, one year tercapai? Bukankan induk sapi tersebut akan mengalami masa puerpureum, involusi uterus lebih lama? Bukankah panjangnya masa puerpureum mengakibatkan panjangnya calving interval? Saya yakin kita semua pasti sudah menemukan jawaban, jauh sebelum pertanyaan ini ada. Pertanyaan berikutnya bagaimana dengan penerapan animal welfare yang selalu didengungkan dipodium terhormat dan disuarakan dengan lantang diatas panggung-panggung seminar berreputasi nasional maupun internasional? Kita lalu bertanya apakah prinsip-prinsip animal welfare menjadi komitmen dalam pelayanan dan pengabdian tetap dijunjung tinggi? ataukah hanya tagline iklan?

Di lapangan kita akan menyaksikan belbagai contoh konkret dalam jarak nampak pandang diantaranya IB dilakukan pada sapi yang tidak estrus, sapi bunting, sapi yang sedang mengalami infeksi uterus serta penggunaan PGF2 alfa bak obat dewa tuk semua status reproduksi. Inseminasi buatan yang dilakukan pada sapi bunting ada yang mengakibatkan abortus, adapula lahir pedet bak bibit hibrida yang jarak dari IB sampai kelahiran adalah 2-3 bulan. Pelatihan dan bimbingan teknis terkait aplikasi teknologi reproduksi yang dilakukan di belbagai institusi pelatihan seakan sebuah usaha tanpa makna. Materi yang diberikan pada waktu pelatihan hanyalah ceramah ilmiah yang berorientasi pada jumlah jam pelatihan. Mengapa demikian karena petugas yang konon katanya terlatih dan bersertifikat tidak menerapkan apa yang diperolehnya dengan baik dan benar. Hal ini kembali kepada mentalitas petugas yang menurut Presiden Jokowi membutuhkan revolusi mental. Sedikit berbeda dengan gagasan Bapak Presiden menurut saya mental tidak bisa diubah dengan “REVOLUSI”. Mental hanya bisa diubah melalui “EVOLUSI” karena mentalitas adalah karakter yang perubahannya membutuhkan waktu lama. Petugas berusaha membuat belbagai eksperimen baru dilapangan yang akibatnya lahirlah pelbagai gangguan reproduksi pada sapi akseptor IB. Jika kita telusuri dan amati dengan cara saksama maka kita bisa menyimpulkan gangguan mentalitas dapat berpotensi mengakibatkan gangguan reproduksi pada sapi, karena “eksperimen tanpa pikiran cerdas dibaliknya, sama seperti seorang buta yang ingin memahami warna”.

Hasil kajian ilmiah mengatakan bahwa IB harusnya dilakukan pada pola peternakan intensif dengan rekording yang baik, bahwa crossbreed hanya untuk final stock faktanya di Nusa Tenggara Timur yang pola pemeliharaan sapi bali adalah semi intensif dan ekstensif dilakukan IB dan sebagian besar adalah crossbreed (bos javanicus dan bos taurus) untuk tujuan breeding. Mungkin hal demikian terjadi didaerah lain dalam negeri ini dan tentunya tindakan ini disertai dengan belbagai argumentasi yang dibungkus dalam kemasan ilmiah. Beberapa tahun terakhir sejak diluncurkan program Gertak Birahi Inseminasi Buatan Gangguan Reproduksi sapi (GBIB-Gangrep) Tahun 2015, pelaksanaan IB seakan menjadi poin penting menuju peningkatan populasi. Pelaksanaan perkawinan silang beda bangsa sapi (crossbreed) melalui aplikasi IB dilapangan semakin diminati, mampu memikat hati peternak dan pemerintah karena beberapa alasan diantaranya berat lahir yang lebih berat dari sapi lokal dan pertumbuhan yang lebih cepat adalah suatu keunggulan menurut sudut padang kebanyakan orang.

Sapi lokal seperti sapi bali dengan tingkat fertilitas tinggi dan kemampuan adaptasi pada lingkungan ekstrim yang lebih baik dibandingkan bangsa sapi lain tidak dikelola dengan manajemen yang maksimal. Sapi bali seakan mulai ditinggal pergi dengan berbagai image buruk seperti bertubuh kecil dengan analogi bagaikan saudara tua dari kambing/domba, jika kondisi demikian terus berlanjut suatu saat nanti niscaya sapi bali akan menjadi asing ditanah sendiri. Benarlah ungkapan ini rumput tetangga lebih hijau daripada rumput dihalaman sendiri. Kita selalu terpesona dengan kasat mata, tanpa perlu menelusuri apakah rumput yang hijau berkualitas?

            Berdasarkan fakta empiris menurut hemat saya “halangan terbesar swasembada daging sapi di Negeri ini bukanlah ignorantia, melainkan ilusi pengetahuan”. “Ignorantia” adalah kekurangan pengetahuan yang perlu, yang bisa dibatasi dengan pemberitahuan, dan memang benar kita tidak sedang kekurangan pengetahuan. Sementara ilusi pengetahuan adalah sebentuk “eror” terhadap pengetahuan. Ilusi pengetahuan membuat orang tidak lagi mementingkan atau melihat fakta, kualitas dan menyelami realita, namun soal menarik atau tidak menarik. Seperti halnya pengalaman saya setiap menghadiri kontes ternak sapi di NTT semua orang begitu bersorak sorai penuh decak kagum ketika melihat sapi crossbreed dengan bobot ± 1 ton parade di depan panggung kehormatan para tamu undangan. Dari belbagai contoh konkret yang saya kemukan dalam tulisan ini merupakan eror terhadap pengetahuan/ ilusi pengetahuan. Disini dapat dilihat bahwa yang benar, baik dan berkualitas adalah yang menarik untuk dilihat dan memesona untuk ditonton. Orang lalu lupa bahwa di lapangan sapi crossbreed banyak menyuguhkan berbagai gangguan reproduksi dan fenomena penurunan kinerja reproduksi. Orang lupa bahwa hanya dengan menarik, eksotik dan menawan tidak akan mampu meningkatkan populasi sapi menuju swasembada. Tanpa efisiensi reproduksi, peningkatan populasi hanyalah sebuah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan atau indra lainya dalam tidur yang merupakan sebuah kemustahilan dalam dunia nyata. Ataukah memang kita ditakdirkan swasembada daging melalui import sapi dan daging beku?

Kita tidak terbiasa untuk menyelam dan mendalami suatu masalah dari ujung ke ujung. Kita ibarat melihat hutan tanpa bisa menggambarkan hutannya secara mendetail, tanpa juga mampu melihat pohonya, tetapi langsung menemukan dahan dan daunnya saja. Kita melihat sesuatu hanya dipermukaan saja dan semakin bersahabat dengan kepanikan. Menghadapi situasi ini, kita membutuhkan orang-orang yang mempunyai kebiasaan refleksi untuk menenangkan hati, berpikir jernih dan objektif tentang realita yang ada. Benarlah gagasan Aristoteles bahwa kebenaran adalah dengan melakukan kebenaran, dimana pengetahuan teoritis berhubungan dengan kebenaran, pengetahuan praktis berhubungan dengan aksi. Pengetahuan teoritis berhubungan dengan pengetahuan “tentang”, sementara pengetahuan praktis berhubungan dengan tindakan “membuat”. Singkatnya aksi yang didasarkan pada teori yang benar dan teori yang benar sejatinya juga didasarkan pada refleksi atas aksi yang telah dilakukan. Bukanlah aksi pragmatis ugal-ugalan demi tujuan instrumental sesaat tanpa perlu berpijak pada analisa ilmiah.

Mimpi mencapai swasembada daging sapi adalah mulia, namun realita memotretnya dengan sangat buram. Semoga fajar lekas terbit dan semuanya lekas bangun dari tidur untuk kembali memahami dan menerapakan ilmu sesungguhnya bukan hanya sebatas tagline usang yang melegenda menghiasi mimbar seminar atau sebagai literasi pelengkap lemari perpustakaan. Lantas apa yang harus kita lakukan???

Kategori
Artikel

Panduan Praktis Qurban

Kata (Bahasa Arab), transliterasi: Qurban. Yang berarti dekat atau mendekatkan (diri kepada Allah SWT), atau disebut juga Udhhiyah atau Dhahiyyah, secara harfiah berarti hewan sembelihan. Ibadah Qurban adalah salah satu ritual ibadah pemeluk agama Islam, melakukan penyembelihan binatang ternak untuk dipersembahkan hanya kepada Allah, dilakukan pada bulan Dzulhijjah pada penanggalan Hijriyah, yaitu pada tanggal 10 (hari nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik). Hasil dari sembelihan ini kemudian diberikan kepada keluarga, kerabat, dan juga fakir miskin. Untuk lebih jelasnya bisa silahkan download

Kategori
Artikel Berita Terbaru

Strain Flu Babi Dengan Potensi Pandemi Manusia Semakin Banyak Ditemukan Pada Babi di Cina

Apa yang dunia tidak butuhkan sekarang adalah pandemi di atas pandemi. Jadi temuan baru bahwa babi Cina semakin sering terinfeksi dengan jenis influenza yang berpotensi melompat ke manusia telah membuat para peneliti penyakit menular di seluruh dunia memperhatikan dengan serius. Robert Webster, seorang penyelidik influenza yang baru-baru ini pensiun dari Rumah Sakit Penelitian St. Jude Children, mengatakan ini adalah “permainan tebak-tebakan” apakah jenis virus ini akan bermutasi untuk siap menular antar manusia, yang belum dilakukan. “Kami hanya tidak tahu pandemi akan terjadi sampai hal yang tak diinginkan itu terjadi,” kata Webster, mencatat bahwa Cina memiliki populasi babi terbesar di dunia. “Apakah yang akan dilakukan ? Tuhan tahu.”


Ketika beberapa jenis virus influenza menginfeksi babi yang sama, mereka dapat dengan mudah bertukar gen, suatu proses yang dikenal sebagai “reassortment.” Studi baru, yang diterbitkan hari ini di Prosiding National Academy of Sciences, berfokus pada virus influenza yang dijuluki G4. Virus ini adalah campuran unik dari tiga garis keturunan: satu mirip dengan strain yang ditemukan pada unggas Eropa dan Asia, strain H1N1 yang menyebabkan pandemi 2009, dan H1N1 Amerika Utara yang memiliki gen dari virus flu burung, manusia, dan babi.


Varian G4 secara khusus memprihatinkan karena intinya adalah virus flu burung — yang manusia tidak memiliki kekebalan — dengan sedikit campuran mamalia. “Dari data yang disajikan, tampaknya ini adalah virus flu babi yang siap untuk muncul pada manusia, ”kata Edward Holmes, ahli biologi evolusi di University of Sydney yang mempelajari patogen. “Jelas situasi ini perlu dipantau dengan sangat cermat.”


Sebagai bagian dari proyek untuk mengidentifikasi potensi pandemi influenza, sebuah tim yang dipimpin oleh Liu Jinhua dari China Agricultural University (CAU) menganalisis hampir 30.000 usap hidung yang diambil dari babi di rumah potong hewan di 10 provinsi Cina, dan 1000 usapan lain dari babi dengan gejala pernapasan terlihat di rumah sakit hewan pendidikan kedokteran hewan perguruan tinggi mereka. Usap hidung dikumpulkan antara 2011 dan 2018, menghasilkan 179 virus flu babi, yang sebagian besar adalah G4 atau satu dari lima galur G lainnya dari garis keturunan mirip burung Eurasia. “Virus G4 telah menunjukkan peningkatan tajam sejak 2016, dan merupakan genotipe dominan dalam sirkulasi pada babi yang terdeteksi di setidaknya 10 provinsi,” tulis mereka.
Sun Honglei, penulis pertama makalah itu, mengatakan dimasukkannya gen G4 dari pandemi H1N1 2009 “dapat mempromosikan adaptasi virus” yang mengarah pada penularan dari manusia ke manusia. Karenanya, “Diperlukan untuk memperkuat pengawasan” babi Cina terhadap virus influenza, kata Sun, juga di CAU.


Virus influenza sering berpindah dari babi ke manusia, tetapi kebanyakan kemudian tidak menular antar manusia. Dua kasus infeksi G4 manusia telah didokumentasikan dan keduanya adalah infeksi berhenti yang tidak menular ke orang lain. “Kemungkinan varian tertentu ini akan menyebabkan pandemi adalah rendah,” kata Martha Nelson, ahli biologi evolusi di Pusat Internasional Institut Kesehatan Nasional Fogarty AS yang mempelajari virus influenza babi di Amerika Serikat dan penyebarannya ke manusia. Tetapi Nelson mencatat bahwa tidak ada yang tahu tentang pandemi H1N1, yang melonjak dari babi ke manusia, hingga kasus manusia pertama muncul pada 2009. “Influenza dapat mengejutkan kita,” kata Nelson. “Dan ada risiko bahwa kita mengabaikan influenza dan ancaman lain saat ini” dari COVID-19.


Studi baru menawarkan tetapi sekilas kecil ke strain influenza babi di Cina, yang memiliki 500 juta babi. Sementara Nelson berpendapat bahwa dominasi G4 dalam analisis mereka adalah temuan yang menarik, ia mengatakan sulit untuk mengetahui apakah penyebarannya merupakan masalah yang berkembang, mengingat ukuran sampel yang relatif kecil. “Anda benar-benar tidak mendapatkan gambaran yang baik tentang apa yang dominan pada babi di Cina,” tambahnya, menekankan perlunya pengambilan sampel lebih banyak pada babi Cina.


Dalam surat kabar itu, Sun dan rekan-rekannya — termasuk George Gao, kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok — menggambarkan studi di laboratorium yang menunjukkan bagaimana G4 manusia menjadi mahir dalam menginfeksi dan menyalin diri mereka dalam sel epitel saluran napas manusia. Virus juga mudah terinfeksi dan ditularkan antara musang, model hewan populer yang digunakan untuk mempelajari influenza manusia. Para peneliti menemukan antibodi terhadap strain G4 pada 4,4% dari 230 orang yang diteliti dalam survei rumah tangga — dan angka ini lebih dari dua kali lipat pada pekerja babi.


Selain meningkatkan pengawasan, Sun mengatakan masuk akal untuk mengembangkan vaksin melawan G4 untuk babi dan manusia. Webster mengatakan, paling tidak, stok virus benih untuk membuat vaksin manusia — varian dari strain yang bisa tumbuh cepat dalam telur yang digunakan untuk membuat vaksin flu — harus diproduksi sekarang. “Membuat stok virus benih bukanlah masalah besar, dan kita harus siap,” kata Webster.


China jarang menggunakan vaksin influenza pada babi. Nelson mengatakan bahwa peternakan di AS umumnya melakukannya, tetapi vaksinnya hanya memiliki sedikit efek karena sering ketinggalan zaman dan tidak cocok dengan jenis yang beredar.Idealnya, kata Nelson, kami akan memproduksi vaksin G4 manusia dan memilikinya dalam persediaan, tetapi itu adalah proses yang terlibat yang membutuhkan dana besar. “Kita perlu waspada terhadap ancaman penyakit menular lainnya bahkan ketika COVID sedang berlangsung karena virus tidak tertarik apakah kita sudah memiliki pandemi lagi,” kata Nelson.


Sumber:Jon Cohen June 29, 2020. Sciencehttps://www.sciencemag.org/news/2020/06/swine-flu-strain-human-pandemic-potential-increasingly-found-chinese-pigs

Diakses 30 Juni 2020 09:30 pagi

artikel asli pada: http://atanitokyo.blogspot.com/2020/06/strain-flu-babi-dengan-potensi-pandemi.html?m=1

Kategori
Artikel

PENYAKIT AFRICAN SWINE FEVER (ASF)

Sumber :  Kementan

African Swine Fever (ASF) adalah penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 % sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Virus ASF sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan.

ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi.

Tanda-tanda Klinis ASF

–      Kemerahan di bagian perut, dada dan scrotum

–      Diare berdarah

–      Berkumpul bersama dan kemerahan pada telinga

–      Demam (41 derajat Celsius), Konjungtivitis, anoreksia, ataksia, paresis, kejang, kadang2 muntah, diare atau sembelit

–      Pendarahan Kulit Sianosis

–      Babi menjadi tertekan, telentang, kesulitan bernapas, tidak mau makan.

ASF dapat menyebar melalui :

–      Kontak langsung

–      Serangga

–      Pakaian

–      Peralatan peternakan

–      Kendaraan

–      Pakan yang terkontaminasi 

Untuk babi yang terkena penyakit ASF, isolasi hewan sakit dan peralatan serta dilakukan pengosongan kandang selama 2 bulan.

Untuk babi yang mati karena penyakit ASF dimasukkan ke dalam kantong dan harus segera dikubur oleh petugas untuk mencegah penularan yang lebih luas.

Tidak menjual babi/ karkas yang terkena penyakit ASF serta tidak mengkonsumsinya.

Hingga saat ini, belum ditemukan vaksin untuk pencegahan penyakit ASF.

Penyakit ini merupakan ancaman bagi populasi babi di Indonesia yang mencapai kurang lebih 8,5 juta ekor

Berdasarkan kajian analisa risiko, ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya ASF ke Indonesia diantaranya melalui

–      pemasukan daging babi dan produk babi lainnya,

–      sisa-sisa katering transportasi intersional baik dari laut maupun udara,

–      orang yang terkontaminasi virus ASF

–      kontak dengan babi di lingkungannya. 

Langkah strategis utama dalam mencegah terjadi ASF adalah melalui penerapan biosekuriti dan manajemen peternakan babi yang baik serta pengawasan yang ketat dan intensif  untuk daerah yang berisiko tinggi

Investigation ASF

Handouts Module 2 Clinical Diagnosis

Prevention and Biosecurity ASF

Response and Control Measure ASF

Kategori
Artikel

Vaksinasi Rabies Secara Serempak di Meguro, Tokyo

Populasi anjing kesayangan di Jepang pada tahun 2008 sekitar 9.650.000 (www.mapsoftworld). Dalam satu keluarga Jepang tidak jarang yang memiliki anjing kesayangan lebih dari seekor. Mereka selain memelihara dengan menyiapkan tempat, peralatan dan makanan yang tidak sedikit biayanya, mereka juga terbiasa meluangkan waktunya disela-sela kesibukannya berjalan bersama anjing kesayangannya di pagi hari atau di petang hari.

Jepang salah satu Negara yang bebas penyakit Rabies, tetapi Jepang tetap melaksanakan program vaksinasi Rabies. Di Jepang terdapat peraturan yang mewajibkan setiap pemilik hewan kesayangan anjing mendaftarkan anjingnya sekali dalam seumur hidup anjing dan memvaksin anjingnya terhadap penyakit anjing gila (Rabies) antara bulan April dan Juni sekali dalam setahun. Jika penduduk memiliki anjing berumur lebih dari 90 hari, diwajibkan untuk memvaksinkan anjingnya tehadap penyakit rabies sekali dalam setahun dan menyimpan sertifikat vaksinasi yang diterima.

Untuk di kota Meguro, Tokyo akan diselenggarakan vaksinasi secara serempak yang akan dilakukan pada tanggal 13 – 17 April 2009 bertempat di 24 rumah sakit hewan yang tersebar di kota Meguro yang tergabung dalam asosiasi dokter hewan Meguro. Vaksinasi serempak terhadap rabies untuk anjing ini dilaksanakan oleh pemerintahan daerah kota Meguro, Tokyo. Selama lima hari tersebut penduduk Meguro dapat memperoleh pelayanan vaksinasi Rabies untuk anjingnya dan pada saat itu juga langsung memperoleh sertikat vaksinasi.

Bagi mereka yang telah mendaftarkan anjingnya pada bulan Pebruari,pada rumah sakit hewan ditempat lain diharapkan mendaftar ulang untuk memperoleh sertifikat lagi dengan membawa sertifikat vaksinasi rabies yang diterbitkan oleh rumah sakit hewan lain dan membayar biaya penerbitan sertifikat 550 yen. Pendaftaran dilakukan di Pusat Kesenahatan Masyarakat Himonya, atau di Tempat Pelayanan Chiku daerah masing-masing.

Sebelum anjing dibawa ke rumah sakit untuk divaksinasi, anjing disiapkan dalam keadaan bersih dan dibawakan tas untuk menyimpan kotoran apabila anjingnya buang kotoran diperjalanan. Bagi mereka yang dapat membawa anjingnya dengan mudah diharuskan membawa anjingnya ke rumah sakit hewan. Apabila anjingnya tempak sakit, dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter hewan terlebih dahulu sebelum anjingnya divaksinasi.

Penduduk Meguro yang mengikuti vaksinasi serempak ini cukup mempersiapkan uang sebanyak 3.000 yen untuk biaya vaksinasi dan 550 yen untuk biaya penerbitan sertifikat vaksinasi.

Menurut salah satu dokter hewan Jepang senior Itoh Osamu, DVM., bahwa ada tiga program penting yang perlu tetap dilaksanakan untuk mempertahankan negara atau wilayah berstatus bebas terhadap penyakit Rabies yaitu : 1) terus melaksanakan pendaftaran / pendataan semua anjing kesayangan; 2) melaksanakan program vaksinasi Rabies secara rutin; dan 3) melaksanakan program pengendalian hewan kesayangan anjing yang tidak bertuan. Memang tampak sederhana tetapi hal ini merupakan tindakan yang sangat penting untuk dilaksanakan. Mari kita bersama-sama mempertahankan daerah bebas Rabies yang kita miliki untuk kesehatan dan kesejahteraan kita bersama.

sumber: http://atanitokyo.blogspot.com

Kategori
Artikel

Herd Immunity

Penjelasan Gambar Herd Immunity
Kotak Atas menunjukkan pada wabah populasi ketika beberapa orang terinfeksi (ditunjukkan gambar orang dengan warna merah) dan sisanya sehat tetapi tidak kebal (ditunjukkan gambar orang dengan warna biru); penyakit ini menyebar dengan bebas ke seluruh populasi.


Kotak Tengah menunjukkan populasi dengan sejumlah kecil orang telah kebal (ditunjukkan gambar orang dengan warna kuning); mereka yang tidak kebal akan terinfeksi, sedangkan orang yang kebal tidak terinfeksi.

Kotak Bawah sebagian besar populasi telah kebal.  Hal ini dapat mencegah penyakit menyebar secara signifikan, termasuk menyebar ke orang yang belum kebal.


Dalam dua situasi pertama (paling atas), sebagian besar orang sehat yang tidak kebal menjadi terinfeksi, sedangkan pada situasi terakhir (paling bawah), hanya seperempat dari orang sehat yang tidak kebal menjadi terinfeksi.

Herd immunity atau Kekebalan Kelompok adalah suatu bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi, baik melalui infeksi sebelumnya atau vaksinasi sehingga individu yang tidak kebal ikut terlindungi. Dalam populasi yang sebagian besar individunya memiliki kekebalan (mereka ini tidak mungkin berkontribusi pada penularan penyakit) rantai infeksi kemungkinan besar terganggu sehingga penyebaran penyakit akan terhenti atau terhambat. Semakin besar proporsi individu yang kebal dalam suatu populasi, semakin kecil kemungkinan individu yang tidak kebal akan bersentuhan dengan individu yang terinfeksi. Hal ini akan membantu melindungi individu yang tidak kebal dari infeksi.


Sumber: Wikipedia

Drh. Pudjiatmoko, PhD lahir di Purbalingga,17 April 1959, begitu lulus FKH – IPB pada tahun 1983 ia langsung bekerja menjadi Technical Services pada Produsen Obat Hewan, selanjutnya tahun1985-1986 menjadi Manajer Breeding Farm. Pada tahun 1986-1992 ia menjadi Penguji Vaksin Viral pada Lab Virologi Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BPMSOH) Kementerian Pertanian. Ia memperoleh beasiswa Monbusho program PhD (S3) Applied Veterinary Science di Gifu University, Jepang tahun1993-1997, langsung melanjutkan program Post Doctoral Research tahun 1997-2000 di Gifu University dan Lab Kyoto Biken. Ia ditugasi memimpin Lab Bakteriologi BPMSOH tahun 2002-2005. Ia dikirim ke Jepang sebagai Atase Pertanian KBRI Tokyo tahun 2005-2009, begitu kembali ke Indonesia ia dipercaya sebagai Kepala Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) tahun 2009-2010, dan ia diamanahi sebagai Direktur Kesehatan Hewan di Ditjen PKH, Kementerian Pertanian tahun 2010 sampai Agustus 2015. Posisi sekarang sebagai Pejabat Medik Veteriner Ahli Utama