Kategori
Hikmah

Kisah Nyata : Lakukan Ini Jika Ingin Punya Anak

 

baby

“Jika belum adanya keturunan yang membuatmu gelisah di penghujung malam ini mintalah Allah ta’ala dengan do’a Nabi Zakariya.” Satu kalimat yang ditwitkan oleh Moh. Fauzil Adhim pada dini hari ini membuat saya termenung. Sebuah kebetulan bahwa pada malam itu saya ingin menuliskan sebuah cerita tentang kegundahan seorang teman akan hadirnya buah hati dalam umur perkawinannya yang baru mencapai lima bulan.

Sebuah waktu yang tidak bisa disetarakan dengan waktu sepi yang dimiliki oleh Nabi Zakariya dalam sebuah penantian yang panjang dan endapan keniscayaan kalau istrinya yang mandul tidak pernah mungkin akan punya keturunan. Maka hanya doa yang bisa terlantun: “Tuhanku, jangan biarkan aku sendiri. Dan Engkaulah sebaik-baik Waris (QS. 21: 89)”

Dalam sebuah percakapan maya, di pertengahan ramadhan 1433 H yang penuh keberkahan, tercetus sebuah kegalauan betapa pusing teman saya ini memikirkan istrinya yang juga belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan.

“Kamu mau enggak saya beri solusi?” sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak butuh jawaban. Karena dengan mengemukakan masalahnya pada saya saja setidaknya ia merasa sudah cukup gelisah itu terkurangi.

“Kamu dan istri kamu lakukan dua hal ini.”

“Apa?”

“Istighfar dan sedekah. Perbanyaklah. Misalnya saat mau berhubungan intim, saat kamu berdiri di dalam kereta, saat kamu bekerja. Insya Allah kita akan lihat hasilnya dalam sebulan ini.”

Hanya itu yang bisa saya sampaikan padanya persis seperti apa yang diriwayatkan oleh Abu Hanifah dalam Musnadnya, dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad saw sambil berkata: “Wahai Rasulullah! Aku tidak dikaruniai seorang anak pun dan aku tidak memiliki anak.” Maka Rasulullah saw bersabda: “Lalu di mana kamu dari banyak beristighfar dan banyak bersedekah, karena engkau akan diberi rizki anak karena sebab keduanya.” Lalu laki-laki ini memperbanyak sedekah dan istighfar. Jabir berkata, “Maka orang ini dikaruniai sembilan anak laki-laki.”1)

Saya meyakinkannya untuk melakukan dua hal itu. Apalagi sudah jelas kalau dalam Surat Nuh (71: 10-12) disebutkan tentang janji Allah kepada orang yang meminta ampunan kepadaNya, maka Ia akan memberikan banyak rupa kebaikan dan salah satunya adalah memperbanyak harta dan anak. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

Kepada para jamaah shalat tarawih saya sampaikan cerita teman ini dan berharap ada keajaiban yang datang dalam sebulan ini. Pengharapan besar, doa yang terucap sepenuh keyakinan, sedekah yang seikhlas-ikhlasnya, permintaan ampunan tertuturkan dengan sebenar-benarnya permintaan, dari hati yang dilembutkan oleh madrasah ramadhan, pada waktu yang mustajabah, variabel manalagi yang akan membuat Allah tidak mewujudkan semua asanya?

Ramadhan usai, Syawal menjelang. Hiruk-pikuk mudik, lebaran, dan baliknya menyita perhatian semua. Tidak terkecuali saya. Tapi ada mekanisme takdir Allah yang sedang berjalan. Hari ke-9 Syawal sang teman memberitahu saya, “Aku mengucapkan terima kasih untuk saran dan doa kamu bulan puasa kemarin. Subhanallah walhamdulillah. Aku telah memastikan secara medis kalau kandungan istriku sudah berjalan kurang lebih lima minggu.”

Allah Maha Besar, nikmat mana lagi yang hendak diingkari. Allah tunjukkan keajaiban sedekah dan istighfar itu pada kami, walau baru sebatas janin. “Terus perbanyak sedekah dan istighfarnya, karena sedekah dan istighfarmu yang konsisten akan menjaga kandungan istrimu.”

Istighfar itu tanda kepasrahan dari hamba yang sesadar-sadarnya kalau dirinya lemah, membawa kedamaian, menjadikan lapang atas setiap kesedihan, jalan keluar atas setiap kesempitan, dan membuka datangnya rizki dari arah yang tiada terduga. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara pribadi sebagaimana shalat.

Sedekah berkelindan dengan istighfar. Sedekah itu pembuktian adanya iman di dada, ia menghapus kesalahan, menjauhkan dari kematian yang buruk, menghindarkan dari musibah, ia mengobati orang-orang yang sakit. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara sosial sebagaimana zakat.

Inilah ikhtiar. Dan setelah kawan saya itu, keajaiban apalagi yang akan muncul di hadapan Anda dari banyaknya istighfar dan sedekah yang tertunaikan?

 
Riza Almanfaluthi

http://www.islamedia.web.id/2014/03/kisah-nyata-lakukan-ini-jika-ingin.html

Kategori
Hikmah

Melihat yang Gaib dengan Kaca Mata Syariat

pemimpin1

Percaya pada yang gaib merupakan salah satu ciri ketakwaan seorang Mukmin. Tapi bagaimana mengimani sesuatu yang tak terlihat oleh mata?

         Indonesia pernah mengalami ‘kejayaan’ dalam masalah mistik. Yaitu, saat bangsa kita dikuasai para raja yang mempunyai ilmu kedigdayaan, ajian ampuh dan senjata sakti. Ironisnya, di tengah tingginya kesaktian para raja itu, mereka tak berkutik menghadapi penjajah. Buktinya, selama 350 tahun, bangsa kita dibuat takluk di bawah ketiak penjajah Belanda. Kesaktian Keris Empu Gandring milik Ken Arok, Pedang Nagapuspa punya Arya Kamandanu dan Ajian Lampah Lumpuh milik Brama Kumbara, nyatanya tak bisa diandalkan untuk menghalau penjajah. Ini menunjukkan bahwa kisah-kisah mistik itu hanya catatan sejarah yang sulit dibuktikan kenyataannya.

Kini alam sudah berubah. Namun, kisah-kisah mistik berbau klenik itu tetap saja mencengkeramkan kukunya. Dalam beragam kegiatan, sebagian masyarakat tak bisa melepaskan diri dari jeratan mistik. Para orang tua masih banyak yang tak mau menikahkan anaknya kecuali setelah menghitung hari baik dan buruk. Pembangunan jembatan, rumah dan gedung, selalu diwarnai sesajian. Kultus individu terhadap tokoh tertentu—dengan dalih takut kualat—tetap menjadi ciri khas sebagian masyarakat Muslim Indonesia.

 

Di tengah berkembangnya ilmu pengetahuan yang bersifat rasional, tayangan-tayangan mistik di beberapa televisi justru diminati. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih belum bisa melepaskan diri dari jeratan mistik.

Kita tentu mengkhawatirkan fenomena ini. Sebab, akibat kebiasaan yang dibarengi dengan keyakinan yang tak ada sama sekali tuntunannya dalam syariat, bisa jatuh pada kemusyrikan. Sedangkan syirik sendiri dalam Islam termasuk dosa besar yang tak terampunkan. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Allah akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki,” (QS an-Nisa’ : 116).

Bicara masalah mistik, kita tak bisa melepaskannya begitu saja dengan masalah gaib. Keduanya ibarat laut dengan garam yang tak mungkin dipisahkan. Terkait dengan masalah gaib, ada beberapa kelompok manusia yang bisa dicermati.

Pertama, mereka yang sama sekali tak percaya dengan hal gaib. Umumnya, orang-orang seperti ini selalu mengandalkan akal dan memuja-muja logika. Karenanya, mereka tak mau percaya dengan keberadaan jin, surga, neraka, malaikat dan hal-hal gaib lainnya. Menurut mereka, segala sesuatu bisa dinilai dengan akal. Karenanya, tak heran kalau sebagian dari mereka banyak yang tidak mengakui keberadaan Tuhan lantaran tak pernah melihat-Nya.

Namun, keyakinan kelompok ini bisa berbalik seratus delapan puluh derajat ketika akalnya tak mampu mencerna. Sekali saja mendapatkan  sesuatu yang tak bisa diterima akalnya, ia akan percaya begitu saja dengan hal-hal yang berbau mistik.

Kedua, mereka yang mempercayai masalah gaib tanpa batas. Berbeda dengan kelompok pertama, golongan ini justru selalu mengaitkan segala sesuatu dengan hal-hal gaib. Peristiwa apa pun selalu dihubungkan dengan mistik. Bahkan, dunia politik yang benar-benar mengedepankan unsur kemanusiaan dan akal sehat, dikaitkan dengan masalah gaib. Turun dan naiknya presiden dihubungkan dengan mistik.

Karenanya, dalam melakukan kegiatan, mereka selalu menghitung hari baik, menggelar sesajian, dan meyakini pantangan-pantangan tertentu. Kelompok ini terbagi dua. Ada yang melakukannya dengan sadar, seperti para dukun, peramal, tukang santet dan tukang sihir. Orang-orang seperti ini benar-benar sadar bahwa mereka sudah diperbudak oleh makhluk gaib atau paling tidak melakukan kerja sama.

Namun, ada juga yang melakukannya secara tidak sadar. Misalnya, pada hari-hari tertentu mendatangi makam-makam keramat. Mereka tidak sadar sudah melakukan tindakan syirik. Atau, mandi air tujuh kembang agar jabatannya naik. Menyembelih kambing dan menggantungkannya di atap rumah yang baru dibangun. Semua tindakan ini bisa menjerumus pada perbuatan syirik yang kadang tak disadari oleh pelakunya.

Ketiga, mereka yang mempercayai hal gaib sebatas yang diberitahukan Allah melalui al-Qur’an dan diisyaratkan Rasulullah saw dengan hadits. Kelompok inilah yang mestinya diikuti kaum Muslimin. Sebagai seorang Muslim, kita harus mempercayai masalah gaib. Bahkan, Allah SWT menjadikan kepercayaan terhadap hal yang gaib ini sebagai salah satu dari tanda orang bertakwa. Allah berfirman, “Alim Lam Mim. Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman pada yang gaib,” (QS al-Baqarah: 1-3).

Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an al-Azhim mengutip ucapan Qatadah bahwa yang dimaksud dengan hal yang gaib dalam ayat di atas adalah segala hal yang tak dapat dilihat atau dirasakan oleh manusia. Karenanya, hakikat gaib tak ada yang tahu kecuali Allah SWT. Bahkan, Rasulullah saw sendiri pun tak mengetahui apa-apa tentang hal gaib kecuali yang diberitahukan Allah SWT. Dia berfirman, “Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,” (QS al-An’am: 59).

Karenanya, jika ada yang mengaku bisa meramal apa yang akan terjadi di masa mendatang, atau mengetahui hal-hal gaib, jelas tak bisa dipercaya. Seandainya pun benar, tetap tak bisa dibenarkan. Aisyah meriwayatkan bahwa suatu ketika para sahabat bertanya pada Rasulullah saw tentang para dukun. Rasulullah saw bersabda, “Mereka tidak bisa berbuat apa pun.” Para sahabat bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, mereka kadang-kadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami?” Rasulullah saw menjawab, “Ucapan mereka itu berasal dari kebenaran yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke telinga para walinya (dukun). Para dukun itu mencampurkan kalimat yang benar dengan seratus kedustaan,” (HR Bukhari Muslim).

Islam sangat mengecam orang-orang yang suka mendatangi dukun. Dalam sebuah haditsnya Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya ia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw,” (HR Bukhari Muslim).

Dalam hadits lain, Rasulullah saw mempertegas balasan orang yang mendatangi dukun, “Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu dan dia mempercayainya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari,” (HR Muslim).

Mungkin sudah banyak yang meyakini bahwa mendatangi dukun atau peramal, dilarang agama. Masalahnya, setan selalu punya cara untuk menggelincirkan manusia. Ia bisa datang lalu membisiki sang dukun untuk berpenampilan seperti kiai, syaikh atau orang biasa. Dengan demikian, banyak yang terkecoh karena menganggap orang yang dia datangi bukan dukun. Karenanya, dalam menghadapi beragam pengobatan alternatif yang kian semarak, umat Islam harus waspada. Kaum Muslimin mesti bisa membedakan mana dukun dan orang alim.

Sebenarnya, tak terlalu sulit untuk membedakannya. Lihat saja kehidupan dirinya dan keluarganya. Jika dalam kesehariannya jauh dari nilai-nilai keislaman, seperti tidak shalat, terisolir dari masyarakat, sering melakukan hal-hal aneh, maka orang seperti ini tidak boleh didatangi.

Sebaliknya, sosok yang hafal al-Qur’an, alumni sebuah lembaga Islam yang bisa dipertanggungjawabkan, dan hidup dalam lingkungan Islami serta bisa diterima oleh lingkungannya, layak dijadikan referensi.

Jadi, untuk melihat hal gaib kita tak boleh menggunakan kaca mata biasa. Kita harus menggunakan kaca mata syariat yang bisa menembus sekaligus menyaring hal-hal yang melenceng dari Islam.

 

Oleh : Hepi Andi Bastoni

Kategori
Hikmah

Ya Allah… Izinkan Aku Korupsi

korupsiYa Allah… izinkan aku korupsi. Toh, aku tidak korupsi untuk memperkaya diri, tetapi untuk menyumbang masjidmu agar megah dan kokoh berdiri

Masjid menjawab: Aku tak butuh sumbanganmu! Tanpa 1 rupiah pun darimu, aku akan tetap berdiri. Aku dibangun untuk tempat bersujud kepada Dzat yang Maha Suci, jangan rusak kesuciannya dengan hasil korupsi. Dzat yang Maha Suci itulah yang akan menggerakkan hati-hati suci untuk berinfaq, meskipun ada yang hanya mampu seribu perak.

Ya Allah… izinkan aku korupsi. Toh, ini bukan untuk diriku sendiri, tetapi untuk sekolah Islam agar bisa berkembang dan mencerdaskan masyarakat di sini

Sekolah menjawab: Aku tak butuh uangmu! Aku dibangun agar menjadi tempat pewarisan ilmu.Biarlah atapku bocor, asal hati anak didik tidak kotor. Biarlah dindingku retak, asal jiwa murid tidak rusak. Biarlah catnya mengelupas, asal para gurunya tetap ikhlas. Keikhlasan para guru mendidik dengan gaji seadanya dan sumbangan halal dari masyarakat kecil membuat ilmu di sini laksana susu yang bersih dan menyehatkan. Sementara hasil korupsimu, laksana darah yang mengotori segala minuman; ia beracun dan mematikan.

Ya Allah… izinkan aku korupsi. Toh, ini tak kunikmati, tetapi untuk membangun rumah sakit agar warga terobati
Rumah sakit menjawab: Aku tak butuh bantuanmu. Aku tak ingin pasienku sembuh dari penyakitnya, tetapi menanggung beban di akhirat sana. Aku tak ingin ada darah yang tercampur uang dosa. Aku tak ingin ada injeksi dari uang korupsi yang membuat Malaikat Rahmat justru lari. Tanpa bantuanmu pun, rumah sakit ini akan tetap beroperasi.

Ya Allah… izinkan aku korupsi. Toh, ini bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk menopang dakwah yang kau cintai

Dakwah menjawab: Aku tak pernah sudi dengan infak hasil korupsi. Tanpa uangpun, aku akan tetap jalan. Selama matahari masih terbit dari timur, selama itu aku bergerak dan takkan pernah hancur. Aku senantiasa memiliki penyeru yang ikhlas, yang tetap berjuang meskipun ekonominya sangat terbatas. Allah akan memenangkan aku walaupun kamu dan orang-orang sepertimu meninggalkanku dan tak pernah membantu. Dana korupsi darimu hanya membuat jarak antara aku dan kemenangan semakin panjang.

Ya Allah… izinkan aku korupsi. Toh, ini untuk membantu orang dhuafa’ dari hamba-hambaMu

Kaum dhu’afa menjawab: Kami tak pernah berharap sedekahmu. Jika kami tahu apa yang kau sedekahkan adalah haram, tentu kami akan menolaknya dengan lantang! Kami lebih suka miskin tetapi mudah hisabnya, daripada menerima bantuanmu dan di akhirat ikut ditanya, ikut menanggung resikonya. Kami lebih suka menahan lapar, daripada di akhirat tubuh kami dibakar. Kami lebih suka menahan dahaga, daripada meminum panasnya timah di neraka. Kami lebih suka kurus kerontang, daripada gemuk dari korupsi yang neraka lebih berhak atasnya.

Allah SWT berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj : 37)

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah:14-15). [AM09]gu Diposkan oleh Admin BeDa

Kategori
Hikmah

Dahsyatnya Silaturahim. Ini Buktinya.(-2 habis)

OLYMPUS DIGITAL CAMERAPentingnya berkomunikasi atau silaturahim, dijelaskan Prof H Deddy Mulyana MA Ph D, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung. Prof Deddy kemudian mengungkapkan beberapa contoh hasil penelitian.

Pada abad ke-13, Penguasa Sicilia melakukan percobaan dengan memasukkan sejumlah bayi ke labotatorium. Bayi-bayi itu dimandikan dan disusui oleh ibu-ibu mereka, tapi tidak diajak bicara. Akibatnya sangat mengejutkan. Semua bayi dalam percobaan itu mati.

Tahun 1915, seorang dokter di Rumah Sakit John Hopskin menemukan 90 persen dari semua bayi di Panti Asuhan Baltimore, Maryland, meninggal dalam satu tahun. Tahun 1944, seorang psikolog menemukan 34 dari 91 anak panti asuhan yang diamatinya juga meninggal.

Menurut Prof Deddy, korelasi positif antara komunikasi yang efektif (tulus, hangat dan akrab) dengan usia panjang juga telah didukung oleh penelitian terbaru yang dilakukan Michael Babyak dari Universitas Duke dan beberapa rekannya dari beberapa universitas di Amerika Serikat.

Lewat penelitian yang melibatkan 750 orang kulit putih dari kelas menengah sebagai sampel dan memakan waktu 22 tahun, para peneliti menemukan orang-orang yang berkomunikasi kurang efektif (tidak suka berteman, memusuhi dan mendominasi pembicaraan) berpeluang 60 persen lebih tinggi menemui kematian pada usia dini dibanding orang-orang yang berperilaku sebaliknya (ramah, suka berteman, berbicara tenang).

Bahkan, pelaku penembakan yang dilakukan seorang mahasiswa S3 di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat yang menewaskan banyak orang tahun lalu, kata Deddy, berlatarbelakang orang tua yang tidak suka bergaul.

Ia menjelaskan, tidak sulit menduga watak tertentu menimbulkan respons tubuh tertentu pula. Misalnya, kita bisa melihat reaksi tubuh bagian luar orang yang sedang marah: muka merah, mata melotot dan berwarna merah, badan gemetar, berkeringat, kulit menegang dan gigi bergemeletuk.

Dalam konteks ini, sambung Deddy, Babyak dan kawan-kawannya menduga, orang-orang dari golongan pertama secara kronis lebih cepat dibangkitkan dan  terkena stres. Hal itu membuat mereka menghasilkan lebih banyak hormon stres yangg merugikan dan lebih berisiko terkena penyakit jantung.

Semua hasil penelitian di atas, kata Deddy Mulyana, sebenarnya memperkuat hadis Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan Muslim, Bukhari dan Abu Dawud yang artinya, ”Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.”

Yang menarik, kata dia, teori silaturahim atau berkomunikasi ini sudah diungkapkan sang ilmuwan sejati, Nabi Muhammad saw, 14 abad yang lalu. ”Berbahagialah orang yang senang bersilaturahim,” jelas Deddy pada Launching dan Bedah Buku ‘Berhenti Kerja Semakin Kaya’ di Jakarta Rabu (23/1) malam.

Sumber: Republika Online

Kategori
Hikmah

Dahsyatnya Silaturahim. Ini Buktinya.(1)

Oleh Damanhuri Zuhri

OLYMPUS DIGITAL CAMERA//Silaturahim// yang dalam bahasa Indonesia berarti menyambungkan kasih sayang, memiliki kedahsyatan. Tak percaya? Ini buktinya. Berbekal silaturahim, Aqua Dwipayana, penulis buku ‘Berhenti Kerja semakin Kaya’ banyak mendapatkan kemudahan.

Tak hanya dalam bentuk materi, tapi juga kemudahan lainnya.”Sampai saya mudah melakukan perjalanan ke sejumlah negara seperti Myanmar, Laos, Vietnam, Thailand, Malaysia dan Singapura belum lama ini,” ungkap Aqua pada  peluncuran dan bedah buku ‘Berhenti Kerja Semakin Kaya’ di Jakarta Rabu (23/1) malam.

Hobi bersilaturahim, sudah dilakukan Aqua sejak kecil. Itu ia lakukan mencontoh almarhum ayahnya. Kepada semua anaknya, kata Aqua, ayahnya selalu mengajarkan untuk bersilaturahim kepada teman-temannya.

Walau pun ia sendiri tak mengerti apa yang dibicarakan sang ayah dengan teman-temannya, ayahnya memberikan contoh tentang perlunya menjalin silaturahim dengan banyak orang terutama teman-teman ayahnya.

Hasil pembelajaran silaturahim yang ditanamkan sang ayah, ia petik ketika duduk di bangku kelas II SMA tahun 1986. Ia dengan mudahnya keliling Indonesia dengan modal uang seadanya. ”Saya sampai ke Makassar hingga ke Balikpapan, berkat bantuan teman-teman ayah,” ujarnya penuh syukur.

Sebelum keliling Indonesia, ayahnya menelpon dan berkirim surat kepada teman-temannya bahwa anaknya akan mengunjungi berbagai kota di Indonesia. Dengan ongkos seadanya, pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara 23 Januari 1970 ini, bisa berkeliling Indonesia selama dua bulan tiga hari dengan menumpang pesawat, kapal laut dan bus.

”Ternyata yang namanya silaturahim atau dalam bahasa modern sering disebut networking, merupakan sesuatu yang sangat diperhatikan bahkan didorong dalam islam,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip hadis Nabi saw yang diriwayatkan Muslim, Bukhari dan Abu Dawud yang artinya, ”Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambungkan (tali) silaturahim.”

Sumber: Republika Online

Kategori
Hikmah

Agar Mudah Bersabar dan Bersyukur

Oleh: Nashih Nashrullah

Alquran mengisahkan, bagaimana kesabaran Nabi Ayub AS menerima cobaan. Ia merasakan tiga penderitaan sekaligus, yaitu rasa sakit, kesedihan, dan kesendirian. Allah SWT mengujinya dengan harta, keluarga, dan penyakit.

Hartanya musnah, ia ditinggal istri dan tak lagi memiliki teman, dan ia  menderita penyakit kulit akut. Ini seperti tertuang di surah al-Anbiya’ ayat 83-84. Ia tetap bersabar. Buah kesabaran itu, ia akhirnya sembuh dan meraih kasih sayang Allah.

Bersabar tak hanya pada hal yang tidak disukai, tapi makna bersabar juga mencakup menahan diri dari nafsu ketika mendapat nikmat. Seperti kala mendapat promosi jabatan atau rezeki tak terduga.

cat_0034Beberapa cara bisa ditempuh untuk mudah bersabar. Ini sejatinya adalah ‘perangkat lunak’ dalam diri kita sebagai anugerah dari Allah. Di antaranya ialah memperbanyak senyum. Jika sedang terbakar emosi, tersenyumlah. Senyum adalah obat hati yang mujarab.

Bisa juga dengan cara mengalihkan perhatian, yaitu melupakan masalah itu sendiri. Melupakan, bukan berarti lari dari masalah, tetapi menghindari keterpakuan terhadapnya. Coba juga cara ini, yaitu tidak menelan mentah-mentah perkataan orang lain dalam hati. Saringlah baik-baik.

Bagaimana dengan syukur? Hakikat syukur ialah mengungkapkan pujian kepada Sang Pemberi Kebahagiaan, yaitu Allah. Sebab, segala anugerah datang dari-Nya. Ini kemudian diejawantahkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Bersyukur artinya berbuat baik untuk diri sendiri dan orang lain.

Dengan syukur, Allah akan mempermudah jalan bagi kita untuk meraih impian dan kesuksesan. Tanpa disertai syukur, bisa saja Allah berkehendak mencabut nikmat itu seketika. Lalu, bagaimana membiasakan diri bersyukur?

Ini bisa dilakukan setiap hari menjelang malam, salah satunya. Pejamkan mata dan renungkan apa saja kenikmatan di hari itu yang telah Anda terima. Berterima kasihlah kepada Allah. Dengan begitu, kita akan menyadari bahwa nikmat Allah sangat besar.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nahl [16]: 18).

Dan, syukur harus menjadi sarana taat kepada Allah. Ketika banyak rezeki, jangan hanya dibicarakan, berbuatlah sesuatu yang bermanfaat. Bantulah sesama yang membutuhkan. Tunaikan zakat dan berinfaklah. Karena, kesemuanya itu adalah bukti nyata rasa syukur.

Sumber: Republika Online