Kategori
Artikel

Coronavirus dan Hewan Kesayangan

Bahayakah COVID-19 bagi Hewan Kesayangan ?

Virus korona berasal dari hewan tetapi apakah itu berbahaya bagi hewan kesayangan? Inilah yang ingin kita ketahui tentang COVID-19 dan hewan kesayangan.

Virus corona telah hidup dan berkembang pada hewan selama ribuan tahun, tetapi hanya sedikit yang diketahui menyebabkan penyakit pada manusia. Coronavirus yang menjadi pusat pandemi saat ini, SARS-CoV-2, sangat mudah menyebar dari manusia ke manusia. Pada awal April – hanya empat bulan setelah pertama kali terdeteksi – virus telah menginfeksi lebih dari 1 juta orang dan menyebar ke lebih dari 180 negara.

Ternyata SARS-CoV-2 juga dapat menyerang sel hewan. Para ilmuwan percaya bahwa penyakit ini berasal dari kelelawar di Cina sebelum melompat ke hewan perantara dan dari sana, ditemukan jalannya menginfeksi ke manusia. Virus ini mampu menyuntikkan dirinya ke dalam sel dengan mengikat protein permukaan sel yang dikenal sebagai ACE2 yang terdapat pada banyak spesies hewan.

Melacak pandemi coronavirus

Beberapa laporan media telah menunjukkan bahwa coronavirus dapat menginfeksi hewan kesayangan kita – dan lebih banyak spesies eksotik seperti harimau dan singa – tetapi kasusnya jarang. Tampaknya penularan penyakit dari manusia ke hewan rendah, dan tidak ada alasan untuk berpikir kita mungkin tertular penyakit dari hewan peliharaan kita seperti kucing yang telah berada di lingkungan kita. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan “tidak ada bukti bahwa seekor anjing, kucing, atau hewan peliharaan apapun yang dapat menularkan COVID-19.”  Namun, pemilik hewan peliharaan khawatir tentang kesehatan hewan peliharaannya dan khawatir COVID-19 dapat menularinya.

Dari mana coronavirus berasal?

Coronavirus ini, SARS-CoV-2, adalah yang dikenal sebagai penyakit zoonosis: melompat dari spesies hewan ke manusia.  Mempelajari susunan genetik dari coronavirus dan membandingkannya dengan data referensi sebelumnya dikenal sebagai coronavirus, para ahli menyarankan virus tersebut kemungkinan muncul dari kelelawar di Tiongkok, sebelum melompat ke spesies perantara yang kontak dekat dengan manusia. Beberapa ilmuwan meyakini bahwa perantara tersebut mungkin adalah trenggiling, mamalia bersisik pemakan semut yang telah terbukti mengandung virus corona di masa lalu dan merupakan salah satu hewan yang diperdagangkan secara ilegal di dunia.

Trenggiling dijual di pasar hewan hidup di Tiongkok sebagai “pusat wabah” tetapi jurnal medis The Lancetmenerbitkan melaporkan tentang pasien yang terinfeksi penyakit ini bahwa pasien pertama yang diidentifikasi tidak terpapar dengan hewan pasar.

Tentang kisah asal-usul SARS-CoV-2, kita tahu bahwa coronavirus mampu menginfeksi semua jenis spesies – apakah virus tersebut menyebabkan penyakit atau tidak, pertanyaan masih memerlukan jawabannya.  Para ahli epidemiologi ingin mengetahui spesies mana yang dapat menampung virus sehingga virus tersebut dapat bertahan di lingkungan dan seberapa besar kemungkinannya untuk menular kembali ke manusia.

Bisakah coronavirus menginfeksi kucing dan anjing?

Coronavirus tidak terlalu sulit untuk bisa cocok hidup ketika masuk ke inang potensial – virus tersebut telah terdeteksi di banyak spesies mamalia dan burung, termasuk anjing dan kucing, serta ternak seperti sapi, ayam dan babi.

Ada beberapa laporan yang memberikan bukti infeksi SARS-CoV-2 pada hewan peliharaan rumah tangga. Seekor anjing 17 tahun di Hong Kong diuji berulang hasilnya “lemah positif” untuk coronavirus pada bulan Maret dan kemudian mati. Seekor kucing di Belgia dinyatakan positif menderita penyakit itu pada 24 Maret 2020.  “Hewan peliharaan ini hidup dengan pemilik yang terinfeksi, dan waktu hasil positif menunjukkan transfer manusia ke hewan,” kata Jacqui Norris, seorang ilmuwan hewan di University of Sydney di Australia. “Kultur virus pada hewan peliharaan ini negatif, artinya virus yang aktif tidak ada.” 

Sebuah studi oleh para peneliti di Harbin Veterinary Research Institute di Cina, yang diunggah ke bioRxiv pada 30 Maret dan belum ditinjau oleh rekan sejawat, meneliti kerentanan sejumlah spesies terhadap COVID-19, termasuk kucing dan anjing, menggunakan binatang berjumlah sedikit.  “Orang-orang tampaknya lebih berisiko terhadap hewan peliharaan mereka daripada hewan-hewan tersebut terhadap kita.” Kata Glenn Browning, ahli mikrobiologi hewan

Hasil menunjukkan bahwa kucing dapat terinfeksi dengan coronavirus dan mungkin dapat menyebarkannya ke kucing lain melalui tetesan pernapasan. Tim menempatkan hewan yang terinfeksi dalam kandang di sebelah tiga hewan tanpa penyakit dan menemukan, dalam satu kasus, virus telah menyebar dari kucing ke kucing. Namun, kucing tidak menampakan tanda-tanda penyakit.

Anjing tampaknya lebih tahan. Lima anjing pemburu beagle berusia 3 bulan diinokulasi dengan SARS-CoV-2 melalui saluran hidung dan ditampung dengan dua anjing yang tidak diberi virus. Setelah satu minggu, virus tidak terdeteksi pada anjing manapun, tetapi dua telah menghasilkan respons kekebalan. Kedua anjing yang tidak menerima virus tidak mendapatkan respons kekebalan dari anjing-anjing lainnya.

Salah satu kunci yang diambil, seperti yang diperhatikan oleh Nature, adalah bahwa percobaan ini dilakukan di dalam laboratorium dan dosis tinggi dari coronavirus digunakan untuk menginfeksi hewan, yang kemungkinan tidak mencerminkan kondisi kehidupan nyata. Namun demikian, kucing tampaknya rentan terhadap infeksi, dan penulis mencatat harus dipertimbangkan untuk dilakukan pengkajian lebih lanjut.

Laboratorium Referensi IDEXX, sebuah konsorsium laboratorium penguji di seluruh dunia, mengumumkan pada bulan Maret bahwa mereka telah membuat alat uji untuk kucing dan anjing. Setelah melakukan tes pada lebih dari 4.000 spesimen dari AS dan Korea Selatan, tidak ada yang positif. Departemen Pertanian AS telah menyatakan tidak akan menguji hewan peliharaan kecuali pengujian telah disetujui oleh otoritas kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat karena “Terkait dengan kasus manusia COVID-19 yang diketahui.”

Bisakah hewan lain terinfeksi oleh SARS-CoV-2?

Banyak spesies yang rentan terhadap infeksi karena mengandung protein yang dikenal sebagai enzim pengubah angiotensin 2, atau ACE2.  Itu karena virus itu sendiri tercakup dalam proyeksi runcing yang dapat menempel pada protein ACE2 pada permukaan sel hewan. “Paku” coronavirus kemudian menancap pada reseptor sel inang dan masuk menyerang sel inang untuk melakukan replikasi.

Menggunakan basis data dan pemodelan komputer, para peneliti telah memeriksa gen spesies untuk mengetahui apakah protein ACE2 dalam sel mereka dapat digunakan oleh SARS-CoV-2. Sebuah studi baru-baru ini, yang diterbitkan dalam jurnal Microbes and Infection pada 19 Maret, menunjukkan SARS-CoV-2 dapat mencapai reseptor ACE2 dari banyak spesies yang berbeda – termasuk kelelawar, kucing musang dan babi – dan memperkirakan bahwa itu juga dapat lakukan pada kambing, domba, kuda, trenggiling, lynx dan merpati.  Penelitian yang dilakukan oleh Harbin Veterinary Research Institute di Cina menunjukkan bahwa virus bereplikasi buruk pada ayam, bebek, dan babi.

Kasus koronavirus pertama yang dikonfirmasi pada hewan di AS didokumentasikan pada 5 April, ketika Nadia yang berusia 4 tahun, seekor harimau Melayu di Kebun Binatang Bronx, ditemukan tertular virus tersebut, kemungkinan berasal dari zookeeper yang terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala.

Bisakah kita mendapatkan COVID-19 dari hewan peliharaan?

Masih banyak yang kita tidak tahu tentang penularan SARS-CoV-2, tetapi poin paling penting untuk ditegaskan: Ada sedikit bukti bahwa virus corona disebarkan oleh hewan peliharaan dan hewan kesayangan.  “Sama sekali tidak ada bukti apapun bahwa hewan peliharaan memainkan peran dalam epidemiologi penyakit ini,” kata Trevor Drew, direktur Australian Animal Health Laboratory.

Drew dan rekan-rekannya di AAHL sedang menguji vaksin dalam ferret dalam uji pra-klinis untuk menilai keamanan dan efikasi vaksin baru. Ferret digunakan dalam percobaan karena mereka sangat rentan terhadap infeksi oleh coronavirus. Drew mencatat bahwa para peneliti di AAHL tidak melihat “penyakit klinis terbuka” pada ferret tersebut, tetapi “ferret tampaknya bisa mereplikasi virus.”

Mungkin SARS-CoV-2 dapat menginfeksi ferret, tetapi tidak dapat cukup melakukan replikasi yang menyebabkan gejala yang sesuai dengan definisi COVID-19 pada manusia.

Mungkin kita bertanya-tanya apakah kita bisa memperoleh virus dari bulu hewan peliharaan?

Risikonya rendah – tetapi tidak nol – karena coronavirus dapat bertahan hidup di permukaan dan dapat ditularkan melalui tetesan. Secara teori, ini mungkin bertahan pada bulu, jadi kita harus selalu mencuci tangan sebelum dan setelah berinteraksi dengan hewan peliharaan jika kita merasa tidak sehat.

Orang-orang tampaknya lebih berisiko terhadap hewan peliharaan mereka daripada kita,” kata Glenn Browning, seorang ahli mikrobiologi veteriner di University of Melbourne, Australia.

Bagaimana cara melindungi hewan peliharaan?

Jika kita merasa tidak sehat dan yakin kita mungkin telah “kontrak” COVID-19, hal pertama yang harus kita lakukan adalah dites. Jika kita curiga kita tidak sehat, rekomendasi dari US Centers for Disease Control and Prevention adalah “membatasi kontak dengan hewan peliharaan dan hewan lain, seperti halnya kita terhadap orang lain.”

Metode perlindungan terbaik tetap pencegahan. Ada sejumlah besar sumber daya yang tersedia dari WHO untuk mengurangi risiko infeksi Anda, dan langkah-langkah utama sebagai berikut:

• Cuci tangan selama 20 detik dan tidak kurang!

• Pertahankan jarak sosial: usahakan untuk menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk atau bersin.

• Hindari menyentuh wajah, mata, atau mulut: tugas yang sulit, tetapi dengan jalan ini awal virus masuk ke dalam tubuh.

• Tindakan kebersihan pernafasan: batuk dan bersin ke siku!

Jika kita sakit, agar hewan peliharaa kita untuk dikarantina di rumah dan dibatasi kontak dengan yang orang sakit.Orang yang sakit tidak harus mengisolasi hewan peliharaannya, tetapi cobalah untuk membatasi hewan di satu atau dua kamar di rumah, kita yang sakit mengenakan masker ketika di sekitar hewan dan sering cuci tangan.

Apakah ada vaksin untuk COVID-19 pada anjing dan kucing?

Seperti halnya manusia, tidak ada vaksin yang tersedia terhadap COVID-19 saat ini. Ada vaksin coronavirus anjing, tetapi bukan untuk memberikan perlindungan terhadap COVID-19 (Catatan: Australian Veterinary Association tidak merekomendasikannya untuk virus ini).

Ada banyak uji klinis yang sedang dilakukan pada manusia, dan berbagai pilihan pengobatan yang berbeda. Sementara secara teori dapat diubah untuk spesies yang berbeda (dan beberapa bahkan akan diuji di dalamnya), vaksin yang paling menjanjikan dalam pengembangan saat ini sedang dirancang hanya untuk digunakan pada manusia.

Sumber:

Source: CNET

https://www.cnet.com/how-to/coronavirus-and-pets-how-covid-19-affects-cats-and-dogs/

diunduh tanggal 7 April jam 08:00