Kategori
Artikel Berita Terbaru

Dampak Penyakit Kecacingan Pada Performans ternak

Berdasarkan Kepmentan No.4026 Tahun 2013, menyatakan ada beberapa penyakit menular strategis yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama salah satunya penyakit Helminthiasis (kecacingan).

Sasaran pengendalian penyakit parasiter terutama pada pedet dan sapi muda umur kurang dari 1 tahun.  Hal ini dilatar belakangi oleh beberapa pertimbangan seperti pertumbuhan/perkembangan pedet di peternak tergolong  lambat,  banyak ditemukan kekurusan (kahexia), masih tingginya  kematian pedet  (post partus sampai dengan umur  1 minggu), peningkatan berat badan relatif sangat kecil, pemeliharaan ternak menjadi tidak efektif/tidak efisien , masih banyak ditemukan permasalahan manajemen (omphalitis, diare, gangguan metabolisme. Pengendalian penyakit kecacingan ini  adalah memberikan kontribusi dalam peningkatan populasi ternak, peningkatan perfoma / pertumbuhan ternak serta penyediaan dan pemenuhan kebutuhan daging.

Dampak Kecacingan pada ternak

  • menyebabkan kematian pedet umur 2 bulan ke atas yang sangat tinggi.
  • Parasit yang paling banyak ditemukan meliputi Neoascaris vitulorum, Trichostrongylus, Ostertagia, Nematodirus, bunostomum dan Haemonchus contortus
  • Pneumonia verminosa, disebabkan oleh cacing Dictyocaulus viviparus. Pedet yang terserang terbanyak berumur 4-5 bulan keatas
  • Kerugian ekonomis yang ditimbulkan akibat parasit cacing tersebut adalah pengurangan pertambahan bobot badan harian (average daily gain = ADG) mencapai 0,1 kg per hari,
  •  Penurunan status reproduksi (calving interval menjadi lebih panjang), serta kematian pedet maupun sapi muda.
  • Kerugian  ekonomi   akibat fasciola  berupa penurunan berat badan dan karkas, produksi susu, gangguan reproduksi hingga kematian. Beberapa usaha pencegahan berupa pemusnahan hospes intermedier (siput) dan rotasi penggembalaan telah dilakukan. Hal tersebut sangat sulit dan tidak efektif dilakukan di Indonesia karena peternak umumnya hanya memiliki sedikit hewan (1-5 ekor) dan kurangnya lahan rumput untuk penggembalaan.
  • Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh Fasciola diperkirakan sekitar 153,6 milyar rupiah setiap tahunnya (Anonim, 1990). Kerugian ekonomi tersebut berupa kerusakan hati, kekurusan, dan penurunan tenaga kerja pada sapi/kerbau yang terinfeksi.
  • Parasitisme internal ini mempengaruhi produktivitas dan reproduktivitas sapi betina, menurunkan daya tahan terhadap penyakit dan merupakan penyebab signifikan kematian pedet.

Melihat data kasus kecacingan

Hasil penelitian Abidin, 2002 dan Suhardono, 2005 menyatakan kasus kecacingan di peternakan sapi potong rakyat mencapai 90% bahkan lebih. Pada 2011, kejadian di  Jawa  prevalensi nematodosis 38%, fasciolosis 29% dan coccidiosis 3,8%. Provinsi Jawa Tengah (2009 – 2011): cestodiasis (6,56%),  fasciolosis (24,10 – 27,84%), microfilariasis (6,08%),  nematodosis (35,13 – 53,58%), strongylodosis (15,92%). Helminthiasis  yang tercatat antara lain fasciolasis, bunostomosis, haemonchosis, ascariasis, strongyloidosis, oesophagostomosis, serta paramphistomiasis. Data sekunder dari laporan tahunan 3 tersebut menunjukkan bahwa nematodisis, fasciolosis, strongylodosis dan coccidiosis merupakan parasitisme internal utama pada sapi potong di Jawa Tengah.

Kurang lebih 80% ternak ruminansia terutama sapi dan kerbau di Indonesia terserang Fasciolosis, prevalensi fasciolosis di Indonesia berkisar antara 60%-90% (Suhardono, dkk., 1991).  Kejadian fasciolosis, Spesies F. gigantica yang banyak ditemukan di Indonesia. Ada tiga tipe F. gigantica di Indonesia, yaitu tipe 1 yang umum dijumpai berasal dari domba, kambing, sapi dan kerbau. Tipe 2 hanya dari kerbau di Jawa Tengah dan tipe 3 dari sapi Bali dan kerbau di Jawa Tengah. Pada infeksi yang berat dapat menyebabkan sirosis hati sehingga hati menjadi keras dan berkerikil akibat proses kalsifikasi pada saat disayat. Penelitian vaksin terhadap F. hepatica juga telah dilakukan di Australia, namun hasil yang diperoleh belum memuaskan.

cacing2

Secara epidemiologi, penyakit parasiter tersebar secara kosmopolitan pada peternakan sapi baik yang dikelola secara intensif maupun ekstensif dan rumitnya siklus hidup parasit hampir tidak memungkinkan pemberantasan parasit secara total. Jenis cacing yang menjadi target pengendalian dan pemberantasan meliputi Kelas Nematoda (Trichostrongylidae, Toxocara vitulorum, Trichuris sp), Kelas Cestoda (Moniezia sp), Kelas Trematoda (Fasciola gigantica, Paramphistomum sp), Kelas Protozoa (Eimeria/Coccidia).  Berdasarkan data Kementrian pertanian, angka prevalensi kasus kecacingan ( helminthiasis ) selama tahun 2012 adalah :

cacing3

Pendekatan pengendalian penyakit kecacingan terutama dilakukan pada kawasan komoditas sapi potong dan kerbau, pada kelompok peternak untuk menurunkan angka prevalensi dan menurunkan derajat infeksi parasit pada pedet dan ternak muda. Faktor pendukung yang dapat dioptimalkan meliputi  Puskeswan, laboratorium  veteriner, tenaga kesehatan hewan ( medik / paramedik ) baik mandiri, swasta ( perusahaan ) ataupun PNS.  Strategi yang dilakukan meliputi

1. Pemberian obat anti parasit untuk

  • menghilangkan atau mengurangi jumlah parasit dalam sapi,
  • mencegah atau mengurangi dampak patofisiologi infeksi terhadap inang
  • untuk mengurangi kerugian ekonomis akibat infeksi (BB, efiensi pakan, mortalitas)
  • menurunkan tingkat kontaminasi material infektif (telur, larva, kista) di lingkungan

2. Perbaikan tata laksana peternakan untuk memperkecil peluang terjadinya infeksi atau re-infeksi

Monitoring efektifitas pengobatan dilakukan dengan Pemeriksaan penurunan jumlah telur cacing dalam feses sebelum dan 7-10 hari sesudah pemberian obat cacing dan pengukuran berat badan sebelum dan sesudah pemberian obat.

Manfaat Pengobatan Cacing

Usaha pengobatan cacing Terhadap fasciolosis telah dilakukan dengan berbagai jenis obat seperti Diamphenetide, campuran Rafoxanide & Thiabendazol dan Rafoxanide & Diamphenetide, Bithionol dan Triclabendazol. Di Indonesia, pengobatan secara rutin hanya dilakukan oleh peternakan besar. Peternak kecil umumnya memperoleh pengobatan hanya pada saat tertentu oleh pemerintah daerah secara masal. Kondisi tersebut menyebabkan penyebaran fasciolosis semakin luas di Indonesia pada berbagai jenis ternak seperti domba, kambing, rusa dsb nya.  Manfaat pengobatan cacing melalui pemberian obat-obatan anthelmetika akan menghasilkan peningkatan ADG minimum sebesar 0,1 kg per hari dan secara umum akan meningkatkan status reproduksi maupun mempertinggi daya tahan tubuh.  Dalam hal reproduksi, akan memperpendek Calving interval dan menekan angka kematian pedet. Beberapa obat cacing yang beredar di lapangan, ditengarai cukup efektif, namun banyak diantaranya yang kurang aman diberikan pada sapi bunting.  Secara umum adalah perbaikan body condition scoring (BCS), serta peningkatan status reproduksi dan status kesehatan hewan .

Ada hal hal yang perlu dilakukan evaluasi mengenai cara pemberian obat, dosis, efektifitas obat yang diberikan selama ini. Pada pengobatan secara masal yang dilakukan pada pagi – siang hari, pemberian obat cacing kurang efektif dikarenakan sapi sudah diberikan sarapan pada pagi hari. Pemberian obat dilapangan jarang dilakukan dengan menghitung dosis berdasarkan berat badan, namun dilakukan dengan prediksi berat badan saja. Pemberian obat secara oral berupa bolus sebagian kurang efektif jika dilakukan tidak secara sempurna, berakibat bolus dikeluarkan kembali oleh sapi. Sehingga perlu dilakukan koordinasi dengan peternak agar pemberian obat cacing oral dilakukan sebelum sapi makan, bagi petugas harus mempersiapkan alat timbang sapi atau pita ukur, dan pemberian bolus dilakukan dengan memastikan obat masuk ke oesophagus dan ke saluran pencernaan. Kandungan obat yang bisa dijadikan referensi untuk mendapatkan pengobatan yang efektif dan efisien seperti nitroxinil untuk cacing hati, albendazol, menbedazol, untuk gastrointestinal, ataupun ivermectin kombinasi klorsulon, abamectine yang efektif untuk ektoparasit dan endoparasit serta aman untuk sapi bunting

Penulis: Drh Joko Susilo – Medik Veteriner Balai Veteriner Lampung

( Majalah Infovet Agustus 2013 )