Demi Gertak Birahi, Disepenggal Malam

“Sebuah catatan petugas gbib-gangrep di perjalanan”

IMG-20150910-WA0016Matahari mulai terbenam dibarat, kami beristirahat sejenak, menikmati azan berkumandang di kejauhan yang memanggil kami untuk segera menunaikan kewajiban. Gurat-gurat lelah mulai membayang diwajah teman-teman petugas inseminator, PKB dan ATR. Apalagi Pak Bondan dan drh. Aulia, rekan pendamping dari IPB yang baru saja sampai ke lokasi siang tadi dan langsung lanjut bekerja bersama kami. Akan tetapi, berbayang senja dari kejauhan beberapa petani tergopoh – gopoh menggiring sapinya.


“Ngapunten pak, sapi ne baru pulang. Jadi baru bisa dibawa sekarang…” dengan nafas tersengal dan wajah mengharap mereka menatap kami.


“Maghriban dulu ya pak…tenang wae dilayani kuabeh.” Fendi menenangkan mereka.


Selesai shalat, kami lanjut bekerja kembali. Sebagian besar petugas lapangan melakukan seleksi dengan palpasi perektal, sebagian mencatat, dan sebagian lagi mempersiapkan obat dan hormon.


“Endometritis …” kata Hamdu, dokter hewan muda memberi kode kepada tim recording. “Irigasi intra uterine…” katanya lagi. Hamdu segera kemudian menyiapkan povidone iodine, dan melakukan irigasi intra uterine.


“Hipofungsi…” dari kandang jepit disebelah pak Bondan memberi kode pada fendi. Penyuntikan Fertagil dan vitamin segera disiapkan oleh yang Aulia.


“Alhamdulilah… matur nuwun ya pak..” Senyum, petani yang mengembang seketika melelehkan lelah seharian.


“Jangan lupa sapi-sapinya diamati. Seandainya kalo minta kawin lapor, kalo belum sehat atau ada apa-apa lapor juga nggih.. ” Mereka mengangguk senang, menenteng mineral dan menggiring sapinya pulang kekandang.


Dan, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 20.00, perut mulai terasa keroncongan.


“Kita pulang ke martapura terus makan disana saja ya…” Pak Karman petugas IB senior tempat kami menginap mengajak.


Segera kami bersiap-siap, mengemas peralatan masing-masing. Didalam mobil, kami hanya diam, Fendi yang biasanya ceria dan selalu bercanda mulutnya seperti dikunci, hanya tangannya yang sibuk di belakang kemudi. Pak Karman tampak sedikit tegang, walaupun tidak diucapkan dengan kata-kata, kami tahu kami dalam resonansi yang sama. Sebentar lagi, kami akan melalui jalan yang kanan kirinya kebun karet dan sawit. Dan, apalagi selain begal yang paling ditakutkan oleh seluruh penghuni perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan ini. Daerah yang kami lalui sebentar lagi adalah daerah rawan yang terkenal lokasi terjadi begal.


Kebun karet tinggal beberapa ratus meter didepan, rumah penduduk dengan lampu redupnya semakin jarang. Mobil agak oleng ke kiri. Fendi kelihatan gugup.


“Ban mobilnya pecah…” Fendi menghentikan mobil dan turun.


Alhamdulilah, walaupun ini mungkin musibah tetapi pecah bannya bukan beberapa ratus meter didepan adalah anugerah. Masih ada penduduk yang di kanan kiri jalan.


Kami turun semua dan mobil dipinggirkan. Tidak lama berselang, pintu rumah dengan cahaya redup itu terbuka menyilakan kami masuk. Wajah ramah penuh ketulusan bagaikan setetes embun ditengah kemarau yang gersang. Kali ini proses mengganti ban berjalan tenang, karena kami aman. Allah memang maha baik, walaupun ditengah kesulitan selalu uluran bantuanNya.


Selesai mengganti ban serep kami pulang setelah berpamitan dengan Pak Kardi petani baik dan ramah itu. Alhamdulilah perjalanan melewati kebun karet dan sawit rawan begal bisa kami lewati dengan lancar dan selamat. Tidak terasa jam ditangan sudah menunjukkan pukul 22.00 wib. Makan malam masakan Bu Karman sudah menanti di meja makan. Laporan rekap harian via WA juga harus segera dilaksanakan. Bagaimanapun itu hari ini telah memberikan warna dalam hidup kami. Ditengah hiruk pikuk politik diluar sana, setidaknya kami telah bisa memberi arti buat petani di suatu tempat di pedalaman sumatera selatan ini. Walaupun setetes, kami harap dapat memberi sejuta manfaat. Semoga…


#Catatan dipenghujung malam dari Enny, Hamdu dan Fendi di Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan#

BERITA TERKINI