Kategori
Artikel

Diare Ganas Pada Pedet Sangat Mematikan

pedet2

Kejadian diare pada pedet menjadi catatan tersendiri yang membawa dampak sangat buruk dan berujung kematian jika tidak segera ditanganai. Pada peternakan sapi perah, kejadian diare pada pedet dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pedet terhadap agen infeksi. Pertama, pedet yang diberikan kolustrum secara cukup dan segera setelah kelahiran akan memberi proteksi lebih baik terhadap penyakit. Kedua, penanganan tali pusat setelah kelahiran agar selalu kering dengan pemberian iodine tincture. Jika tali pusat dalam kondisi lembab maka agen infeksius akan masuk ke tubuh yang pertama adalah alat pencernakan. Ketiga, pemberian air susu yang kurang higienis : susu basi, susu mastitis, susu tercemar dari tangan yang kotor, tempat susu kotor, atau tercemar dari lingkungan kandang akan sangat mudah menyebabkan diare. Faktor lainya adalah adaptasi pedet terhadap milk replacer pada masa awal substitusi susu dengan milk replacer.

Pada sapi potong, kejadian diare lebih banyak disebabkan karena infeksi lingkungan yang masuk atau berada di sekitar ke puting susu induk. Lingkungan kotor, lembab dan becek di kandang penggembalaan atau kandang intensif sangat potensial menjadi penyebab kejadian diare. Kejadian diare tertinggi terjadi pada musim penghujan dengan kondisi lingkungan becek dan kotor. Sering juga ditemukan pedet yang bermain di sekitar lahan sawit, minum air di selokan, kubangan, ataupun parit parit yang ada dan berujung diare. Gejala utama yang ditimbulkan adalah feses yang terlalu encer, pada tingkat berat disertai dehidrasi, lemah, lesu, nafsu makan turun, minum kadang ada atau tidak, dan terlihat kotor disekitar rectum dan bercampur darah.

Hal tersebut dibenarkan oleh Noffitra S.Pt. ( Kasi POH, Dinas Peternakan Kab. Bengkulu Utara ), kejadian diare sangat susah diatasi. Menurutnya, antibiotik / anti protozoa yang disediakan dinas tidak memberi kesembuhan pada diare. Ada dua kemungkinan penyebab diare susah ditangani, karena infeksi yang terlalu berat ataupun antibiotik / anti protozoa tidak sesuai. Dia merencanakan untuk tahun yang akan datang mengadakan antibiotik / anti protozoa yang lebih tepat dengan kandungan seperti penicillin streptomycin ataupun trimetrophin sulfa.

pedet

Diare Ganas disebabkan oleh protozoa

Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari Dr. drh. Umi Cahyaningsih Fakultas Kedokteran Hewan IPB yang telah melakukan penelitian terhadap protozoa penyebab diare pada pedet. Dirinya menjelaskan selain coccidia yang menyebabkan diare, Ookista Cryptosporidium parvum umum ditemukan pada feses anak sapi. Jumlah infeksi meningkat di bulan-bulan dengan  cuaca hangat dan lembab, daerah sanitasi buruk, padat penduduk, dan daerah pemeliharaan hewan. Banyak ditemukan dibawah membran terluar yang melapisi permukaan sel pada lambung dan usus halus. Transmisi dari Cryptosporodium parvum (sapi/orang) umumnya terjadi melalui kontak dengan air yang telah terkontaminasi.

Gejala klinis yang terjadi karena infeksi Cryptosporodium parvum pada pedet dengan periode inkubasi anak sapi  1-4 hari (rata-rata 4 hari), Anoreksia (tidak mau makan) , Diare , demam , Tenesmus (mulas), kejang perut , dan kehilangan berat badan. Diagnosa banding penyakit ini adalah Eschericia coli, Salmonella, dan Giardiasis/Lamblia. Umur pedet paling rentan infeksi umur 1 – 30 hari, dengan mengeluarkan ookista berjumlah 106-107/gram feses  dan anak sapi betina lebih rentan terinfeksi daripada jantan.

pedet3

Ookista C.parvum tahan terhadap klorinasi air dan dapat melewati beberapa macam model fil-trasi air minum. Cryptosporidium 240.000 kali lebih resisten terhadap klori-nasi dibanding Giardia .
C.parvum tahan dalam larutan klorin 1 dan 3 %
selama 18 jam. Penelitian lain menggunakan ozon 1ppm(1 mg/liter)selama 5 menit à mematikan 90% ( tapi aturan standar hanya 0,4 mg/ liter).
Ookista Cryptosporidium mati pada suhu -200C dan diatas 650C.

 Dari analisis penelitian dalam beberapa pengambilan sample air yang diperiksa didapatkan  data sebagai berikut:

pedet4

Cryptosporodium parvum bersifat zoonosis menular ke manusia. Pengcegahannya dilakukan dengan cara : Mencuci tangan dengan sabun setelah ke toilet, mengindari makanan dan minuman yang  mungkin terkontaminasi tinja sapi, mencuci sayuran dan buah-buahan sebelum  dimakan, menghindari meminum air sungai atau danau sebelum dilakukan filtrasi dan desinfeksi, Air yang akan digunakan untuk minum harus dimasak lebih dulu, jangan menggunakan kolam renang bila mempunyai gejala Cryptosporidiosis, karena dapat mengkontaminasi air kolam renang.

pedet5

Pengobatan awal yang dapat dilakukan adalah dengan penggantian cairan yang hilang yaitu dengan pemberian elektrolit hangat. Selanjutnya pengobatan causatif dengan obat anti infeksius berdasar agen infeksinya. Pemberian obat supportif juga sangat membantu cepatnya kesembuhan pada pedet. Lepas dari semua treatment yang dilakukan, kondisi kekebalan tubuh dan faktor pendukungnya ( lingkungan, ketersediaan pakan, dan lainnya ) menjadi faktor yang paling utama dalam kesembuhan. Hal ini mengingat bahwa pedet dengan immunitas baik akan mampu melawan dari agen infeksi dengan cara self cure. 

Penulis adalah Drh Joko Susilo (Medik Veteriner Balai Veteriner Lampung)

artikel dimuat di Majalah Infovet edisi Oktober 2013