Epidemiologi Deskriptif

betina

Epidemiologi deskriptif bertujuan untuk menggambarkan pola penyakit diantara individu dalam suatu populasi dengan cara mencari informasi sehingga dalam bentuk data dapat menggambarkan :

  • Apa yang akan terjadi ?
  • Siapa yang terlibat termasuk manusia dan hewan ?
  • Kapan terjadi  kejadian ?
  • Dimana kejadian terjadi termasuk manusia dan lingkungan ?

Dengan menggambarkan kejadian penyakit secara lengkap, maka petunjuk awal akan teridentifikasi dan akan mengarahkan ke langkat selanjutnya yaitu penilaian penyakit.

Epidemiologi deskriptif dapat digunakan untuk beberapa tujuan :

  • Deteksi kasus individual ?
  • Deteksi outbreaks ?
  • Memahami penyebaran dan distribusi penyakit ?
  • Hipotesa untuk menentukan penelitian selanjutnya ?
  • Evaluasi pencegahan dan pengendalian ?
  • Dukungan perencanaan program kesehatan hewan ?

Cara yang paling mudah untuk menggambarkan kejadian penyakit adalah menghitung frekuensi penyakit, yang meliputi : hitungan, proporsi, odds dan rates.

Counts (hitungan) : cara yang paling mudah menghitung jumlah kasus dalam suatu populasi

  1. Proporsi : rasio penyebut adalah bagian dari pembilang
  2. Odds: rasio penyebut bukan dari pembilang
  3. Rate : rasio pembilang adalah jumlah hewan-waktu, 30 anjing terkena kennel cough dari 100 anjing selama periode 3 bulan, insidensi rate adalah 30/(100*3)= 0.1 kasus anjing-bulan

Insiden

Insiden terkait dengan jumlah kejadian penyakit yang baru disuatu populasi pada periode tertentu, bisanya digunakan untuk mengidentifikasi faktor yang meyebabkan hewan menjadi sakit.

Terdapat tiga cara menghitung insiden :

  • Jumlah insiden
  • Risk Insiden (R)
  • Rate Insiden (I)

Jumlah insiden : Perhitungan sederhana untuk menghitung jumlah kasus penyakit pada suatu populasi yang belum pernah terjadi sebelumnya (Terjadi kasus BSE pada suatu negara), dapat pula digunakan untuk suatu penyakit yang endemik namun tanpa data jumlah sampe yang diperiksa, sehingga terjadi keterbatasan.

Insiden risk : Probabilitas individu hewan yang akan terkena penyakit pada suatu periode tertentu, karena risk adalah probablilitas dan tidak mempunyai unit maka range antara 0 sampai 1. Sebagai contoh risk sapi terkena mastitis pada tahun yang akan datang akan berbeda dengan minggu depan. Risk digunakan untuk studi prediksi individu sebagai objek. Sebagai contoh probabilitis anjing boxer 7 tahun akan terkena neoplasia pada tahun depan adalah 14 %, insiden risk terkadang disebut insiden kumulatif. Pada survival analysis, survival (S) didefinisikan sebagai S=I-R.

Insiden rate . Insiden rate adalah jumlah kasus penyakit baru pada populasi per unit hewan-waktu selama periode waktu, memiliki unit 1/hewan-waktu, sebagai contoh 50 kucing dalam suatu kandang memiliki 72 kasus pernafasan bagian atas dalam satu tahun. Insiden rate adalah 72/50, yaitu 1.44 kasus dalam satu tahun (0.12/kucing-bulan). Insiden rate digunakan untuk menentukan faktor yang berpengaruh pada suatu penyakit dan efek yang ditimbulkannya, insiden rate terkadang disebut sebagai insiden densitas.

 Menghitung insiden

 Insiden rate dihitung :

epide

Unit hewan-waktu adalah satu hewan pada periode tertentu (contoh sapi-bulan, anjing-hari), insiden rate dihitung dengan untuk kasus penyakit yang pertama atau seluruh kejadian penyakit, sebagai contoh penyakit neoplastik, seumur hidup hanya terjadi sekali. Namun beberapa penyakit infeksius seperti mastitis dapat terjadi lebih dari sekali, sebagai contoh mastitis dapat terjadi lebih dari sekali pada sapi perah. Walaupun penyakit terjadi lebih dari satu kali, kita mungkin hanya tertarik pada kasus mastitis yang terjadi pertama kali sebagai risk faktor, karena penyebabnya mungkin berbeda pada kasus berikutnya.

Perhitungan approximate Insiden dilakukan apabila satu kasus per hewan dipertimbangkan maka, I dihitung sebagai berikut :

epide2 

  Keterangan :

Kasus    : jumlah kasus baru

Awal      :  jumlah yang beresiko pada periode studi

Sakit      :  jumlah yang terkena penyakit

Pengurangan     : pengurangan jumlah populasi

Tambahan           : penambahan jumlah populasi

Waktu                   : lama waktu studi (berlaku terhadap semua individu).

Hubungan antara risk dan rate

Pendekatan lain untuk menghitung risk adalah menggunakan hubungan antara R dan I, apabila data lengkap untuk populasi tertutup maka :

 epide3

Dimana A= jumlah kasus, N= populasi beresiko dan  = lama periode waktu studi

Namun, apabila rata-rata I tersedia dalam suatu populasi, maka dengan asumsi I dalam suatu populasi adalah konstan maka R ssbagai berikut :

epide4

Sebagai contoh : 100 hewan diobservasi selama periode 2 tahun, estimasi tahunan R berdasarkan rata-rata tahunan I.

epide5

ahanya 80, karena 20 sudah terkena penyakit

Dua-tahun R=0,325

Rata rata tahunan I=0,16

Estimasi tahunan        =0,15

Prevalensi

 Prevalensi adalah jumlah individu pada suatu populasi yang terkena penyakit pada periode waktu tertentu.

Proporsi prevalensi (P) dihitung sebagai berikut :

 epide6

Hubungan antara prevalensi dan insiden pada populasi stabil dan penyakit konstan, P (pada point waktu), dan I serta D (durasi penyakit), sebagai berikut :

 epide7

Contoh : insiden rate infeksi kelenjar mammae pada kambing adalah 0,07/kambing-tahun (7 kasus baru/100 kambing). Rata-rata durasi infeksi adalah 1.5 bulan (0.125 tahun), populasi stabil .

epide8

11 % kambing pada kelompok ternak dapat terinfeksi infeksi subklinis.

Frekuensi infeksi intramammary Staphylococcus aureus akan dihitung dari 5 ekor sapi perah selama periode laktasi selama 10 bulan, dan kultur sampel selama 0,2,4,6,8 dan 10 bulan. Hasilnya disajikan dibawah, sapi dikategorikan terkena infeksi apabila sampel negatif sebelumnya.

epide9

Risiko terinfeksi 2 bulan pertama laktasi

Populasi beresiko : 4 sapi

Kasus baru : 1 sapi

2-bulan R : ¼ = 0,25

Risiko terinfeksi selama laktasi

Populasi beresiko : 4- ½ (1) sapi = 3.5 sapi

Kasus baru : 2 sapi

Laktasi  R : 2/3.5  = 0,25

Rate infeksi-berdasarkan kasus awal

Populasi beresiko : 20

Kasus baru :  2 kasus

I   :     2/20=0.17 kasus/sapi-bulan

                  =1.7 kasus/sapi-laktasi

Rate infeksi –berdasarkan seluruh kasus baru

Populasi beresiko : 30

Kasus baru :  5 kasus

I   :     5/30= 0,17 kasus/sapi-bulan

                  =  1,7 kasus/sapi-laktasi

Rate infeksi –berdasarkan seluruh kasus baru

Populasi beresiko : 30

Kasus baru :  5 kasus

I   :     5/30= 0,17 kasus/sapi-bulan

                  =  1,7 kasus/sapi-laktasi

Estimasi Risiko laktasi berdasarkan rate laktasi

Prevalensi pada saat kering kandang

Popolasi beresiko : 4 sapi

Sapi yang terinfeksi terakhir : 3

Prevalensi : ¾

   
Penulis:

drh Gunawan Setiaji

Penanggung Jawab Laboratorium Epidemiologi Balai Veteriner Lampung

BERITA TERKINI