Eradikasi Rabies di Ottawa Kanada 1989-2003

red-fox_679_990x742

Beliau sudah sepuh, tapi seperti semua professional yang sepuh, ilmunya matang dan tutur katanya hati-hati. Dr. Philip Stott bercerita tentang kisahnya terlibat pemberantasan rabies di daerah selatan Ottawa, ibukota Kanada. Daerah itu langsung berbatasan dengan USA. Tulisan ini adalah resume seingat saya ketika datang ke office beliau dan mendengarkan presentasi dengan saya sebagai audience tunggal. Beliau mendukung presentasinya dengan slides PP. Kita bisa rasakan betapa walaupun hanya untuk satu mahasiswa, beliau siapkan presentasi yang baik di officenya.

Kasus rabies klinis di selatan Ottawa dilaporkan bukan hanya pada manusia, tapi juga anjing, racoon, skunk, fox, cow dan felidae. Prevalensi fox adalah yang paling besar dan atas dasar pengetahuan itu maka pemberantasan rabies difokuskan pada eradikasi rabies pada fox. Pada tahun 1989 ketika proyek itu dimulai, kasus klinis rabies pada fox telah menyebar. Lokasi penyebaran  rabies dipetakan  dan di daerah itulah program eradikasi difokuskan. Daerah itu adalah daerah pertanian dengan pembatas antara lahan satu dengan lainnya berupa pagar hidup. Karena lahannya lurus maka pagar hidupnya juga lurus memanjang berkilo-kilometers.

Fox memiliki kebiasaan berjalan diantara pagar hidup tadi untuk memudahkannya bersembunyi jika ada gangguan. Fox mungkin sekali melewati savana lalu datang ke rumah orang  tapi  sangat  jarang  karena  insting  mereka  merasa  tidak  aman  berada  di  daerah terbuka. Selain itu fox juga merupakan hewan berkelompok yang hidup dalam suatu homerange.  Nah  pengetahuan  ekologi  fox  ini  digunakan  untuk  guidance  menyebarkan vaksin peroral. Ratusan ribu dosis vaksin diproduksi dan disebar secara massif di seluruh jalur fox yang berupa pagar hidup itu. Selain itu vaksin yang disebar juga harus berada dalam homerange setiap kelompok keluarga besar fox. Vaksin disebar setiap 50-100 m dan semua area yang dipetakan tercover vaksinasi. Tingkat proteksinya hanya 70% sehingga masih ada 30% peluang hewan tidak tervaksin menularkan rabies. Anjing rumahan  juga ikut divaksinasi.

Alasan jarak 50-100 meter penyebaran vaksin fox itu berdasarkan estimasi kecepatan virus membunuh fox.  Diantara pertanyaan krusial mengenai penyebaran vaksin ini adalah berapa lama fox yang tertular rabies bertahan hidup sebelum dia menggigit korban. Lalu berapa peluang  fox  menemukan,  memakan  dan  terproteksi  oleh vaksin  yang  disebar.  Hanya dengan mengandalkan vaksinasi peroral yang massif terus-menerus selama 11 tahun, pada tahun 2002 daerah selatan Ottawa bebas rabies. Belum lama ternyata, baru 12 tahun lalu, padahal kita menganggap mereka negara yang sangat maju. Kanada secara umum bahkan sampai sekarang belum bebas rabies.

Cerita belum selesai. Pada tahun 2003 muncul kasus baru rabies pada racoon. Ternyata ditularkan dari USA. Ternyata USA juga endemik rabies. Sampai sekarang. Lagi-lagi pengetahuan ekologi hewan, kali ini racoon, diandalkan untuk mengatasi rabies. Racoon adalah  binatang  yang juga  berkelompok  tinggal  menetap  di sebuah  home  range  dalam radius sekitar 5 km bersama keluarga besarnya. Setiap kali ada kasus rabies pada racoon, maka dalam radius 5 km dari titik kasus semua racoon dieradikasi. Racoon diluar radius 5 km ditangkap, divaksin dan dilepas. Racoon ini hewan yang behaviournya menarik karena mereka tidak berpindah-pindah, tidak mengembara diluar homerange-nya. Oleh sebab itu jika ada racoon terjangkit rabies maka kasus berikutnya akan cenderung disitu-situ saja. Oleh sebab itu eradikasi dalam radius homerange dipandang efektif. Tentu bisa saja rabies bisa menular ke kelompok keluarga racoon lainnya, ketika racoon-racoon dari kelompok homerange yang berbeda bertemu dan berkelahi mempertahankan wilayah yang telah diklaim.  Oleh  sebab  itu  dilakukan  vaksinasi diluar  radius  homerange  kasus  rabies.  Yang menarik lagi, jika sebuah daerah kosong setelah dieradikasi maka daerah itu lama kelamaan akan didatangi racoon dari kelompok sebelahnya, yang pada kasus ini telah divaksinasi, sehingga daerah itu akan tetap besih dari rabies. Dalam waktu setahun, pada tahun 2003 daerah selatan Ottawa kembali bebas dari rabies.

Hal menarik yang ingin saya garisbawahi dari eradikasi rabies di Ottawa ini adalah walaupun kelihatannya banyak species terlibat dalam infeksi rabies, ternyata hanya dengan focus pada pemberantasan rabies pada fox dan kracoon, seluruh kasus rabies pada spesies lain bisa dihandle. Bayangkan seandainya mereka salah memilih, menganggap anjing rumahan sebagai target utama pengendalian karena anjing rumahan yang menggigit manusia, maka mungkin Ottawa sampai sekarang belum bebas rabies.

 Sebagian orang yang mengetahui USA dan Kanada sampai sekarang belum bebas rabies mungkin “feels innocent” bahwa di daerahnya masih kena rabies. Tapi sebagian lagi merasakannya  sebagai  tantangan  berkompetisi dengan negara  maju dalam  penanganan rabies.

Dr. Stott bercerita bahwa proyeknya itu adalah proyek yang massive, melibatkan dokter hewan, epidemiologist, molekuler biologist (karena ternyata vaksin rabies strain fox tidak cocok untuk strain racoon, sehingga harus dibuatkan vaksin baru), melibatkan pilot, petani, ecologist dan pemda.

 Di Indonesia sebagaimana kita ketahui dinamika ekologi yang berbeda antar wilayah sehingga diperlukan kajian yang menyeluruh dalam melakukan pemberantasan rabies dengan mempelajari genetik virus dilanjutkan dengan pemetaan diiringi dengan pemahaman ekologi HPR semoga ditemukan Model Penyebaran Penyakit Rabies di Indonesia.

Catatan kuliah : Widi Nugroho (Mahasiswa PhD Adelaide, Australia)

BERITA TERKINI