Kategori
Artikel

Forensik Veteriner : Not something new but Renewed thinking

Forensik Veteriner merupakan bidang ilmu khusus yang relatif  baru muncul di dunia kedokteran hewan. Forensik Veteriner sendiri merupakan cara untuk membuktikan atau mengungkap kasus untuk mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya dalam kaitannya dengan medikolegal di dunia Veteriner.

Beberapa dekade terakhir terjadi peningkatan yang signifikan dalam aplikasi ilmu forensik untuk investigasi kejahatan terhadap hewan meliputi sejumlah kasus, termasuk yang melibatkan pengabaian atau penelantaran, cedera tidak disengaja, toksikasi kriminal dan lingkungan, pencurian, pembunuhan ilegal, pelanggaran undang-undang satwa liar, dan pelanggaran transportasi, serta kegiatan-kegiatan seperti pelanggaran profesi dokter hewan dan klaim asuransi hewan (Parry and Alexander, 2020). Muldisipilier ilmu pun mulai mengikuti ataupun dikembangkan sesuai dengan perkembangan ilmu forensik veteriner ini. Ilmu-ilmu tersebut antara lain patologi forensik, entomologi forensik, toksikologi forensik, radiologi forensik, genetika forensik, arkeologi dan paleopathologi dan lain-lain hingga medikolegal forensik veteriner.

#Toksikologi Forensik Veteriner#

Kasus toksikologi forensik veteriner dapat mencakup kasus yang melibatkan kekejaman terhadap hewan (keracunan disengaja), masalah peraturan (misalnya, kontaminasi pakan), litigasi asuransi, atau keracunan satwa liar. Kerja utama dari toksikologi forensik adalah analisis racun baik kualitatif maupun kuantitatif sebagai bukti dalam tindak kriminal (forensik) di pengadilan. Hasil analisis yang akurat sangat penting agar skenario kasus dapat diungkap secara lengkap. Ini poin awal mengapa toksikologi forensik itu penting.

Dokter hewan patologist yang bekerja di laboratorium diagnostik maupun dokter hewan patologist yang melakukan investigasi kasus keracunan pada hewan di lapangan memiliki peran utama dalam toksikologi forensik. Peran utama ini berkaitan dengan  pemahaman tentang pendekatan analisis pengujian yang tepat terhadap berbagai jenis kasus keracunan yang terjadi pada hewan yang ditemukan, termasuk pengumpulan sampel yang tepat, penanganan dan transportasi sampel untuk analisis di laboratorium. Bukankah sampel yang tepat merupakan faktor utama untuk menghasilkan analisis yang akurat?

Toksikan atau racun atau zat termasuk obat yang menyebabkan keracunan pada ternak sebagian besar berbentuk gas yang mudah menguap dalam proses dekomposisi karkas maupun transportasi sampel sendiri. Jika fokus diagnosa hanya sebatas sifat sampel ini, maka kegagalan hasil uji akan sering dijumpai di lapangan. Padahal, dalam ilmu toksikologi kita mengenal proses toksikinetik di dalam tubuh meliputi absorbsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi. Proses inilah yang menjadi dasar toksikologi forensik, yaitu seberapa jauh proses toksikokinetik ini mampu dikejar oleh seorang dokter hewan patologist saat melakukan investigasi, terutama ketika sampel dalam kondisi tidak ideal dan tidak spesifik. Jadi benar bukan jika toksikologi forensik itu perlu dikembangkan?

Diagnosa toksikasi pada ternak umumnya dilakukan melalui prosedur nekropsi untuk melakukan pemeriksaan makroskopis yang dilanjutkan dengan pembuatan preparat histopatologi untuk pemeriksaan mikroskopis. Perubahan mikroskopis hanya ideal untuk sampel yang belum mengalami autolisis. Sementara dilapangan terutama kasus pada satwa liar, kematian kadang diketahui setelah hewan mengalami dekomposisi lanjut atau misalnya ketika melakukan investigasi kematian ternak dengan jarak lokasi yang jauh. Ini poin kunci  mengapa toksikologi forensik itu penting, dimana evidence atau bukti bukti kematian ternak tidak boleh berhenti sampai batas yang benar-benar maksimal. Batas-batas evidence ini yang harus dihapus oleh ilmu forensik. Proses pengembangan ilmu dasar toksikopatologi dan lingkungan harus terus dilakukan untuk menghadapi berbagai kondisi di lapangan ini. Sebagai contoh dari pengembangan ilmu lingkungan dalam toksikologi forensik ini adalah ilmu Entomotoksiko forensik veteriner dimana ternyata serangga di lingkungan memiliki peran dalam proses diagnosa kasus keracunan. Hemm, menarik bukan?

Ulasan diatas hanya sedikit gambaran pentingnya ilmu toksikologi forensik veteriner, masih banyak multidispliner ilmu lainnya yang diperlukan dalam pengembangan forensik veteriner. Poin penting sebenarnya adalah Dokter hewan patologist harus memiliki sifat struggle of collection evidende yang tinggi. Dokter hewan patologist harus terus bersemangat mengembangkan ilmu-ilmu dasar untuk menghadapi tantangan masa depan karena sebenarnya, bidang forensik  ini bukan hal yang 100% baru tetapi pengembangan atau pembaruan ilmu-ilmu dasar veteriner yang tertantang oleh kondisi lapangan (renewed thinking).

Terakhir, untuk memahami konsep forensik veteriner ada sebuah quote  dari Mason and Mendl  (1993):

Science can never ‘prove’ that an animal is or is not suffering, because we can never really access the private world of another’s mind. But what science can be used for is the collection of evidence from which to make inferences (much like those made by the clinician who uses symptoms to make a judgement about a disease)”.

                                                                                                (Yogyakarta, 31 Januari 2020)

Drh. Eva Yulianti