Kategori
Artikel Berita Terbaru

Hati-hati Memilih Sapi Lokal

 hati

Hiruk pikuk persapian nasional masih terasa sampai sekarang, langkanya sapi bakalan, sapi siap potong dan mahalnya harga daging menjadi isu utama di semua media masa ataupun elektronik. Lihat saja fenomena sapi lokal yang dijual pada hari raya qurban dengan harga Rp 32.000 / kg di Lampung, ternyata sekarang harga sapi bakalan untuk penggemukan sudah mencapai Rp. 33.000,00 / kg. Harga sapi betina ( cow ) pada saat lebaran haji Rp.27.500 / kg sekarang menjadi Rp.31.000,00. Beberapa peternak mengatakan mereka bisa jualan di hari raya kurban tapi tidak bisa untuk membeli bakalan lagi. Banyak diantara peternak skala kecil – besar menahan diri untuk tidak belanja sapi, tapi banyak juga mereka yang memiliki banyak karyawan tetap tidak mau membiarkan kandang mereka kosong agar karyawannya tidak makan gaji buta. Perburuan sapi lokal oleh para peternak untuk mendapatkan sapi bakalan penggemukan masuk ke seluruh daerah di jawa tengah dan jawa timur dengan sasaran utama mendapatkan sapi simetal, limousine atau PO.

Bagaimana analisa Peternak ?

            Beberapa peternak di Lampung mengatakan bahwa mereka harus mencari bakalan sapi lokal walaupun harga tinggi agar operasional peternakan tetap berjalan demi mendapatkan keuntungan dari penggemukan atau tradding. Walaupun harga sekarang sudah begitu mahal, tetapi ada kepastian 3-4 bulan ke depan harga tetap bertahan atau cenderung naik maka mereka yakin akan mendapatkan keuntungan. Para peternak sapi lokal juga mengungkapkan kegalauannya untuk belanja sapi bakalan dikarenakan belum ada kepastian dari kebijakan pemerintah untuk membuka atau tetap membatasi kuota import. Jika 3 – 4  bulan kemudian ternyata kebijakan pemerintah melakukan import sapi atau daging beku maka diyakinkan harga sapi lokal akan jatuh dan investasi sapi lokal akan merugi.

            Secara hitungan sistematisnya, jika sapi bakalan penggemukan dengan berat badan 400 kg, di Lampung menghabiskan pakan rata rata Rp. 17.500 / kg, asumsi kenaikan berat badan perhari 1.0 kg sehingga jika harga jual sama dengan harga beli dapat dikalkulasikan:

sapiiiiiii0

Sapi dengan berat 400 kg harga beli sama dengan harga jual Rp. 33.000 / kg maka akan ada keuntungan kotor Rp. 1.395.000 / ekor selama periode pemeliharaan. Namun jika harga jual turun kurang dari Rp. 30.000 / kg maka peternak akan menderita kerugian perekor Rp. 75.000,00 ditambah dengan tenaga kerja dan biaya operasional lainnya. Kendala lainnya yang dipertimbangkan adalah rendahnya pertumbuhan berat badan harian, tingginya kejadian sapi sakit / reject atau mati, tingginya penyusutan, dan tingginya biaya pemakaian obat-obatan .

Kondisi perniagaan sapi lokal saat ini

            Tidak seimbangnya suplai dan permintaan, pencari bakalan yang bernafsu mendapatkan bakalan sapi sebanyak banyaknya, sementara para jagal / penjual daging juga mencari  sapi siap potong dengan kualitas bagus menyebabkan kenaikan harga tak terkontrol. Langkanya sapi lokal bisa menjadi sebuah realita yang ada masyarakat yang harus disikapi bijak oleh semua pihak, bisa jadi sebuah retorika politik sebagian pengusaha ternak, karena dari info yang kami dapat ada sebagian penggemukan yang mempunyai stock sapi lokal siap panen dengan jumlah 3000 ekor di dalam kandang tetapi menahan untuk tidak dijual. Langkanya sapi siap potong mudah mudahan disikapi hati hati oleh pemerintah agar tidak salah menentukan kebijakan untuk import sapi / daging beku atau tidak melakukannya, dan juga menjadi koreksi bagaimana strategi pemerintah untuk keberlanjutan program PSDSK 2014.

           Transaksi di pasar dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penaksiran (berat, harga) dan dengan penimbangan berat badan hidup. Transaksi dengan penimbangan berat badan lebih fair untuk pihak penjual dan pembeli tanpa ada yang dirugikan. Kondisi demikian disikapi sebagian para pelaku usaha sapi lokal dengan permainan yang tidak fair. Info yang kami dapatkan dari salah satu pengusaha ternak di Lampung, beliau menyarankan agar lebih hari hati bagi para peternak yang mau berbelanja sapi ke Jawa. Banyak upaya jahat yang dilakukan para blantik agar sapinya laku dan untuk mendapatkan keuntungan besar di antaranya :

  1. Sapi gelonggongan: trik jahat seperti ini sudah lama kita ketahui beberapa blantik telah melakukannya. Sapi yang akan dijual dengan cara timbang hidup, sebelumnya dimasukkan air sebanyak banyaknya lewat mulut, air akan masuk ke seluruh tubuh, seluruh organ termasuk paru paru sehingga berat akan bertambah banyak. Namun jika sapi gelonggongan tersebut tidak dipilih oleh calon pembeli maka air yang masuk ke dalam tubuh jika cemaran kumannya tinggi atau masuk ke dalam paru paru akan menyebabkan sapi sakit atau mati dalam waktu cepat.
  2. Pemberian obat obatan manusia, banyak blantik nakal dengan memberi obat sakit kepala, parasetamol atau penahan rasa sakit lainnya dalam jumlah berlebihan terhadap sapi. Hasilnya sapi akan merasa panas, sapi akan minum sebanyak banyaknya dan sapi akan bertambah berat pada saat ditimbang. Akibat yang ditimbulkan dari gangguan metabolisme adalah rusaknya alat pernafasan ditandai dengan leleran pada hidung dan muka sapi yang tidak terlihat ceria.
hati2
Penggemukan Sapi Lokal

Cara cara ini dilakukan blantik untuk transaksi jual beli dengan cara timbang hidup yang tujuan akhirnya mendapatkan timbangan yang lebih dari seharusnya. Kerugian yang diderita blantik sapi akan sakit atau mati karena gangguan metabolism. Bagi para pembeli, bakalan yang diperlakukan seperti itu akan menyebabkan penyusutan tinggi mencapai 10%, sebagian sapi akan sakit dan tidak mau makan, sapi yang tidak kuat akan mati dan rata rata jika kita lihat paru paru kelihatan menghitam seperti terbakar.

Bagi para peternak yang mau mencari bakalan dari jawa disarankan lebih berhati hati. Trik untuk memilih bakalan sapi lokal dari jawa: pilihlah sapi yang terlihat sehat, mata jernih, hidung bersih, kulit halus, rangka panjang dan kuat, jika memungkinkan lakukan penimbangan di kandang anda agar terhindar dari penipuan dan penyusutan berlebihan,  jika blantik tidak mau maka timbanglah sapi pada saat pagi hari dikandang pemeliharaan sambil diamati perlakuan terhadap sapi, jika memang sapi terlihat sehat dengan perut ramping maka bisa juga penimbangan dilakukan di pasar hewan. Kita semua berharap semoga semua element ( peternak, blantik, penjual daging dan pemerintah sebagai regulator ) dapat sama sama bersinergi untuk mengembangkan peternakan yang sehat sehingga semua element diuntungkan tanpa merasa dirugikan serta ketersediaan daging sapi cukup secara menyeluruh dengan jaminan kualitas daging yang Aman Sehat Utuh Halal….[drh. Joko Susilo)