Herd Immunity

Penjelasan Gambar Herd Immunity
Kotak Atas menunjukkan pada wabah populasi ketika beberapa orang terinfeksi (ditunjukkan gambar orang dengan warna merah) dan sisanya sehat tetapi tidak kebal (ditunjukkan gambar orang dengan warna biru); penyakit ini menyebar dengan bebas ke seluruh populasi.


Kotak Tengah menunjukkan populasi dengan sejumlah kecil orang telah kebal (ditunjukkan gambar orang dengan warna kuning); mereka yang tidak kebal akan terinfeksi, sedangkan orang yang kebal tidak terinfeksi.

Kotak Bawah sebagian besar populasi telah kebal.  Hal ini dapat mencegah penyakit menyebar secara signifikan, termasuk menyebar ke orang yang belum kebal.


Dalam dua situasi pertama (paling atas), sebagian besar orang sehat yang tidak kebal menjadi terinfeksi, sedangkan pada situasi terakhir (paling bawah), hanya seperempat dari orang sehat yang tidak kebal menjadi terinfeksi.

Herd immunity atau Kekebalan Kelompok adalah suatu bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi, baik melalui infeksi sebelumnya atau vaksinasi sehingga individu yang tidak kebal ikut terlindungi. Dalam populasi yang sebagian besar individunya memiliki kekebalan (mereka ini tidak mungkin berkontribusi pada penularan penyakit) rantai infeksi kemungkinan besar terganggu sehingga penyebaran penyakit akan terhenti atau terhambat. Semakin besar proporsi individu yang kebal dalam suatu populasi, semakin kecil kemungkinan individu yang tidak kebal akan bersentuhan dengan individu yang terinfeksi. Hal ini akan membantu melindungi individu yang tidak kebal dari infeksi.


Sumber: Wikipedia

Drh. Pudjiatmoko, PhD lahir di Purbalingga,17 April 1959, begitu lulus FKH – IPB pada tahun 1983 ia langsung bekerja menjadi Technical Services pada Produsen Obat Hewan, selanjutnya tahun1985-1986 menjadi Manajer Breeding Farm. Pada tahun 1986-1992 ia menjadi Penguji Vaksin Viral pada Lab Virologi Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BPMSOH) Kementerian Pertanian. Ia memperoleh beasiswa Monbusho program PhD (S3) Applied Veterinary Science di Gifu University, Jepang tahun1993-1997, langsung melanjutkan program Post Doctoral Research tahun 1997-2000 di Gifu University dan Lab Kyoto Biken. Ia ditugasi memimpin Lab Bakteriologi BPMSOH tahun 2002-2005. Ia dikirim ke Jepang sebagai Atase Pertanian KBRI Tokyo tahun 2005-2009, begitu kembali ke Indonesia ia dipercaya sebagai Kepala Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) tahun 2009-2010, dan ia diamanahi sebagai Direktur Kesehatan Hewan di Ditjen PKH, Kementerian Pertanian tahun 2010 sampai Agustus 2015. Posisi sekarang sebagai Pejabat Medik Veteriner Ahli Utama

BERITA TERKINI