Kategori
Berita Terbaru

Jaga Bebas Brucellosis, Bvet Lampung Monitoring di Way Kanan

Dalam rangka penjagaan terjangkitnya brucellosis pada ternak sapi, Balai Veteriner Lampung memiliki program pemantauan penyakit secara rutin di wilayah kerjanya yaitu di 4 propinsi (Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Ba-Bel) untuk itu perlu adanya monitoring/ surveillans brucellosis di 4 provinsi tersebut.

Rabu 20 Agustus 2014, Bvet Lampung mengutus drh. Hamdu Hamjaya Putra untuk memonitoring penyakit Brucellosis di Kecamatan Negara Batin dan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Dengan dibantu petugas UPT Pelayanan Kesehatan Hewan dan IB Isharyadi dan Maryono beserta dokter hewan puskeswan setempat, beliau  mendeteksi penyakit dalam rangka menjaga wilayah Bvet Lampung dari penyakit Brucellosis dan penyakit Jembrana.

Brucellosis adalah penyakit ternak menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder berbagai jenis ternak lainnya serta manusia. Pada sapi penyakit ini dikenal sebagai penyakit Kluron atau pemyakit Bang. Sedangkan pada manusia menyebabkan demam yang bersifat undulans dan disebut Demam Malta. Jasad renik penyebab Micrococcus melitensis yang selanjutnya disebut pula Brucella melitensis. Bakteri Brucella untuk pertama kalinya ditemukan oleh Bruce (1887) pada manusia dan dikenal sebagai Micrococcus miletensi.

Brucellosis merupakan penyakit beresiko sangat tinggi, oleh karena itu alat-alat yang telah tercemar bakteri brucella sebaiknya tak bersentuhan langsung dengan manusia. Sebab penyakit ini dapat menular dari ternak ke manusia dan sulit diobati, sehingga brucellosis merupakan zoonosis yang penting. Manusia dapat mengkonsumsi daging dari ternak-ternak yang tertular sebab tidak berbahaya apabila tindakan sanitasi minimum dipatuhi dan dagingnya dimasak. Demikian pula dengan air susu dapat pula dikonsumsi tetapi harus dimasak atau dipasteurisasi terlebih dahulu. Pada sapi gejala penyakit brucellosis yang dapat diamati adalah keguguran, biasanya terjadi pada kebuntingan 5-bulan, kadang diikuti dengan kemajiran, Cairan janin berwarna keruh pada waktu terjadi keguguran, kelenjar air susu tidak menunjukkan gejala-gejala klinik. Pada ternak jantan terjadi kebengkakan pada testes dan persendian lutut.

Metode

Metode dilakukan secara lintas seksional (cross sectional). Pada studi Detect Disease sapi tiap Kabupaten diasumsikan sebesar 0,2 % dengan tingkat kepercayaan 95 % maka total jumlah sapi yang di sampling se-wilayah kerja Bvet Lampung 1390 ekor dan Kambing 2214 ekor dengan kriteria:

–        Sapi umur 6 bulan atau lebih

–        Sapi Perah;

–        Sapi baru datang dari daerah endemik Brucellosis;

–        Kambing khusus untuk wilayah Provinsi Lampung;

–        Pengepul Ternak;

–        Pasar Hewan;

Data Populasi

Data populasi ternak bersumber dari UPT  Pelayanan Kesehatan Hewan dan IB, Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kab. Way Kanan tahun 2013 sebagai berikut:

waykanan

Hasil Kegiatan

Kegiatan Monitoring/ Surveillans Brucellosis di Kabupaten Way Kanan, Propinsi Lampung diperoleh 40 sampel serum darah yang terdiri dari desa Rebang Tinggi dan Bali Sadar Tengah Kec. Banjit 14 sampel, Desa Setia Negara Kec. Negara Batin 26 sampel. Selanjutnya sampel dibawa ke Laboratorium Bakteriologi untuk diperikasa Rose Benggal Test (RBT).

Berdasarkan pengamatan di kabupaten Way Kanan khususnya kecamatan Negara Batin, sapi di kandang kelompok ternak belum pernah mengalami gejala penyakit ini, namun hal ini tidak berarti bebas penyakit sehingga perlu adanya pengujian lebih lanjut di lab. Bakteriologi Balai Veteriner Lampung.  Pengambilan sampel serum untuk uji RBT berjalan lancar dan sudah mencapai target minimal sampel yaitu 40 sampel. Umumnya populasi yang terdapat di kabupaten ini adalah sapi bali. Ternak tersebut berasal dari bantuan pemerintah dan diserahkan kepada desa atau kecamatan di Way Kanan. Secara Umum kondisi sapi di kandang kelompok cukup (ada yang mempunyai bentuk tubuh optimum-BCS 3), sirkulasi kandang baik, dan kondisi kandang cukup bersih. Dengan pengelolaan kandang dan pakan yang sudah baik diharapkan akan menghindarkan terjadinya penyakit brucellosis di daerah tersebut.

Kesimpulan

Kegiatan Surveillance/Monitoring Brucellosis, di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung telah terlaksana dengan baik. Sampel yang diambil keseluruhannya Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Way Kanan berjumlah 40 serum.  Agar tercapai tujuan Monitoring/ Surveillans dalam rangka pemberantasan Brucellosis pada ternak sapi maka perlu ditingkatkan pengetahuan peternak mengenai kesehatan hewan, sanitasi kandang serta meningkatkan mutu pakan. Untuk itu perlu adanya kerja sama yang baik antara peternak dan instansi terkait.

Laporan drh Hamdu Hamjaya Putra