Jaga Keamanan Pangan, Bvet Lampung Surveilans Kota Bandar Lampung

kesmavet1Sebagai upaya untuk menjamin keamanan pangan di tempat pemasukan dan pengeluaran khususnya pangan segar asal hewan dari kemungkinan adanya residu hormon, pada tanggal 25 Agustus 2014 Bvet Lampung melakukan Surveilans Kesmavet di Rumah Potong Hewan (RPH) di kecamatan Teluk Betung Utara, kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Dengan ditemani petugas dari Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kota Bandar Lampung, tim yang di pimpin oleh drh. Rismayani Saridewi dan beranggotakan Wahyu Sapto Sigit Kuncahyo dan Muhammad Gufron melakukan pengambilan sampel meliputi pangan asal hewan terdiri dari 2 daging sapi dan 2 hati sapi eks import. Surveilans ini bertujuan untuk mendeteksi ada/tidaknya residu hormon dalam pangan segar asal hewan.

Hormon adalah pembawa pesan kimiawi antar sel atau antar kelompok sel yang berfungsi memberikan sinyal ke sel target yang selanjutnya akan melakukan suatu tindakan atau aktivitas tertentu. (wikipedia). Residu hormon adalah hormon baik senyawa induknya maupun metabolit atau turunannya yang terkandung dalam daging, jeroan, susu, darah atau serum baik sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari penggunaan hormon

Berdasarkan sifatnya, hormon pertumbuhan terdiri dari dua macam yaitu yang bersifat natural dan sintetik. Hormon yang bersifat natural artinya hormon ini secara alami diproduksi oleh tubuh dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam fungsi reproduksi baik pada manusia maupun hewan, misalnya 17 β estradiol, progesteron dan testosteron. Sedangkan hormon sintetik adalah hormon yang tidak diproduksi oleh tubuh, namun mempunyai sifat sebagaimana hormon natural yang digunakan sebagai pemacu pertumbuhan, misalnya trenbolon asetat (TBA), melengesterol (MGA), diethylstilbestrol (DES), dan zeranol. Pemberian hormon ini mampu meningkatkan efisiensi pakan, dan memperbaiki kualitas daging dengan menurunkan deposit lemak sehingga memperbaiki marbling. (kandungan dan struktur lemak dalam daging). Hormon ini biasanya diberikan secara iimplantasi atau injeksi.

Obat-obatan untuk pemacu pertumbuhan (growth promoter/hormon) merupakan salah satu contoh obat-obatan yang jika digunakan tidak sesuai dengan petunjuk atau label, misalnya waktu henti obat (withdrawal time) yang tidak dipatuhi menjelang hewan akan dipotong dapat menimbulkan residu pada saat dipotong. Keberadaan residu hormon pada pangan segar asal hewan yang melampaui ambang batas yang telah ditentukan dapat menyebabkan pangan segar asal hewan tersebut menjadi tidak aman dan tidak layak untuk dikonsumsi karena dapat merugikan, mengganggu dan membahayakan kesehatan manusia. Hormon umumnya digunakan untuk meningkatan berat badan hewan yang dikenal sebagai hormone growth promotor. Penggunaan hormon yang tidak sesuai dengan aturan pemakaiannnya serta pengelolaan yang tidak benar dalam proses produksi pangan segar asal hewan dapat mengakibatkan adanya residu hormon. Residu hormon dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan fisiologis terhadap konsumen/masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dipandang perlu melakukan pengambilan sampel lapangan guna pengujian residu hormon pada pangan segar asal hewan.

Laporan drh. Rismayani Saridewi, MTA

BERITA TERKINI