Jangan Biarkan Kerbau Kita Tenggelam Dalam Lumpur Kepunahan

kebo4

Kerbau (Bubalus bubalis) adalah ternak ruminansia besar yang mempunyai potensi tinggi dalam penyediaan daging.  Kerbau merupakan ternak asli daerah panas dan lembab khususnya daerah belahan utara tropika.  Selama 8 tahun terakhir ini perkembangan ternak kerbau di Indonesia kurang menggembirakan.  Populasi ternak kerbau yang ada di Indonesia saat ini 40% berada di Pulau Jawa dengan kepemilikan 1-2 ekor per orang peternak . Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnyanya populasi ternak kerbau adalah keterbatasan bibit unggul, rendahnya mutu pakan ternak, perkawinan silang dan kurangnya pengetahuan peternak dalam menangani produksi ternak tersebut. Adanya program sapinisasi, rendahnya tingkat reproduksi kerbau, dan teknik serta metode praktek peternakan di Indonesia yang tidak mendukung pengembangan ternak kerbau merupakan faktor-faktor yang menyebabkan populasi ternak kerbau tidak berkembaang dengan baik.

Kerbau yang berasal di Indonesia didominasi oleh kerbau lumpur dengan jumlah populasi sekitar 2 juta ekor dan kerbau perah terdapat 5 ribu ekor. Kerbau-kerbau tersebut dipelihara oleh peternak kecil. Untuk kerbau lumpur dengan pemeliharaan secara tradisional dengan jumlah kepemilikan 2-3 ekor induk peternak, sedangkan kerbau perah dipelihara atau digembalakan secara berkelompok pada areal sekitar para peternak berdiam. Walaupun demikian pada beberapa tempat tertentu terdapat kepemilikan dalam jumlah besar sepeti di pulau Moa (Maluku), Sumba (NTT), dan Sumbawa (NTB) dimana jumlah kepemilikan kerbau per peternak dapat mencapai 100 ekor per induk.

Kerbau memiliki beberapa peranan utama secara nasional yaitu sebagai penghasil daging yang mendukung program pemerintah dalam hal swasembada daging selain daging sapi, sebagai ternak kerja, penghasil susu dan pupuk. Potensi kerbau sebagai ternak potong ternyata cukup tinggi, meskipun kerbau sebagai ternak potong tidak sepopuler sapi karena dagingnya berwarna lebih tua dan keras dibanding daging sapi, seratnya lebih kasar dan lemaknya berwarna kuning.

Di Indonesia, kerbau sebagai ternak perah sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat Aceh, Tapanuli Utara, Palembang, Sulawesi dan Timor.  Bila dibandingkan dengan susu sapi, susu kerbau hasil pemerahan, tidak banyak mengandung air tetapi lebih banyak mengandung bahan padat, lemak, laktosa dan protein.  Kandungan lemak pada susu kerbau adalah 50%, jadi lebih banyak dibandingka susu sapi.  Begitu juga halnya dengan kandungan protein.  Di Indonesia, umumnya susu kerbau tidak dikonsumsi langsung dalam keadaan segar, tetapi diolah untuk berbagai keperluan.  Di Aceh, susu kerbau dibuat mentega dan minyak samin, sedangkan d Sumatera Utara dibuat dadih

Reproduksi yang jelek dari kerbau rawa dan sungai adalah faktor utama yang membatasi kinerja kerbau dan pencapaian perbaikan.  Kerbau (rawa dan sungai) mempunyai umur beranak pertamakali sangat tinggi dan interval kelahiran yang panjang akibat perkawinan yang tergantung pada musim.  Kadangkala siklus estrus yang tidak tampak juga menyulitkan dokter hewan dan ahli ternak di pedesaan dalam upaya pengaturan reproduksinya.  Kerbau jantan akan mengalami dewasa kelamin pada umur 2 tahun, sedangkan kerbau dara mulai mengalami estrus pada umur 2 – 2,5 tahun.

Masalah Pengembangan Kerbau di Indonesia

Penurunan produktivitas kerbau disebabkan faktor internal dan faktor eksternal.

Pertama, faktor internal ditentukan oleh sifat atau karakteristik dari suatu jenis ternak. Kerbau termasuk hewan yang lambat dalam mencapai dewasa kelamin. Pada umumnya kerbau mencapai pubertas pada usia yang lebih tua, sehingga kerbau mencapai dewasa kelamin pada usia minimal 2-3 tahun. Lama bunting pada kerbau lebih lama dan lebih bervariasi dari 300-344 hari (rata-rata 310 hari) atau secara kasar 10 bulan 10 hari. Tanda-tanda berahi pada kerbau, umumnya tidak tampak jelas. Sifat ini menyulitkan pada pengamatan berahi untuk program inseminasi buatan. Meskipun fenomena ini  bisa diatasi dengan menggunakan jantan, namun kelangkaan jantan dan sistem pemeliharaan yang terkurung memungkinkan perkawinan tidak terjadi.

Umumnya berahi pada kerbau terjada pada saat menjelang malam sampai agak malam dan menjelang pagi atau subuh atau lebih pagi. Jarak beranak yang panjang merupakan implikasi dari sifat-sifat reproduksi lainnya. Pada  kerbau kerja jarak beranak bervariasi dari 350-800 haru dengan rata-rata 553 hari. Panjang sifat-sifat produksi lain akan berpengaruh langsung terhadap beranak pertama pada kerbau. Hasil survei di Indonesia terutama si NAD, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur, NTB dan Dulaweisi Selatan, umur pertama kali beranak masing-masing 45,0; 49,6; 47,7; 49,1; 45,6 dan 49,2 bulan denga rata-rata 47,7 bulan , sementara itu di Brebes, Pemalang, semarang dan Pati rata-rata umur pertama kali8 beranak, berturut-turut adalah 44, 40, 44, dan 42.

kebo3

Kedua, faktor eksternal yang berpengaruh langsung terhadap performa reproduksi adalah pakan, manajemen pemeliharaan dan sosial budaya. Pakan yang diberikan oleh peternak di Indonesia pada umumnya jerami kering yang kadang-kadang disiram larutan garam dapur. Pada musim kemarau ketersediaan lumpur alam akan sangat menurun jumlahnya dan secara langsung akan berpengaruh langsung terhadap asupan pakan pada ternak. Pakan dengan kualitas dan kuantitas seperti ini akan berpengaruh tidak baik terhadap performa reproduksi. Diperparah lagi oleh tugas yang harus dilakukan pada saat musim mengolah sawah. Meskipun salah satu keunggulan kerbau adalah mampu memamfaatkan pakan dengan kualitas rendah, namun untuk mendapatkan performa reproduksi yang baik memerlukan makanan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas. System pemeliharaan kerbau kita juga masih sangat tradisional karena belum ada sentuhan teknologi terpadu baik untuk peningkatan populasi ternak, pengelolaan pakan dan pengetahuan pengelolaan hasil produksi sehingga menyebabkan peningkatan populasi juga tidak berkembang.

Beberapa di daerah di Indonesia yang secara sosial budaya berkaitan dengan kerbau menunjukkan populasi kerbau yang tingg. Keterkaitannya bisa berupa  dalam adat istiadat atau kebutuhan tenaga kerja. NTB, Sumatera Barat, Sumatera  Utara, Sulawesi Selatan keterkaitannya lebih pada adat istiadat yang turun temurun. Di Sumatera Barat, kerbau mempunyai arti sosial yang sangat khas. Rumah adat dan perkantoran pemerintah mempunyai bentuk atap yang melengkung yang melambangkan bentuk tanduk  kerbau. Diduga kata “minangkabau” berasal dari “menang kerbau”. Pada masyarakat Batak dikenal upacara kematian sepeti saur matua dan mangokal hili. Bagian dari rangkaian upacara tersebut biasanya dilaksanakan pesta syukuran adat yang disertai pemotongan kerbau. Pemotongan kerbau juga dilakukan pada saat upacara perkawinan, horha bius (acara penghormatan terhadap leluhur, dan pendiri rumah adat. Bagi etnis toraja, khususnya toraja kerbau adalah binatang paling penting dalam kehidupan sosial mereka, selain sabagai hewan yang memenuhi kehidupan sosial, ritual maupun kepercayaan tradisional, kerbau juga menjadi takaran, status sosial dan alat transaksi. Dari sisi sosial, kerbau merupakan harta yang bernilai tinggi bagi pemiliknya

Di Banten, kerbau selain digunakan sebagai hewan kerja juga masyarakat sangat fanatik terhadap daging kerbau. Selera masyarakat banten terhadap daging kerbau cukup tinggi dibandingkan dengan daging sapi. Di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur lebih pada kebutuhan tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa budaya masyarakat sangat berperan terhadap perkembangan populasi kerbau.

kebo2

Faktor penyakit juga sangat menghambat perkembangbiakan kerbau, penyakit yang sangat mematikan kerbau dan sangat mudah menular adalah Septichaemia epizootica ( SE ). Penyakit  Septicaemia Epizootica (SE) atau penyakit ngorok adalah penyakit hewan yang bersifat akut, fatal dan pada dasarnya hanya menyerang hewan kerbau dan sapi. Penyakit SE disebabkan oleh Pasteurella multocida B:2. di Indonesia, penyakit ini sudah menyebar ke hampir seluruh propinsi. Morbiditas dan mortalitas penyakit dipengaruhi oleh sejumlah faktor dan interaksinya. Umur hewan, endemisitas penyakit di daerah, paparan penyakit sebelumnya, kekebalan yang terbentuk sesudahnya, tingkat kekebalan kelompok merupakan faktor-faktor penting.

   Usaha-Usaha Mempercepat Peningkatan Populasi Dan Kualitas Kerbau Melalui Efisiensi Reproduksi

  1. Mengupayakan terbentuknya village breeding system (VBC) yang secara khusus mengupayakan pengembangan kerbau.
  2. Mengadakan upaya recording serta seleksi kerbau berdasarkan performa dan asal usul ternak dengan cara penjaringan ternak yang baik berdasarkan standarisasi.
  3. Penerapan teknologi, khusunya untuk mengolah limbah pertanian (jerami padi, pucuk tebbu, jerami jagung, jerami kedelai).
  4. Komitmen yang berkelanjutan. Penurunan populasi kerbau di daerah-daerah tertentu sudah lama terjadi, namun sampai sejauh ini dorongan pemerintah, terutama pemerintah  daerah belum nyata mendorong perkembangan populasi di daerahnya masing-masing.
  5. Pembentukan kelompok ternak. Memungkinkan dapat mendorong peningkatan populasi. Dalam kelompok para peternak bisa merencanakan usaha yang akan dilakukan sehubungan dengan peningkatan populasi, termaksud terbentuknya kandang kelompok. Kandang kelompok bila dikelola dengan baik dengan kesadaran yang tinggi dapat memecahkan masalah ketiadaan jantan dan keterlambatan perkawinan.
  6. Melakukan seleksi, baik pada kerbau betina maupaun pada kerbau jantan, terutama pada kerbau jantan. Mengingat satu ekor jantan dalam 1 tahun mampu mengawini 50 ekor betina dan bila semua berhasil bunting maka akan lahir anak kerbau yang genetikanya baik. Pada saat ini justru kerbau betina atau jantan yang tampilanya lebih besar adalah yang paling cepat masuk rumah potong. Peran pemerintah disini melakukan penjaringan agar fenomena yang sudah lama terjadi ini akan dihentikan minimal dikurangi.
  7. Peternak yang memiliki kerbau yang baik dan memenuhi standar bibit perlu mendapat penghargaan dengan memberikan sertifikat. Hal ini bisa merangsang prestasi selanjutnya dan akan berpengaruh positif terhadap lingkungan.
  8. Mengembangkan program inseminasi buatan pada daerah-daerah yang padat populasi kerbaunya. Penerapan inseminasi buatan (IB) pada kerbau adalah salah satu cara untuk mengatasi terbatasnya pejantan unggul sepanjang secara sosial ekonomi dapat dipertanggungjawabkan peran pemerintah harus mengangtifkan kembali produksi mani beku kerbau di balai-balai inseminasi buatan. Dengan inseminasi buatan juga dapat mencegah terjadinya kawin silang dalam ( inbreeding ).
  9. Peningkatan pendidikan inseminator. Inseminator buatan pada ternak bukan pekerjaan mudah untuk itu diperlukan pengetahuan dan keterampilan, lebih-lebih pada kerbau yang saat berahinya sulit diamati. Meskipun demikian kita bila kita mau kita bisa. Pengalaman telah menunjukkan bahwa beberapa tahun yang lalu pada sapi potong, yang pada saat itu sulit melakukan inseminasi buatan pada sapi potong karena sapi potong  terutama sapi lokal juga memperlihatkan berahi tenang. Pada saat ini meningkatnya pengetahuan dan keterampilan para inseminator inseminasi buatan pada sapi potong sudah bisa dilakukan dengan prestasi yang baik.
  10. Lokasi peternak kerbau yang umumnya masih berjauhan, akan menyulitkan pelaksanaan inseminasi buatan. Seorang inseminator mungkin saja melayani peternak yang jaraknya dari pos bisa belasan kilometer. Dalam rangka mempercepat peningkatan populasi maka program sinkronisasi birahi waktu pelaksanaan dan jumlah yang akan diinseminasi bisa diatur dan fasilitas inseminasi bisa lebih efisien. Penggunaan teknik sinkronisasi birahi akan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan reproduksi kelompok ternak, disamping juga mengoptimalisasi pelaksanaan inseminasi butan dan meningkatkan fertilitas .
  11. Untuk meningkatkan mutu genetic kerbau di suatu wilayah, bisa dilakukan dengan membeli pejantan unggul hasil seleksi dari wilayah lain atau menggunakan pejantan IB persilang dengan tipe perah juga bisa dilakukan dengan harapan keturunanya bisa menghasilkan susu yang lebih banyak, minimal bisa memberi susu keturunanya dalam jumlah yang mencukupi.

datakebo

Penulis drh Joko Susilo (Medik Veteriner Balai Veteriner Lampung)

(Dimuat di Majalah Infovet  Januari 2014 )

BERITA TERKINI