Johne’s Disease Harus Menjadi Perhatian Kita

Johnes Disease adalah penyakit enteritis granuloma kronis pada ruminansia ( sapi dan domba ) yang disebabkan oleh Mycobacterium avium paratuberculosis (MAP) yaitu bakteri gram positif, bebentuk batang, non motil, merupakan bakteri tahan asam, suhu pertumbuhan 25-430C dan optimum pada 390C dengan waktu tumbuhnya 4 – 24 minggu. Gejala klinisnya meliputi diare (water hose), sapi kurus, penurunan berat badan pada kasus progresif, dan penurunan produksi susu pada sapi susu. Penyakit ini bersifat zoonotic potensial karena dapat menginfeksi ke manusia dengan sebutan Crohn’s disease.

Dalam seminarnya April 2015, Dr Satoko Kawaji (Senior researcher di Bacterial and Parasitic Disease Research Division, NIAH, Japan) menyampaikan beberapa paparan tentang penyakit ini. Paratuberkulosis banyak terjadi di Negara penghasil dengan angka prevalensi Australia 0-20%, USA 68%, Canada 33 – 74%, New Zeland 60%, Prancis 68%, Belanda 54%, Denmark 55%, dan Jepang saat ini 2,4%. Penyakit ini menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar pada kelompok ternak dan secara nasional. Di level dairy farm, Johnes Disease akan menyebabkan penurunan produksi susu, mengurangi efisiensi pakan, menurunkan kesuburan, meningkatnya angka kematian, meningkatnya kejadian lahir prematur, dan meningkatnya angka culling atau slaughter. Dari informasi yang saya dapatkan, kerugian ekonomi karena penyakit ini di USA sebesar US$ 200 – 250 juta / tahun pada sapi perah, dan secara nasional US$ 1,5 milyar / tahun skala industri nasional.

Tahapan dan diagnosa penyakit

Tahapan kejadian penyakit dibedakan menjadi 4 tahap I (Silent), II (Sub klinis), III (Klinis), IV (Klinis dan berkembang). Tahap I : terjadi pada pedet, sapi dara atau sapi dewasa, Mycobacterium avium paratuberculosis belum dapat ditemukan atau ditemukan dalam jumlah sedikit di dalam usus, shedding bakteri melalui feses mungkin terjadi tetapi belum dapat dideteksi dengan PCR ataupun kultur. Uji ELISA belum dapat dilakukan karena respon immune humoral mungkin belum terbentuk atau masih sangat rendah. Tahap II: Mycobacterium avium paratuberculosis sudah dapat ditemukan di dalam usus dalam jumlah cukup tinggi, sehingga shedding bakteri melalui feses sudah terjadi dan dapat mengkontaminasi lingkungan maupun material kandang. dapat dideteksi dengan PCR ataupun kultur. Respon immune sudah mulai mengalami kenaikan, baik gamma interferon (CMI) ataupun respon antibody (HMI). humoral mungkin belum terbentuk atau masih sangat rendah. Bakteri melalui feses sudah dapat dideteksi dengan PCR ataupun kultur, akan tetapi gejala diare atau penurunan berat badan belum terlihat.

Tahap III : gejala klinis diare atau penurunan berat badan, penurunan produksi susu sudah terlihat. Shedding bakteri dalam usus sudah cukup tinggi dan respon antibody ( humoral ) sudah tinggi sehingga terdeteksi dengan menggunakan kit ELISA komersial. Bakteri ini sudah mulai menyebar ke limfonodus supramammary, pulmonary dan hepatic. Sapi yang mengalami gejala klinis dapat menularkan secara trans uterine dan disekresikan melalui susu sehingga susu dapat terdeteksi dengan PCR ataupun kultur. Tahap IV : merupakan perkembangan dan kelanjutan tahap III yang ditandai dengan gejala diare profus, kurus, dan adanya bottle jaw pada rahang bawah (mandibulla).

tabeljohn

Mekanisme infeksi Johnes Disease ( 1 ). Disfungsi dan epitelial sel pada mukosa usus halus, ( 2 ). Disfungsi drainase pembuluh darah limfatikus di lamina propia vili usus halus, ( 3 ). Sel sel yang mati akan difagositosis oleh macropagh, pada tingkat infeksi lanjut akan terjadi akumulasi sel radang. Lesi umumnya ( gross lession ) meliputi enteritis granulomatosa, granulomatosa limfoglandula mesenterium, dan limfadenitis. Enteritis granulomatosa ditandai oleh penebalan dinding usus, secara umum pada ileum atau ileo-coecum akan ditemukan eksudat putih kekuningan oleh adanya infiltrasi sel radang. Limfoglandula mesenterum akan mengalami pembesaran, terutama yang berada di sekitar ileum.

john1

Johnes Disease yang terjadi pada domba menyebabkan kekurusan dengan gejala klinis sama dengan pada sapi. Terjadi penebalan dinding usus ileum, lymphangitis dan pembesalan limfoglandula mesenterium.

john2

Pathogenesis penyakit ini diawali dari tertelannya Mycobacterium avium paratuberculosis menginvasi masuk ke dalam epiteliel sel melaluia jalur M cell, dipagositosis oleh macropagh, terjadi lesi primer pada peyer’s patches dan nodus limfatikus. Sapi yang memiliki daya tahan baik akan mampu melakukan recovery. Sebaliknya pada sapi yang lemah bakteri ini akan mengalami fase inkubasi 2-5 tahun, bakteri akan merusak macropagh dan akan keluar bersama feses sebagai faecal shedding. Ketika fase ini terjadi maka sapi dikatakan mengalami infeksi secara klinis. Perubahan secara pathologis, dimulai dari lesi fokal, multi fokal dan pada tingkat parah bersifat diffuse.

Diagnosa post mortem bisa dilakukan dengan histopathologi ( pewarnaan HE ) dan pewarnaan Ziehl Neelsen. Pada histopathologi akan terlihat adanya perdarahan, infiltrasi atau akumulasi sel radang neutrofil dan macropagh pada lamina propia ileum dan coecum. Pada beberapa kasus berat juga dapat kita jumpai bentukan granulomatosa dan kerusakan lapisan mukosa. Pada pewarnaan ZN, bakteri akan terwarnai merah dan back ground terwarnai biru pucat.

john3
Dokumentasi Joko Susilo, Lab. Pathology Balai Veteriner Lampung

Penularan Penyakit

Bakteri Mycobacterium avium paratuberculosis akan keluar melaui feses dan akan bertahan hidup dalam jangka waktu yang relative lama tergantung kondisi lingkungan ( sekitar 250 hari ). Pakan dan air yang tercemar menjadi media penularan ke ternak lain terutama ternak yang masih muda. Susu / kolustrum dari induk yang terifeksi akan menularkan bakteri ini kepada pedet mencapai 22%. Padang penggembalaan ataupun kebun rumput dapat menjadi agen penularan apabila dialiri dari kandang yang terinfeksi Mycobacterium paratuberculosis.

Penularan penyakit ini bisa melalui prenatal dan postnatal. Penularan prenatal terjadi melalui transuterine, pada kasus subklinis penularan terjadi sekitar 9% dan kasus klinis mencapai 39%. Penularan transuterine dapat menyebabkan gejala penyakit yang cukup parah mencapai Tahap III dan IV. Penularan yang sering terjadi adalah postnatal ( horizontal ), yaitu hewan terinfeksi ( umumnya dewasa ) ke hewan lain ( umumnya hewan muda ) melalui susu, air atau pakan yang tercemar dengan estimasi dosis 103 cfu/hewan. Feses yang mengandung Mycobacterium avium paratuberculosis 108 / gram feses tertelan pedet akan mampu menginfeksi pedet. Ternak dewasa ( umur > 2 tahun ) lebih resisten dibanding dengan ternak muda ( 0 – 6 bulan ), biasanya ternak terinfeksi pada waktu pedet dan muncul gejala klinis setelah umur 2 tahun karena penyakit ini bersifat kronis.

 

Surveilans aktif dan Tindakan pencegahan berkembangya kasus penyakit

Surveilans aktif sudah dilakukan oleh semua balai veteriner di Indosesia sejak beberapa tahun lalu. Surveilans dilakukan dengan melakukan pengambilan serum darah sapi dengan umur diatas 2 tahun. Langkah langkah yang dilakukan apabila ditemukan uji serologis positif ini disesuaikan dengan tingkat titer antibodynya pada tujuan pemeliharaan. Pada hasi +, dan ++ maka sementara dilakukan monitoring untuk dilakukan resampling dan pengujian ulang pada tahun berikutnya untuk mengetahui perkembangan antibody. Sapi breeding , sapi perah atau sapi untuk bibit dilakukan masa karantina untuk diuji Kultur atau dengan PCR dengan melihat perkembangan titer antibody. Pengujian dilakukan 4 kali dalam 1 tahun untuk mengetahui perkembangan penyakit sambil dilakukan treatment terhadap Mycobacterium paratuberculosis. Pada +++ atau lebih maka akan dilakukan pengambilan sample segera berupa feses ataupun kerokan mukosa rectum, kemudian kultur dan PCR. Umur kurang 2 tahun diabaikan

Usaha pencegahan penularan penyakit dilakukan dengan beberapa cara. Pertama: Vaksinasi, namun sampai saat ini belum memberikan hasil memuaskan terhadap Paratuberkulosis. Kedua: mengisolasi, melakukan treatment dan pengujian berkala sapi yang terinfeksi. Ketiga: Pemberian pakan dengan ransum komplet untuk bisa membuat derajat keasaman rumen tetap normal, karena kondisi PH asam akan menyebabkan peningkatan penyakit mengingat bakteri ini bersifat tahan asam. Terahir: desinfeksi dan istirahatkan kandang selama 2 tahun, yaitu pada kandang dengan riwayat pernah dipakai untuk memelihara sapi terinfeksi.

Jepang telah mengatur Pengendalian dan penanganan penyakit hewan menular dengan undang undang no. 166 tahun 1951. Landasan hukum ini bertujuan untuk mendukung industri peternakan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit hewan menular salah satunya Johne’s Disease. Pelaksanaanya dilakukan oleh instansi di daerah masing masing dengan saling berkoordinasi pada pihak yang berkaitan ( laboratorium diagnosa ) dan pemerintah pusat. Ada 47 pemerintah daerah provinsi ( prefecture ), 176 Livestock hygiene service centre, dan sekitar 2200 dokter hewan yang berkompeten di instansi pemerintah. Pemerintah pusat ( Ministry of Agriculture, Fisheris and Forestry ) memiliki laboratorium pengujian, karantina hewan dan lembaga riset ( National Institute of Animal Health ). Tindakan test and culling pada kasus Johne’s Disease dilakukan dengan koordinasi yang baik diantara mereka. Pendidikan secara terus menerus dilakukan agar benar benar tercipta dokter hewan yang memiliki kualitas standart dalam pengetahuan, diagnosa, pencegahan dan penanganan penyakit hewan. Pada ahirnya pemerintah pusat menyiapkan ganti rugi untuk sapi / ternak yang diculling karena penyakit ini. Semoga kita bisa belajar dari kelebihan negara lain.

Penulis: drh Joko Susilo (Medik Veteriner Balai Veteriner Lampung)

dimuat di Majalah Infovet Agustus 2015

BERITA TERKINI