Kategori
Berita Terbaru

Kabupaten Purworejo Prospektif Pengembangan Kambing

kambing

Awal tahun 2013 kami sekeluarga meluangkan waktu cuti berlibur ke kampung halaman di Purworejo, Jawa Tengah. Kampung halaman yang selama ini dikenal sebagai sentra peternakan kambing Etawa atau peranakannya, Kabupaten yang memiliki ciri khas penghasil durian termanis, bedug masjid terbesar serta sentra penghasil buah manggis.  Kerinduan kami selalu muncul akan sejuknya alam pegunungan, suasana kampung alami, kehidupan masyarakat yang aman, tentram, damai walaupun masih belum seluruhnya hidup sejahtera.

Pertanian masih menjadi sector unggulan yang menyerap tenaga kerja terbanyak, karena masih terhampar luas persawahan, ladang pertanian, perkebunan dan perbukitan. Di sector peternakan, zona merah ( peternakan sapi / daging ) terhampar di sepanjang jalan Deandless pantai selatan dari kecamatan Ngombol ( berbatasan dengan DIY ) sampai dengan kecamatan Grabag berbatasan dengan Kabupaten Kebumen. Populasi sapi pada 2011 meningkat dengan adanya program pengadaan Unit Pertanian Organik terutama di Kecamatan Ngombol. Program dari Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian ini, masing masing kelompok diberikan 1 paket sapi betina 30 ekor dan 3 pejantan, kandang kelompok, unit pengolahan pupuk organic, gudang pakan, alat angkut dan lahan persawahan dari masing masing petani.

Di daerah perbukitan Menoreh, Kecamatan Kaligesing menjadi sentra pengembangan usaha peternakan kambing etawa. Lokasi ini memiliki ketinggian > 1000m di atas permukaan air laut berbatasan dengan Kecamatan Girimulyo dan Kalibawang DIY, sejak puluhan tahun dikenal secara nasional dan bahkan internasional sebagai sumber Kambing Ettawa. Hampir seluruh Pulau atau provinsi di Indonesia mengembangkan kambing etawa atau juga PE yang berasal dari Kabupaten Purworejo, dan sudah sampai ke negeri Jiran Malaysia. Bukit menoreh sangat cocok untuk pengembangan etawa karena didukung oleh iklim, suhu, lingkungan, ketersediaan pakan ternak, dan pangsa pasar yang sangat menjanjikan. Perkembangan usaha yang maju ini tidak lepas juga dari supervisi perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta seperti Universitas Gadjah Mada. Saat ini, perkembangan usaha dan pola peternakan etawa di Purworejo menjadi salah satu acuan peternak di daerah dan provinsi lainnya.

kambing2

Prospek usaha kambing sangat menjanjikan

Tujuan lain liburan awal tahun saya ingin mengetahui bagaimana prospek peternakan kambing di Purworejo. Saya mendatangi salah satu pasar hewan yang cukup besar di Kecamatan Bayan yang menjadi pusat transaksi jual beli kambing. Kambing yang diperjual belikan bervariatif  berdasarkan jenis kelamin, umur, warna bulu, penampilan, dan ketampanan bibit jantan. Saya sempat berdiskusi dengan salah seorang pedagang di sana bernama Pak Gampang dari Kecamatan Kemiri. Menurut beliau, mulai lebaran haji 2012 harga kambing tidak pernah turun dan tidak akan turun. Kambing qurban harganya naik Rp. 300.000,00 sampai dengan Rp. 500.000,00  per ekor dari tahun 2011 ke 2012. Peternak yang menjual kambing jantannya di hari raya kurban, mendapatkan upah yang sesuai untuk pemeliharaan ternak. Peternak akan kembali mengisi kandangnya dengan kambing bibit yang digemukkan untuk lebaran haji yang akan datang. Sampai dengan bulan ini, pasar hewan ini sangat ramai oleh peternak yang mencari bibit kambing, sehingga harga kambing juga tidak akan turun sesuai dengan permintaan. Pak Gampang menambahkan bawha dari tahun ke tahun kebutuhan kambing untuk lebaran haji terus meningkat.

Di desa saya, Wonosuko Kecamatan Kemiri saya bertemu dengan Bp. Saring ketua RT I / RW I yang menyebutkan bahwa tahun 2012 desa kami mengeluarkan kambing kurban untuk kirim ke Jakarta sebesar 200 ekor kambing kacang dari semua peternak berjumlah 80 KK, meningkat 50 ekor dari tahun 2011. Beliau menjelaskan, peternak merasakan hasil yang cukup memuaskan untuk memelihara kambing. Pola pemeliharaan kambing yang dari dulu dianggap sebagai tabungan, sudah mulai bergeser menjadi sebuah usaha komersial. Pak RT menyebutkan saat ini dusun Watubelah memiliki 80 KK yang rata rata memelihara  5-10 ekor kambing. Warganya yang kekurangan modal untuk memelihara kambing mendapatkan dana dari tabungan remaja masjid sebagai system gaduhan ternak. Pola bagi hasil diberlakukan 40 % bagi pemodal dan 50% peternak penggaduh, system ini sangat membantu warganya. Mengingat jumlah modal yang terbatas dari remaja masjid, maka Bp. Saring mengharap dan mempersilahkan semua investor yang memiliki modal untuk membantu warganya dengan jaminan keamanan modal, tanggung jawab dan saling percaya. “ dari tahun ke tahun kami selalu mengajak investor untuk menyisihkan modalnya untuk berinvestasi di usaha kambing karena desa kami masih kekurangan modal usaha dan belum pernah mendapatkan bantuan ternak dari pemerintah “ tambah pak RT.

Pola breeding kambing menjadi prospektif

 “Ono rego, ono rupo” ( harga kambing disesuaikan dengan penampilannya ), itulah bahasa yang menjadi garis bawah diskusi saya pada hari ke 4 liburan dengan peternak di kampung saya. Dalam diskusi tersebut muncul data: kambing kacang jantan umur 5-6 bulan dengan penampilan bagus saat ini mencapai harga Rp. 1.300.000,00 setara dengan harga dara siap kawin umur 9 -10 bulan atau pertama kali beranak. Pejantan yang sudah siap mengawini dengan berat >25 kg mencapai harga > Rp.2.000.000,00. Melihat fenomena ini, saya memberikan wacana kepada para warga untuk mengembangkan breeding. Tahap pertama adalah mengganti ( replace ) kambing dengan perfoma kurang bagus baik jantan, dara, indukan, ataupun cempe. Tahap kedua, menyediakan pejantan unggul dan betina unggul dengan perbandingan 1 pejantan untuk 10 ekor betina.  Tahap ke tiga adalah mengawinkannya sampai dengan kelahiran. Tahap ke empat, melakukan pemeliharaan cempe dan gradding pada cempe yang dilahirkan. Tahap terakhir adalah pemasaran hasil panen.

kambing3
Gambar peternakan intensif sesuai harapan kami ke depan

Realisasi dari wacana yang saya lontarkan, pada hari berikutnya dengan membeli 1 ekor pejantan unggul dan 5 ekor betina unggul. Saya berharap agar peternak segera mengikuti langkah ini, yang tujuan akhirnya menjadikan kampung kami sebagai “ sentra kambing unggulan “ di Purworejo. Dengan teknis seleksi bibit unggulan, dibarengi dengan pakan yang memadai serta penanganan kesehatan yang baik kami yakin sebelum tahun 2020 target kami akan tercapai. Impian warga, dengan usaha serius menggarap ternak kambing didukung oleh investasi dan prasarana yang baik suatu saat desa ini akan menjadi sentra kambing, pasar kambing untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ke depan kami juga berharap peternakan kambing ini dapat berkembang menjadi usaha melayani paket catering untuk aqiqah dan hewan qurban. Perbaikan kualitas pakan untuk meningkatkan perfoma produksi daging ( peningkatan % ase daging ), sehingga masyarakat yang berkurban dengan kambing jumlahnya semakin meningkat. Mohon disupport oleh semua pembaca setia.

penulias: drh Joko Susilo (Medik Veteriner Lab. Patologi Balai Veteriner Lampung)