Kategori
Artikel

Kajian Bovine Ephemeral Fever: Epidemik dan Prediksi kasus

Oleh : Tri Guntoro

(Dari: Berbagai sumber dan analisis)

Bovine Ephemeral Fever (BEF) adalah salah satu penyakit virus arbo pada sapi dan kerbau, seperti Bostaurus, Bos indicus dan Bos javanicus. Pada ruminansia lainnya infeksi BEF biasanya tidak menimbulkan gejala klinis. Penyakit BEF sering juga disebut `three days sickness’, stiff sickness, dengue fever of cattle, bovine epizootic fever dan lazy man’s disease.

Penyakit ini ditandai dengan demam selama tiga hari, kekakuan dan kelumpuhan, namun demikian dapat sembuh spontan dalam waktu tiga hari. Oleh karena itu, nama BEF atau demam tiga hari lebih sering digunakan (Yeruham et al. 2007; Zheng et al. 2011). Pertama kali BEF dilaporkan pada tahun 1924 di Mesir oleh Rabagliati (Yeruham et al. 2007). Kemudian, penyakit ini terjadi pula di beberapa negara seperti Afrika, Asia dan Australia. Penyakit ini belum pernah dilaporkan di Western Hemisphere, Amerika Utara dan Amerika Selatan (Yeruham et al. 2003; Walker 2005; Wang et al. 2001).

Penyakit BEF merupakan salah satu penyakit vector-borne disease, yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya penggunaan lahan pertanian yang kurang sesuai, tempat penampungan air yang tidak terpakai, irigasi yang tidak baik, perubahan lingkungan dan iklim, urbanisasi, perpindahan ternak, vektor dan patogen serta industrialisasi/mekanisasi pertanian (Sutherst 2004). Penyakit BEF ditransmisikan melalui vektor serangga, yang banyak terdapat di daerah tropis dan subtropis seperti Asia, Afrika dan Australia. Selain menyerang sapi dan kerbau serta mempunyai dampak ekonomi yang besar, BEF juga dapat menginfeksi hewan ruminansia lainnya seperti rusa/red deer (Cervus elaphus), waterbuck (Kobus ellipsiprymnus), wildebeest (Connochaetes taurinus), hartebeest (Alchelaphus buselaphus), antelope dan jerapah (St. George 1988).

Hasil pengamatan di Jawa Tengah yang dilakukan oleh Suwito dan Nurini (2009) menunjukkan bahwa sapi dengan ras Simental dan Limosin lebih sensitif terhadap infeksi BEF, bila dibandingkan dengan ras Peranakan Ongole. Yeruham et al. (2007) melaporkan bahwa angka kesakitan pada sapi akan meningkat pada yang dewasa dibanding pada sapi umur muda (di bawah umur 1 tahun), dan sapi lebih peka dibandingkan dengan kerbau. Gejala klinis biasanya hanya tampak pada sapi umur di atas tiga bulan (Yeruham et al. 2002; 2003). Tidak diketahui dengan pasti penyebab pedet lebih resisten terhadap infeksi BEF. Berdasarkan laporan para dokter hewan praktek di lapang, sapi perah FH paling sering terinfeksi BEF secara klinis dibandingkan dengan bangsa lainnya. Ternak yang digembalakan lebih berpotensi terinfeksi dibandingkan dengan yang dikandangkan, karena ternak yang terlindungi baik oleh kandang, pepohonan dan tempat tertutup lainnya, sehingga vektor tidak dapat melihat langsung indung semang untuk dihisap darahnya (Braverman et al. 2003).

Menurut laporan Nandi dan Negi (1999), penularan melalui kontak langsung dan transmisi mekanis dari vektor tidak menimbulkan gejala klinis. Hal ini dapat dipahami karena jumlah virus yang dapat ditularkan secara mekanis tidak cukup jumlahnya untuk menghasilkan gejala klinis. Hal ini berbeda apabila penularan terjadi melalui vektor biologis, karena virus BEF telah berkembang biak pada tubuh vektor dengan jumlah virus BEF yang banyak dan siap ditularkan. Morbiditas penyakit BEF cukup tinggi dan dapat mencapai 80%, tetapi mortalitasnya sangat rendah (0- 2%) (Yeruham et al. 2007; Zheng et al. 2011).

Bovine Ephemeral Fever disebabkan oleh virus BEF, yang termasuk dalam single stranded RNA, genus Ephemerovirus, family Rhabdoviridae. Virus ini mempunyai besaran antara 80-140 nm, dan berbentuk seperti peluru, mempunyai amplop, sehingga sensitf terhadap diethylether dan sodium deoxycholate (St. George 1988). Pada suhu 48°C, virus BEF tetap aktif dalam darah. Virus ini juga dapat diinaktifkan pada suhu 56°C selama 10 menit atau 37°C selama 18 jam (Della Porta dan Brown 1979). Virus BEF tidak aktif pada pH 2,5 atau pH 12,0 selama 12 menit. Ini berarti sebagai langkah pemberantasan dalam hal penggunaan desinfektan.

Hasil karakterisasi isolat BEF dari beberapa negara menunjukkan bahwa isolat BEF asal Jepang, Taiwan, Cina, Turki, Israel dan Australia, memiliki kesamaan gen yang conserve. Secara filogenetik, BEF memiliki kesamaan berdasarkan daerah/negara, yang terbagi dalam tiga kelompok klaster yaitu kelompok Asia, Australia dan Timur Tengah (Zheng dan Qiu 2012). Tidak ada perbedaan yang jelas antara strain virus yang satu dengan yang lain, meskipun di Australia, isolat virus BEF yang diperoleh dari nyamuk berbeda dengan yang diperoleh dari ternak sapi yang terinfeksi. Isolat yang diperoleh hanya membedakan antara virus BEF virulen dan avirulen (Kato et al.2009).

Di daerah yang lebih tropis di mana musim dibagi menjadi basah dan kering, penyakit ini cenderung terjadi pada musim hujan. Hubungan antara wabah dan hujan telah disebutkan oleh Davies et al. (1975) dan St George (1986).

selengkapnya DOWNLOAD DI SINI