Kategori
Artikel

Kerugian Akibat Demam Tiga Hari di Industri Peternakan

Bovine Ephemeral Fever (BEF) yang dikenal sebagai Demam Tiga Hari terjadi di Negara tropis dan subtropis. Bovine Ephemeral Fever merupakan penyakit yang disebabkan karena virus, bersifat akut, menular pada sapi dan kerbau, ditularkan oleh insekta, dan gejala klinis ditandai dengan fluktuasi demam, kekakuan otot, kelemahan dan pincang, pembesaran nodus limfatikus peripheral, dan kesembuhan spontan. Penyakit ini disebabkan oleh genus Ephemerovirus, dari family Rhabdoviridae. Penyakit ini bersifat enzootika di Afrika, sebagian besar Asia, Australia bagian Tengah, dan Jepang namun tidak terjadi di Eropa atau amerika. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan cukup besar; terjadi penurunan produksi susu hingga mencapai 80%, menyebabkan kemandulan pada pejantan, dan juga menyebabkan mastitis, keguguran serta kematian ternak.

BEF1

Sumber infeksi penularan BEF adalah hewan terinfeksi dengan gejala klinis, ketika virus berada di aliran darah selama 5 hari dan yang menyebabkan rusaknya sel darah putih menjadi berkeping keping. Virus BEF ditularkan oleh beberapa spesies nyamuk dan Cullicoides, serta inokulasi langsung 0,002 ml darah terinfeksi melalui jalur intravena. Penularan penyakit tidak terjadi melalui muntahan ataupun kontak langsung, namun dimungkinkan penularan terjadi melalui udara. Gejala klinis penyakit hanya terjadi pada sapi dan kerbau, tidak terjadi pada kambing, domba, kuda, babi, anjing dan marmot. Penyakit ini banyak terjadi pada saat perubahan musim, dan bulan kemarau panjang. Demam tiga hari terjadi pada semua umur ternak dan yang sering dijumpai pada umur 6 – 24 bulan.

Berikut perubahan secara klinis, biokemis, dan hematologis ternak yang terinfeksi BEF:

BEF3

Demam tiga hari merupakan penyakit musiman pada peternakan rakyat dan mulai dilaporkan masuk ke beberapa feedlot dan budidaya sapi beberapa tahun terahir. Musim hujan pada bulan bulan desember hingga februari laporan kejadian penyakit ini cenderung meningkat dan terkadang juga terjadi pada musim kemarau. Kejadian BEF di salah satu feedlot di Lampung terjadi dalam 2 tahun terahir berturut turut. Gejala klinis penyakit meliputi kondisi demam ( suhu mencapai 42oC, lemah, mengalami pincang dan kekakuan alat gerak, terkadang sapi tidak mampu berdiri, hipersalivasi, kesulitan bernafas, gemetar, keluar leleran hidung dan air mata.

Penyakit dapat terjadi pada semua fase penggemukan baik starter, grower ataupun finisher. Angka kematian dari beberapa literatur sangat kecil dengan angka kesakitan yang tinggi, namun jika penyakit ini terjadi pada feedlot ataupun breeding tingkat kematian tersebut dapat menimbulkan kerugian cukup besar. Feedlot dengan populasi 5000 ekor, mengalami musibah oleh penyakit ini rata rata terjadi potong paksa  3 – 5 ekor / hari selama kurun waktu 30 – 50 hari. Jika rata rata potong paksa karena penyakit adalah 4 ekor /hari selama 40 hari yaitu sejumlah 160 ekor, maka total potong paksa mencapai 3,2%.

Ada beberapa hal yang saya sarankan kepada salah satu feedlot, yang beberapa hari lali meminta saran langkah antisipasi kejadian penyakit. Feedlot yang berada di daerah endemik harus selalu mengupdate informasi kejadian penyakit di peternakan rakyat, terutama pada saat musim hujan, musim kemarau atau peralihan. Pada saat penyakit terjadi di peternakan rakyat, maka langkah pertama yang harus dilakukan melalukan penyemprotan serangga dan nyamuk di lingkungan kandang (fogging) agar populasi nyamuk menurun. Kebersihan kandang harus selalu dijaga, menghindari genangan genangan air yang bisa dimanfaatkan untuk sarang nyamuk.  Penyemprotan nyamuk dapat ditingkatkan frekuensinya untuk memastikan siklus hidup nyamuk terputus. Langkah alternative lainya dengan melakukan vaksinasi terhadap BEF, hal ini belum banyak dilakukan di Indonesia namun di beberapa Negara maju seperti di Jepang sudah dilakukan.

Gambar Jenis jenis vaksin untuk ruminansia di Jepang termasuk vaksin BEF
Gambar Jenis jenis vaksin untuk ruminansia di Jepang termasuk vaksin BEFSeekor nyamuk yang menggigit sapi peternak rakyat yang menderita BEF dan masuk ke dalam feedlot untuk menggigit salah satu sapi, sehingga sapi tersebut menderita BEF. Semakin banyak nyamuk pembawa virus penyakit BEF yang masuk dan menggigit beberapa ekor sapi maka ada sekawanan sapi dalam beberapa pen akan tertular. Jika hal ini dibiarkan, nyamuk berkembang biak dengan cepat di genangan air di dalam feedlot maka penularan akan terjadi dengan cepat ke seluruh pen. Pengendalian dengan penyemprotan nyamuk secara rutin diyakini akan menurunkan kejadian penyakit.

Ketika penyakit ini telah masuk ke suatu feedlot, terjadi pada beberapa individu sapi maka segera lakukan pemisahan sapi yang terkena ke kandag isolasi di kandang yang tidak terjangkau oleh nyamuk. Satu sapi terserang BEF dan tidak segera diisolasi maka akan menjadi sumber penyebaran virus yang sangat potensial. Deteksi dini penyakit akan sangat bermanfaat untuk menghindari kerugian akibat merebaknya penyakit. Ketelitian dan penanganan cepat dan tepat tim kesehatan hewan di dalam feedlot menjadi sangat penting peranannya. Sebaliknya, jika tim tersebut tidak teliti dengan sapi yang menderita BEF, maka sapi mengalami demam dan tidak bisa berdiri di dalam pen, sapi bisa diganggu temannya, terinjak, kepanasan atau kehujanan dengan kondisi lingkungan yang kurang baik sehigga memperparah penyakit. Apabila hal ini terjadi, maka segera sapi diangkat dan dipindahkan, dalam kondisi parah diusahakan potong paksa tidak dilakukan di dalam kandang karena material tubuh seoerti darah mungkin dapat menjadi agen penuralan virus yang efektif.

Penanganan pengobatan dilakukan dengan injeksi penurun panas, pemberian vitamin dan jika memang dibutuhkan pemberian antibiotik untuk menghindari infeksi sekunder bakterial.  Beberapa kasus sapi mengalami kelemahan dan tidak deapat berdiri, pemberian energy (ATP) sangat membantu kesembuhan. Penularan virus melalui jarum suntik belum banyak dikaji, namun disarankan agar pengobatan penyakit ini menggunakan dispossible syrinx (sekali pakai). Penyakit dapat menyebar ke seluruh pen pen penggemukan ditandai dengan banyaknya sapi sapi yang menunjukkan gejala klinis disertai penurunan asupan bahan kering pakan secara umum.  Antisipasi yang dilakukan jika hal ini terjadi dengan ditambahkan penurun panas seperti acetaminophen ke dalam ransum, pemberian vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Ransum dibuat dengan energi yang lebih rendah, karena pakan dengan energi tinggi dimungkinkan metabolism tubuh naik, dan suhu tubuh naik.

drh Joko Susilo, M.Sc
Medik Veteriner
Balai Veteriner Lampung