Koksidiosis pada sapi: Mudah ditangani, jika terlambat fatal akibatnya

sapi1

Selama kurun waktu saya berkecimpung di peternakan sapi potong, salah satu penyakit yang sering dijumpai, bisa menyebabkan kematian jika terlambat ditangani, namun jika segera ditangani sangat mudah untuk sembuh. Penyakit tersebut adalah koksidiosis, dikandang terkenal dengan sebutan enteritis, atau berak darah. Pada sapi import, kasus ini meningkat pada awal kedatangan namun pada fase growing atau finishing jarang terjadi karena sebagian besar penggemukan menggunakan anti koksidia. Anti koksidia dimasukkan dalam formula pakan dengan tujuan menghambat dan menghilangkan eimeria, namun juga sebagai pemacu pertumbuhan.

Beberapa waktu lalu saya dihubungi oleh peternak yang memiliki 25 ekor sapi, terjadi  kematian 5 ekor sapi dalam 2 hari. Gejala klinik yang ditemukan adalah feses bercampur darah ( ada diare atau justru konstipasi ), anemia, kelemahan dan kekurusan. Tiga ekor sapi yang telah menjadi bangkai telah dikubur, 2 ekor sapi yang belum sempat dikubur saya lakukan nekropsi. Hasil nekropsi terlihat sangat mengejutkan yaitu terjadi perdarahan di seluruh organ dalam ( trachea, paru, hati, jantung, ginjal, limpha ), perdarahan sepanjang saluran pencernakan ( rumen, retikulum, omasum, abomasum, dan usus ), dan perdarahan pada mesenterium ( penggantung usus ). Perdarahan terjadi pada usus bagian serosa dan mukosa, serta terlihat feses bercampur dengan darah.

Dari hasil nekropsi tersebut saya menyatakan diagnosa sementara terjadi koksidiosis. Beberapa sample yang saya ambil dan dibawa ke laboratorium untuk peneguhan diagnosa meliputi feses, organ dalam, serum, ulas darah, sample air minum dan sample pakan. Setelah dilakukan pengujian laboratorium, ditemukan ookista diatas 5000 per gram feses pada 2 ekor sapi yang mati dan  air minum juga ditemukan ookista yang cukup banyak. Satu ekor sapi yang masih hidup dengan gejala lemah, lesu, anemis, feses campur darah diambil juga fesesnya dan diperiksa di laboratorium ditemukan ookista diatas 5000 per gram feses. Sapi tersebut ditreatment dengan sulfa trimetrophin dan memberikan hasil yang positif ditandai nafsu makan dan minum bertambah, badan terlihat sehat dan halus.

sapi2

 Penyakit koksidia sapi  disebabkan oleh galur koksidia yang paling patogen,  yaitu infeksi  campuran E. zuernii dan E. Bovis. Eimeria tersebut adalah spesies yang paling patogen, tetapi E. auburnensis dan spesies lain dapat memberikan gambaran penyakit ini secara total, beberapa diantara spesies tersebut dapat memberikan tanda-tanda yang jelas. Galur ini banyak menyerang sapi jenis Bos taurus dan Bos indicus, juga menyerang Bubalus bubalis.

Eimeria bovis adalah coccidia yang patogen pada ternak yang dapat menyebabkan  enteritis hemoragik berat. Sporozoit yang dilepaskan dalam usus inang akan menyerang sel – sel endotel kapiler limfe bagian vili dari ileum, dimana mereka meniru, membentuk macroschizon multinuklear, yang berisi ratusan ribu merozoit generasi pertama. Generasi kedua schizonts dan gamonts kemudian berkembang dengan cepat pada sel epitel dari usus besar (2). Ketika ookista bersporulasi ke saluran pencernaan maka akan melepaskan 4 sporokista dan karena tercerna oleh enzim pencernaan maka sporozoit aktif dan menyerang sel – sel usus. Reproduksi aseksual (schizogony) terjadi beberapa kali dan menyerang lapisan usus, diikuti oleh fase seksual di mana merozoit terlepas dalam bentuk gamet (gametogony). Microgamet dan macrogamet melebur dan berkembang menjadi ookista yang akan keluar bersama feses. Di luar tubuh inang, ookista bersporulasi menjadi bentuk infektif ookista.Reproduksi aseksual (schizogony) terjadi beberapa kali dan menyerang lapisan usus, diikuti oleh fase seksual di mana merozoit terlepas dalam bentuk gamet (gametogony). Microgamet dan macrogamet melebur dan berkembang menjadi ookista yang akan keluar bersama feses. Di luar tubuh inang, ookista bersporulasi menjadi bentuk infektif ookista

 Perbedaan tingkat infeksi penyakit koksidiosis dilakukan dengan menggunakan metoda Mac Master karena metode ini sangat mudah diaplikasikan di lapangan. Pengujian terhadap tingkat infeksi koksidiosis menghasilkan 3 (tiga) kategori, yaitu: negatif, infeksi ringan dan infeksi berat. Hasil negatif apabila tidak terdapat ookista pada sampel uji. Infeksi ringan adalah infeksi yang mengandung ookista dibawah 5000 per gram feses, sedangkan infeksi berat adalah infeksi yang mengandung ookista diatas 5000 per gram feses.

sapi3

Koksidiosis sapi merupakan penyakit yang menyerang pada hewan-hewan muda. Biasanya terdapat pada anak sapi umur 3 minggu sampai 6 bulan. Anak sapi yang umurnya lebih tua bahkan dewasa dapat terserang pada kondisi pencemaran berat, tetapi biasanya mereka tidak memperlihatkan gejala penyakit dan bersifat Carrier. Anak-anak sapi terkena infeksi karena menelan ookista-ookista bersama-sama dengan pakan atau dengan melalui air minum. Mortalitas yang cukup tinggi dapat di temukan pada anak anak sapi yaitu berkisar antara 26-42%. Keparahan penyakit tergantung pada jumlah ookista yang menginfeksi. Jika ookista yang masuk sedikit maka tidak ada tanda-tanda penyakit, infeksi yang berulang-ulang dapat menghasilkan imunitas terhadap penyakit tersebut, dan begitupun juga sebaliknya.

Secara ekonomis penyakit ini mempunyai arti yang penting karena dapat menimbulkan kerugian berupa penurunan berat badan, pertumbuhan terhambat dan penurunan produksi. Secara patologi anatomi ditemukan enteritis pada usus halus maupun usus besar. Pada usus halus bagian bawah,sekum dan usus besar penuh berisi darah atau bekuan darah,mukosa terlihat berwarna merah dan menebal.

Diagnosa koksidiosis dilakukan berdasarkan gejala klinik, anamnesa yang berhubungan dengan keadaan kandang, secara laboratorium di mana ditemukan sejumlah ookista dari tinja sapi. Penyebaran penyakit terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi dengan ookista yang telah bersporulasi. Usaha pengendalian koksidiosis dilakukan dengan menjaga agar sanitasi kandang, tempat makanan dan minuman selalu baik. Sedangkan usaha pengobatan yang dilakukan adalah dengan menggunakan preparat sulfa. Penggunaan monensin dan amprolium selain untuk tujuan pengobatan dapat pula sebagai pemacu pertumbuhan.

PENGENDALIAN KOKSIDIOSIS

Koksidiosis dapat dikendalikan atau dicegah dengan menjaga kebersihan kandang, air minum dan lingkungan sekitarnya. Manajemen pemberian pakan yang baik, menghindarkan sapi dari memakan pakan yang jatuh ke tanah. Memisahan ternak tua dan ternak muda, pembuatan program antikoksidiosis dalam pakan, melakukan karantina ternak yang baru masuk, melakukan Isolasi hewan yang terkena koksidiosis dan pengobatan. Cara lainnya adalah dengan meminimalkan stres lingkungan : suhu, kelembaban dan faktor lain yang meningkatkan resiko koksidiosis (ventilasi yang buruk, nutrisi buruk, kepadatan kandang).drh Joko Susilo

 

Drh. Joko Susilo

Medik Veteriner  Muda, Balai Veteriner Lampung

Direktorat Kesehatan Hewan, Dirjennak Keswan

Kementrian Pertanian RI

dimuat di Majalah INFOVET edisi Mei 2014

BERITA TERKINI