Kategori
Artikel

Kupas Tuntas Sinkronisasi Estrus Pada Sapi

drh Joko Susilo
drh Joko Susilo*)

Ada banyak cara yang dilakukan oleh petugas kesehatan hewan, dinas Peternakan, industri peternakan, instansi Kementrian Pertanian RI di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan tujuan meningkatkan angka kebuntingan dalam rangka mencapai PSDSK 2014. Dari beberapa cara tersebut yang biasa dilakukan adalah sinkronisasi estrus. Sinkronisasi estrus ( birahi ) adalah cara teknis yang dilakukan untuk membuat sapi birahi sesuai dengan waktu yang kita kehendaki, dan untuk suatu populasi tujuanya adalah menghendaki sekelompok sapi birahi secara serentak ( bersamaan ). Sinkronisasi estrus juga dapat memperpendek waktu calving interval ( jarak antar kelahiran ). Ada hal penting yang masih menjadi catatan adalah  masih banyak kejadian di lapangan pelaksanaan sinkronisasi estrus justru menyebabkan keguguran atau kematian embrio dini.

Hormone Prostaglandin ( PGF2α )
Hormone Prostaglandin ( PGF2α )

Pelaksanaan sinkronisasi birahi didasarkan pada pengetahuan yang lengkap tentang siklus birahi normal sapi. Siklus birahi normal sapi adalah 18 – 21 hari terbagi dalam fase folikuler ( proestrus dan estrus ) oleh Folikel Stimulating Hormone dan fase Luteal ( metestrus dan diestrus ) oleh Luteinizing Hormon dan Luteotropik Hormon. Sapi birahi dihitung sebagai hari ke 0 atau hari ke 21, tanda tanda sapi birahi pada umumnya adalah vulva merah, hangat, dan membesar, menaiki temannya ( M )dan diam bila dinaiki ( D ) temannya, keluar lendir bening dari vagina / vulva, sapi gelisah, tidak berkonsentrasi makan, tidak dalam kondisi bunting, palpasi perrectal ditandai dengan tegangnya organ tubuler reproduksi dan terdapat folikel pada salah satu ovarium. Fase metestrus adalah fase lepasnya sel telur ( Ovulasi ) oleh pengaruh Luteinizing Hormon dan badan ovarium ( bursa ovaria ) akan terisi oleh aliran darah menjadi corpus hemoragicum ( badan merah ). Fase estrus dan metestrus berlangsung dari hari ke 0 sampai hari ke 5. Mulai hari ke 5 sampai hari ke 17 atau 18 adalah masa aktifnya Corpus luteum ( diestrus ) yang menghasilkan hormone progesterone. Hari 18 Corpus luteum mengalami regresi, dan fase proestrus mulai berjalan sampai hari ke 21.

Hormone progesterone
Hormone progesterone

Sinkronisasi estrus adalah hak plerogatif dokter hewan yang betul betul paham dengan reproduksi, karena membutuhkan skill untuk inseminasi buatan, therapi intra uterine, pregnancy test 50 hari  usia kebuntingan, dan sterility control untuk mengetahui detail saluran dan organ reproduksi. Sinkronisasi estrus dilakukan dengan 2 prinsip pelaksanaan yaitu meniru kerja progesterone ( memperpanjang waktu kerja Corpus luteum ) dengan hormone progesterone ( CIDR, PRID ), dan memperpendek kerja progesterone ( melisiskan Corpus luteum ) dengan hormone Prostaglandin ( PGF2α ). Masing masing prinsip dilaksanakan dengan melihat situasi / status reproduksi dan hasil yang dikehendaki. Corpus luteum menghasilkan progesterone  yang berfungsi mempertahankan kebuntingan dan feedback negative terhadap otak sehingga tidak terjadi estrus ( folikel degraaf ) pada fase diestrus ataupun kebuntingan. Prostaglandin bekerja melisiskan Corpus luteum sehingga Corpus luteum regresi dan kadar progesterone akan turun. Hal ini menyebabkan feedback negative akan hilang sehingga otak akan memberikan kesempatan kepada Folikel Stimulating Hormone kembali melakukan aktifitasnya dalam proses folikulogenesis dan menghasilkan folikel yang matang ( folikel degraaf ).  Di dalam Folikel degraaf terdapat  sel telur dan cairan folikuler berisi Estrogen yang menandai gejala estrus selanjutnya terjadi ovulasi.

Pelaksanaan sinkronisasi estrus dengan Prostaglandin ( PGF2α ) dengan pemberian intra muskluler atau intra uterine lebih banyak dilakukan di lapangan. Langkah kerja yang dilakukan adalah menseleksi sapi yang memiliki status fase diestrus atau terdapat Corpus luteum. Beberapa persyaratan untuk sinkronisasi estrus dengan cara ini adalah:

  1. Sapi dipastikan tidak bunting ( tidak pada saat masa fertilisasi atau masa pertumbuhan zigot / embrio )
  2. Terdapat Corpus luteum normal
  3. Tidak mengalami gangguan reproduksi yaitu infeksi organ dan saluran reproduksi seperti pyometra, metritis, endometritis, peradangan dan pengerasan servik, corpus luteum persisten. Tidak boleh juga pada gangguan nutrisi seperti Body condition score rendah, hipofungsi ovaria, atau cysta folikuler.
  4. Tidak ada kelainan genetic reproduksi ( freemartin, agenesis ovaria, atropi ovaria, hipoplasia ovaria dan kelainan genetic lainnya )
  5. Boleh dilakukan pada induk setelah melahirkan yang telah mengalami involusi uterus dengan sempurna dan fungsi kerja organ dan saluran reproduksi sudah kembali normal tanpa infeksi.
  6. Tidak ada riwayat sapi mengalami gangguan pernafasan ( respirasi ).

Jika sudah dipastikan statusnya corpus luteum maka segera dilakukan penyuntikan Prostaglandin dan sapi akan menunjukkan gejala birahi 72 – 96 jam setelah penyuntikan dan deteksi birahi dilakukan bisa pada 3 – 4 hari setelah pemberian. Namun apabila palpasi perrectal didapatkan status folikel atau perkembangan folikel, maka sapi akan birahi secara alami dengan pemberian Prostaglandin atau tanpa pemberian Prostaglandin sehingga sebaiknya deteksi birahi dilakukan setiap hari. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitasnya maka, apabila birahi alami bagus dilakukan IB, dan jika kualitas birahi alami kurang bagus dilakukan Penyuntikan Prostaglandin 7 – 11 hari kemudian ( sudah masuk fase luteal ).

Corpus Luteum
Corpus Luteum

 Penyuntikan Prostaglandin pada corpus luteum persisten karena infeksi tidak menghasilkan kualitas birahi yang bagus, tipe leleran vulva biasanya keruh ( lendir infeksi ) dan rendah sekali angka kebuntingannya. Sapi dengan kasus corpus luteum persisten harus dilakukan penanganan terlebih dahulu terhadap agen infeksi yaitu dengan antibiotic atau iodine povidone 1-2% intra uterine.  Pada kasus ini, penyuntikan Prostaglandin dibarengi dengan iodine povidone 1-2% intra uterine member hasil lebih baik dari pada hanya dengan Prostaglandin. Untuk kasus gangguan reproduksi karena defisiensi nutrisi (hipofungsi ovaria, atau cysta folikuler ) penanganan yang utama adalah perbaikan nutrisi, pemberian vitamin ADE,dengan pemasangan intra vaginal hormone progesterone ( CIDR, PRID ) selama 1 minggu kemudian dicabut dan diberikan Prostaglandin  atau pemberian hormone GnRH.

Folikel dan Corpus Luteum
Folikel dan Corpus Luteum

Sapi yang birahi pada 06.00 – 18.00 diinseminasi  pada 17.00 – 18.00, dan sapi yang birahi pada 18.00 – 06.00 diinseminasi pada 06.00. Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah inseminator yang mahir, straw kualitas baik ( post thawing motilisation, % hidup sperma, dan konsentrasi sperma ), lakukan Ib lege artis yaitu semen beku kualitas unggul di thawing pada air suhu 370C selama 25 detik, pemakaian tissue untuk membersihkan straw dan membersihkan vulva agar terhindar dari infeksi pada saat IB, deposisi semen beku dilakukan pada posisi ke 4 yaitu posisi setelah melewati cinicin servik terahir dan di corpus uterus.

Jika di suatu daerah atau peternakan besar telah menseleksi 500 ekor sapi sesuai standar untuk sinkronisasi estrus, maka harus diperhitungkan juga apabila angka kebuntingan 90% berarti 450 ekor sapi akan lahir dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itu harus dipersiapkan tenaga teknis untuk persiapan kelahiran seandainya ada sebagian sapi yang melahirkan membutuhkan pertolongan ( distokia ). Penyelamatan dan perawatan pedet yang dilahirkan juga menjadi point yang penting dalam keberhasilan program ini ( ada di majalah Infovet edisi April 2012 ). Semoga menjadi semangat bagi insan insan pecinta dan pelaku peternakan untuk benar benar memberi support bagi tercapainya swasembada daging sapi / kerbau 2014. Viva peternakan dan kesehatan hewan Indonesi. [Drh. Joko Susilo]

*) Medik Veteriner Pertama Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner Regional III Lampung