Lamtoro: Improve ADG in Cattle

Tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber nutrisi yang baik untuk perkembangan sapi atau ruminansia lainnya masih menjadi pekerjaan rumah bagi negara-negara tropis. Diketahui bahwasanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam peternakan skala rakyat di Indonesia:

  1. Poor nutrition;
  2. Low calving rate;
  3. High Mortality;
  4. Low growth rate;
  5. Loss weight in dry sesion;
  6. Low carcass.

Di Australia banyak lahan pengembalaan hingga 59%, dan diketahui bahwasanya dari negara bagian adalah Queensland dan memiliki peternakan yang paling besar. Dan produksinya dari beberapa negara yang diexport Indonesia 55,1 % dari penjualan sapi hidup. Australia memiliki beberapa karakteristik padangan/ lahan pengembalaan dan ada fakta yang menarik adalah Grazed Native > 90% hanya menghasilkan produksi 60 % dan jika lahan yang dilakukan improve 5 % akan mencapai angka 40 – 50 % hal ini sangat menarik untuk dicermati karena dengan perbaikan 5 % dengan lahan yang sedikit mampu membuat produksi yang mendekati yang memiliki lahan yang luas.

Sedangkan ketika kita membicarakan kenyataan bahwa sapi membutuhkan Protein kasar >13 % sedangkan jika menggunakan rumput biasa < 8% sehingga membutuhkan tanaman yang mampu meningkatkan protein kasar.

Lamtoro atau Lucaena merupakan tanaman legum (kacang-kacangan) yang sangat baik dan cocok dalam berbagai macam kondisi (suhu panas dan basah). Lamtoro berasal dari semenanjung Amerika latin tepatnya dekat dengan Meksiko selatan dan menyebar keseluruh dunia melalui spanish colonialis. Tanaman ini bisa bertahan hingga 20 tahun, sejak umur 1 tahun  maka lamtoro itu sudah mencapat tinggi 2-3 meter dan sudah mulai bisa dipanen. Lamtoro memiliki kandungan protein hingga 20 %. Tetapi ada beberapa permasalahan diantaranya lamtoro dapat berdampak toksik dan sering di makan kutu loncat. Ada upaya untuk menghasilkan varietas yang bagus : tahan terhadap kutu loncat.

Ternyata Lucaena dapat mengeluarkan racun Memosin dan bersifat akut dapat merontokkan bulu tetapi setelah masuk kedalam rumen dengan adanya bakteri Synergistes jonesis yang dapat melemahkan DHP sebagai bentuk memosin yang telah masuk ke dalam rumen. Dan ada penelitian bahwasanya DHP ini akan dinetralkan secara adaptif secara perlahan oleh hati (Hepatotoksik) dan keluar bersama urin. Dengan demikian ternak yang secara perlahan (adaptif) pemberian secara bertahap dari 30 % akan menunjukkan adaptasi setelah 30 hari. Satu pohon lamtoro dapat menghasilkan 14 kg untuk sapi yang memiliki berat 200-300 kg membutuhkan sekitar 3 – 4 pohon. Lamtoro sangat baik untuk melunturkan cacing nematoda (cacing gilig) karena mengandung tanin dan saponin. Pohon Lamtoro memiliki daun yang tinggi diatas tanah sehingga kemungkinan adanya kontak dengan telur cacing sangat minim dan akarnya mampu menjalar sangat dalam dan jauh sehingga di musim keringpun dapat hidup hal ini sangat berbeda dengan turi (waktu hidupnya pendek) dan Indigo vera yang memilki daun yang pendek dan daya tahanya kurang dari lamtoro.

Jadi dengan menggunakan Lamtoro maka akan memberikan alternative terhadap pakan yg memiliki kandungan protein hingga 20 % dan dapat meningkatkan berat badan dari 0,4 kg/hari menjadi 0,8 kg per hari.

Laporan drh Triguntoro, MP dari Australia

BERITA TERKINI