Kategori
Artikel Berita Terbaru

Malignant Catarrhal Fever Pada Sapi Bali

MCF adalah penyakit viral yang disebabkan oleh virus Herpesvirus (Alcelaphine Herpesvirus 1 dan ovine Herpesvirus 2). MCF  banyak menyerang sapi, kerbau, bison dan rusa. Domba dan kambing diduga sebagai faktor utama sumber pembawa antigen.

Prognosa terhadap tindakan pengobatan adalah Infausta.

Gejala klinis :

Kasus penyakit yang menyerang sapi Bali tersebut dilaporkan dengan gejala awal adanya konjunctivitis dengan dugaan awal pink eye. Gejala klinis teramati dengan adanya eksudat mukopurulen dengan bau khas terlihat 4 hari setelah gejala konjunctivitis terjadi. Erosi epitel dan perdarahan terjadi pada cermin hdung, mulut, lidah dan gusi  (Fenner, 2011; Ressang, 1983). Kejadian penyakit dikategorikan akut dengan masa inkubasi 4-6 hari dan diakhiri dengan kematian. Gambaran sapi dengan gejala klinis ditampilkan pada Gambar 1.

 sapi1

Perubahan Patologi Anatomi :

Menurud Ressang (1983), perubahan patologi anatomi yang menciri pada penyakit MCF terjadi adanya erosi selaput lendir terutama pada lubang hidung. Eksudat mukopurulen terdapat mulai dari sinus sampai dengan organ pernafasan bagian dalam (bronkhus dan bronkhiolus). Paru-paru mengalami pembengkakan pada lobus kanan dan disertai dengan adanya odema. Lobus kiri dan aksesorius mengalami fase hepatisasi. Eksudat mukopurulen ditemukan dari sinus, laring, trakhea sampai ke bronkhus dan percabangan bronchiolus. Perdarahan bersifat diffus ditemukan pada usus halus dan usus besar. Otak mengalami perdarahan.   Hasil perubahan  patologi anatomi dapat dilihat di Gambar 2.

sapi2

Pengobatan dan Pencegahan

Pengobatan yang dilakukan sejauh ini masih sangat sulit dilakukan. Pengobatan yang dilakukan hanya sebatas perbaikan kondisi tubuh dan pemberian antibiotik serta obat-obat topikal untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. Penularan penyakit melalui sekresi yang keluar dari lubang hidung.

Pencegahan dilakukan dengan mencegah kontak langsung antara hewan rentan dengan hewan pembawa. Pemutusan rantai penyebaran penyakit dapat dilakukan dengan menghilangkan antigen yang ada di dalam hospes. Vaksinasi tidak memberikan manfaat yang baik bagi hewan yang terinfeksi atau hewan terancam (Fenner, 2011).

 Ditulis oleh: Eko Agus Srihanto (Pj Laboratorium Bioteknologi Bvet Lampung)

Referensi :

Ressang, A.A. 1984. Patologi Khusus Veteriner, edisi 2; hal. 467-470

Fenner, F.J., Barthold, S.W., Bowen, R.A., Hedrick, R.P., Knowles, D.P., Lairmore,  M.D., Parrish, C.R., Saif, L.J. and Swayne, D.E. 2011. Veterinary Virology,  4th edition, Academyc Press Inc. 525 B Street, Suite 1800, San Diego, California 92101-4311 : pp. 197-198