Kategori
Penyakit Hewan

Mengenal Peran Lalat Tabanidae

Membicarakan epidemiologi suatu penyakit maka tidak akan lepas dari tiga faktor yang saling terkait yaitu hospes (host), penyebab penyakit (agent), dan lingkungan (environment). Tripanosomosis atau yang juga dikenal sebagai penyakit “SURRA” disebabkan agenparasit Trypanosoma evansi.

Penyakit ini dianggap berasal dari Afrika dan menyebar luas hampir di seluruh dunia. Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh Evans pada tahun 1880 di India, sedangkan di Indonesia pertama kali dikenal oleh Penning pada tahun 1897 pada seekor kuda di Semarang. Terutama menyerang hospes kuda, kerbau, sapi, dan unta, walaupun hewan terdomestikasi lain dan hewan liar juga dapat terserang Ditandai dengan gejala kelemahan, anemia dan ikterus, udema di bagian bawah tubuh, pengeluaran cairan mukus sampai purulen dari hidung dan mata serta gejala-gejala syaraf pada yang kronis.

Penyebaran agen penyakiy melibatkan mediator vektor antara lain serangga. Karena agen penyakit ini hanya dapat dipindahkan secara langsung (direct transmission) dan memiliki ketahanan hidup yang kecil di luar tubuh hospes, maka serangga menjadi vektor utama dalam penyebaran penyakit. Serangga sebagai vektor mekanik penyakit surra di Indonesia menyimpulkan bahwa seluruh lalat penggigit dan penghisap darah famili Tabanidae merupakan vektor yang lebih baik dibandingkan dengan nyamuk atau lalat penggigit famili Muscidae seperti Stomoxys sp.

Lalat famili Tabanidae tergolong dalam kelompok besar yang terdiri dari genus pemakan sari tumbuhan antara lain seperti Pangonia dan Scaptia serta genus pemakan darah terutama ChrysopsTabanus, dan Haematopota. Lalat famili Tabanidae termasuk dalam ordo Diptera telah dikenal sebagai vektor yang potensial bagi agen penyakit surra. Di dunia telah dilaporkan terdapat sekitar 4,300 spesies lalat. Sedangkan di Indonesia pernah dilaporkan terdapat 28 spesies dari genus Tabanus, 3 spesies dari genus Chrysops, dan 5 dari genus Haematopota yang bertindak sebagai vektor penyakit surra. Ketiga genus tersebut, hanya lalat betina yang makan darah secara berulang dalam  hidupnya.

Seperti lalat lainnya, siklus hidup dari telur menjadi dewasa melalui proses metamorphosis sempurna, dengan melalui tahap perkembangan larva dan pupa sebelum menjadi dewasa.

Lalat-lalat famili Tabanidae bersifat sebagai vektor mekanik yang hanya berfungsi memindahkan agen penyakit (T. evansi) dari satu hewan ke hewan yang lain tanpa adanya perubahan sifat dan bentuk agen dalam tubuh lalat. Penularan dilakukan secara inokulasi memasukan agen penyakit ke dalam tubuh hewan melalui proses penggigitan pada waktu menghisap darah.

Namun terdapat beberapa hal yang menentukan keberhasilan vektor dalam menularkan agen penyakit surra kepada hospesnya, antara lain:

 

Faktor lingkungan
Perbedaan faktor lingkungan menyebabkan adanya perbedaan dalam penyebaran agen penyakit di alam. Pada temperatur, kelembaban dan ketinggian yang berbeda menunjukan perbedaan sangat nyata antara insidensi lalat pengisap darah jenis Stomoxys spTabanus spFucelia sp dan Ochthiphila sp akibat perbedaan jumlah dan jenis lalat pengisap darah dilingkungan. Kenaikan kelembaban dan penurunan temperatur berpengaruh terhadap kenaikan populasi vektor dan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan lain seperti pola beternak, macam tanah, vegetasi, dan genangan air. Selain itu penyakit juga dipengaruhi musim atau bersifat seasonal dan insidensi lebih tinggi selama musim hujan dan setelah musim hujan akibat jumlah lalat Tabanus yang berlebihan. 

Faktor biologis agen penyakit (T. evansi)
–          Terbatasnya daya hidup agen penyakit.

Keterbatasan daya hidup agen penyakit di dalam tubuh vektornya sangat menentukan keberhasilan penyebaran penyakit surra. Dilaporkan bahwa peluang transmisi itu sebesar 0.5 dalam interval waktu 15 menit, dan akan menurun menjadi 0.04; 0.003; 0.001 dan 0.0003 dalam interval waktu masing-masing 1, 3, 6, dan 24 jam. Selain itu juga dibuktikan bahwa tidak ditemukannya agen penyakit dalam saluran pencernaan dan kelenjar ludah lalat Tabanidae setelah 24 jam, lalat tidak dapat menginfeksi hewan lain. Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa di dalam sampel darah yang diberi antikoagulan Heparin, T.evansi masih dapat hidup lebih dari 24 jam pada suhu 4  ?C. Sehingga lalat butuh waktu relatif singkat untuk berpindah dari satu hewan ke hewan lain guna menyebarkan agen penyakit. Dengan demikian maka salah satu cara pencegahannya adalah dengan memutus sikus penularan agen penyakit dengan memutus proses berpindahnya lalat dari satu hewan ke hewan lain untuk menghisap darah.

–          Jumlah agen penyakit dalam darah hospes.

Efisiensi transmisi secara signifikan dipengaruhi oleh jumlah agen parasit dalam darah hospes yang terinfeksi (parasitaemia). Transmisi antar hospes akan berhasil apabila setidaknya 1 agen penyakit dalam 6 nL darah.

 

Faktor biologis vektor

  1. –          Merupakan vektor mekanik.Dalam epidemiologi penyakit surra, peran vektor lalat Tabanidae merupakan vektor mekanik bagi agen penyakit (T. evansi), yang berarti tidak terjadi pertambahan jumlah agen penyakit di dalam tubuh lalat karena kurangnya maxicircle DNA yang dibutuhkan dalam perkembangan vektor.

    –          Perilaku makan yang cenderung hanya pada satu lokasi.

    Melalui beberapa pengamatan terhadap mobilitas lalat sewaktu mencari darah diketahui bahwa lalat cenderung makan darah hanya pada satu lokasi sehingga jarang atau mungkin tidak ada lalat yang akan menempuh jarak yang cukup jauh untuk memperoleh darah.

    –          Jarak waktu yang panjang antar makan darah

    Hasil penelitian menunjukkan vektor lalat  memilki perilaku makan darah jika akan bertelur dengan jumlah darah tertentu untuk sekali prosesbertelur, dan itu dilakukan setiap 4-5 hari. Tanpa adanya gangguan sewaktu proses makan, maka perilaku makan lalat ini tidak menunjang terjadinya transmisi agen penyakit karena jangka waktu yang panjang sampai lalat kembali makan darah sehingga memperkecil peluang transmisi akibat keterbatasan daya tahan hidup agen penyakit di dalam tubuh lalat.

    –          Tingkat populasinya dalam periode waktu tertentu.

    Peran lalat sebagai vektor penyakit surra juga dibatasi oleh tingkat populasi dalam periode waktu tertentu. Dilaporkan bahwa melimpahnya populasi lalat disuatu tempat tidak berhubungan dengan tempat diperolehnya darah tetapi dengan habitat larvanya.

    –          Waktu yang panjang dalam satu generasi.

    Sedangkan tingkat populasi dalam periode waktu tertentu ditentukan oleh waktu yang diperlukan dalam satu siklus hidup lalat ini. Periode larva lalat Tabanidae membutuhkan waktu yang panjang dalam melengkapi siklus hidupnya. T. taeniola melengkapi siklus hidupnya 1-11 minggu pada suhu konstan 32-35 0C, bahkan dapat mencapai 42 minggu dalam suhu 22 0C dengan perpanjangan waktu stadium prepupal. Waktu yang mencolok diperlukan oleh T. calens yang melengkapi siklus hidupnya dalam 2-3 tahun. Sementara pemeliharaan T. nigrovittatus dalam laboratorium membutuhkan waktu 78-155 hari dari telur hingga menjadi lalat dewasa. Waktu yang dibutuhkan dalam satu siklus hidup lalat Tabanidae menunjukkan bahwa pelipat gandaan jumlah lalat ini dari seekor betina Tabanidae memakan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan jenis seranga lain yang dapat berperan sebagai vektor mekanikagen penyakit surra seperti Haematobia irritans exiqua dan Stomoxys sp. yang melengkapi siklus hidupnya dari 3-5 minggu.

    –          Daya reproduksi dan mortalitas larva maupun lalat dewasa.

    Faktor lain yang mempengaruhi tingkat populasi lalat ini adalah daya reproduksi dan mortalitas larva maupun dewasanya. Dilapangan, lalat dewasa dapat hidup selama 3-4 minggu dan menghasilkan 5-6 kelompok telur, yang terdiri dari 200-1000 telur dalam satu kelompok. Akan tetapi daya reproduksinya yang tinggi ini tidak ditunjang oleh daya hidup larva maupun dewasanya. Dilaporkan bahwa mortalitas larva T. nigrovittatus mencapa 70.3-94.5%. Sedangkan tingkat kelestarian harian populasi lalat dewasa T. iyoensis sebesar 73% yang akan menurun menjadi 11% setelah seminggu dan 13% setelah 3 minggu.

     

    Dari berbagai keterangan di atas dapat dikatakan bahwa secara epidemiologis peran lalat Tabanidae sebagai vektor mekanik hanya berarti pada sekelompok hewan di suatu lokasi yang tebatas saja , tidak berarti banyak dalam penyebaran penyakit surra pada areal yang luas. Walaupun jangkauan terbang lalat ini dapat diperluas oleh tiupan angin, transmisi penyakit masih dibatasi oleh daya hidup agen penyakit di dalam tubuh lalat karena tidak terjadi pertambahan jumlah agen penyakit di dalam tubuh lalat ini. Dengan demikian tampaknya penyebaran penyakit antar daerah lebih banyak disebabkan oleh perpindahan hewan yang dilakukan oleh manusia. Selain itu beberapa tindakan manusia yang tanpa sengaja membuat tempat-tempat perindukan lalat ini seperti bendungan atau rawa-rawa yang kesemuanya itu menjadi pertimbangan dalam usaha-usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit surra.

sumber: Direktorat Kesehatan Hewan