Mengukur Peran Peternakan Terhadap Kejadian Tuberkulosis pada Manusia

Drh. Joko Susilo, M.Sc.

Tuberkulosis merupakan penyakit yang masih menjadi permasalahan di beberapa Negara termasuk Indonesia. Selama ini Mycobacterium tuberkulosis dianggap sebagai agen penyebab primer tuberkulosis pada manusia. Menurut World Health Organization (WHO), pada 2015, kasus TB menyebabkan kematian 1.8 juta orang di seluruh dunia, dengan proporsi TB manusia sebagai puncak penyebab kematian. Organisasi WHO memperkirakan kejadian zoonosis tuberkulosis salah satunya disebabkan karena konsumsi produk hewan (foodborne disease): sapi (Mycobacterium bovis),unggas (Mycobacterium avium), dan Mycobacterium pada ikan (World Health Organization, 2015). Dalam buku Bovine Tuberkulosis yang diterbitkan oleh CABI (2018), faktor risiko lainya meliputi populasi manusia yang melakukan kontak fisik dengan hewan terinfeksi dan mengkonsumsi produk hewan (susu nonpasteurisasi dan produk hewan mentah).

Mycobacterium bovis pada sapi

Sebanyak 12% kasus TB terjadi ko-infeksi dengan HIV. Estimasi jumlah kasus baru TB manusia di dunia pada 2015 mencapai 10.4 juta. Insidensi TB dari satu negara dengan lainya; Asia Tenggara dan Pasifik barat sebesar 58% dari seluruh kasus TB. Africa sebesar 28% kejadian kasus TB (WHO, 2016). Fakta menunjukkan 25% kasus TB pada anak disebabkan oleh M. bovis. Di  Amerika, pada 1947 lebih dari 2000 orang meninggal karena TB yang disebabkan M. bovis dan sekitar 30% infeksi TB baru pada anak dibawah umur 5 tahun juga disebabkan oleh M. bovis.

Pada 2017, kejadian TB secara aktual belum diketahui, sehingga dampak sosial yang ditimbulkan oleh TB sangat minim diketahui. Hal ini juga disebabkan karena kurangnya surveillans tersistematik terhadap M. bovis sebagai penyebab TB pada manusia dengan pendapatan rendah. Kejadian TB pada sapi di beberapa negara dilaporkan endemik. Uji yang umumnya digunakan untuk mendiagnosa TB pada manusia di beberapa belahan bumi, yaitu dengan ulas sputum / smear dengan pengamatan  microskop atau GeneXpert, namun tidak dapat membedakan antara M. bovis dengan Mycobacterium tuberculosis.

Infeksi M. bovis pada manusia dapat terjadi secaraoral dan melalui inhalasi dengan menghirup partikel yang mengandung M. bovis dari hewan terinfeksi jarang terjadi karena kontak antar. Mengkonsumsi susu yang terkontaminasi atau produk dari sapi perah lainya. Di Brazil, konsumsi produk susu atau olahan susu meningkatkan kejadian terpaparnya manusia oleh mycobacteria. Kebanyakan lesi tuberkel ditemukan pada sapi yang dipotong di bagian nodus lympatikus sekitar kepala, thorax dan jarang pada abdomen. Organ lainya meliputi paru, hati, limfa, ginjal dan ambing dan nodus limfatikus sekelilingnya dan pleura serta peritoneum. Di New Zealand, dilaporkan bahwa tidak ada kejadian infeksi M. bovis pada manusia disebabkan karena konsumsi daging. Konsumsi daging dianggap memiliki risiko penularan M. bovis yang lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi produk dari sapi perah. Tetapi di Ethiopia, sekitar 99% daging yang dikonsumsi dari sapi berasal dari area endemik TB disajikan dalam kondisi sudah masak dan setengah masak.

Penularan M. bovis dari sapi ke manusia beresiko pada profesi yang berhubungan langsung dengan hospes terinfeksi M. bovis  seperti peternak, pastoralis, dokter hewan, penjaga kebun binatang, jagal, petugas pemeriksa daging di rumah potong hewan, dan pekerjaan lain yang sering terjadi kontak dengan hewan atau produk hewan. Walaupun dianggap sebagai rute penularan yang tidak wajar namun penularan M. bovis dari manusia ke manusia pernah dilaporkan.

Di Australia Mycobacterium bovis sebesar 0.2% dari kasus kasus TB pada 2010, dan infeksi M. bovis berhubungan dengan pekerjaan industri peternakan dan immigrasi dari negara yang endemik TB pada sapi. Di USA, antara 1995 – 2005, sebagian besar orang pasien M. bovis lahir diluar USA dan menimbulkan zoonosis TB lintas negara. Selain itu, konsumsi keju segar dari susu non pasteurisasi di Mexico dianggap sebagai sumber penularan M. bovis yang potensial di USA. Mexico merupakan negara dengan kasus TB pada sapi dengan prevalensi tinggi sebesar 26.2% dari seluruh pasien TB (n = 1165). Tuberkulosis dapat diisolasidari pasien terinfeksi HIV sebesar 19.2% pada penelitian di lokasi yang sama.

Tuberkulosis pada unggas

Tuberkulosis pada unggas dalam beberapa buku penyakit unggas, salah satunya Disease of Poultry edisi ke 13 (2013) oleh David E. Swayne sebagai ketua tim editor. Penyakit ini dikenal dengan nama avian mycobacteriosis, avian Tuberkulosis, avian TB, Tuberkulosis, merupakan penyakit menular disebabkan Mycobacterium avium  dengan infeksi kronis. Flok terinfeksi akan selalu terdedah bakteri ini, memicu sakit, penurunan produksi telur dan berujung pada kematian. Di Amerika, tuberkulosis jarang ditemukan pada unggas komersial, namun masih ditemukan secara sporadik pada ayam backyard dan merpati, serta burung eksotik.

Kasus tuberkulosis unggas yang menular ke manusia pertama kali dilaporkan di Amerika pada 1930. Infeksi M. avium pada umumnya ditemukan pada penderita acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Di Amerika, M. avium serovars 1, 4, dan 8 diisolasi kebanyakan dari pasien AIDS, dan serovar 4, 8, 9, 16, dan 19 kebanyakan diisolasi dari pasien non-AIDS. Mycobacterium avium serovar 1 umumnya diisolasi dari burung liar dan pasien AIDS. Berdasarkan pengujian dengan pulsedfield gel electrophoresis (PFGE), isolate M. avium dari manusia dan hewan memiliki banyak kesamaan, namun isolat pada manusia lebih dekat persamaannya dengan isolat dari babi dibandigkan dengan babi. Mycobacterium avium serovar 2, merupakan organisme kebanyakan diisolasi dari ayam, dan jarang diisolasi dari manusia. Pada umumnya infeksi M. avium pada manusia banyak terjadi akibat kontak manusia-manusia atau manusia dengan lingkungan dibandingkan dengan kontak manusia dengan unggas.

Mycobacterium avium merupakan nama untuk kelompok mycobacterial berdasarkan taksonomi, terdiri dari empat subtype:

M. avium subsp. avium terdiri dari 3 serotype (1, 2 dan 3) dan beberapa genotype: subtype sangat virulen untuk unggas dan beberapa mamalia.

M. avium subsp. hominissuis terdiri sari serotype 4–6, 8–11 dan 21, dan beberapa genotypes,

dan pada umumnya ditemukan pada lingkungan external, debu, air, tanah, dan invertebrata tetapi beberapa virulen pada unggas

M. avium subsp. paraTuberkulosis terdiri dari beberapa genotype, menginfeksi ruminansia, dan mamalia lainya

M. avium subsp. silvaticum jarang dapat diisolasi dandapat bersifat virulen untuk unggas.

Mycobacteria ini dapat dideteksi dengan pengecatan tahan asam. Dibandingkan dengan Mycobacterium lain, M. avium relatif resisten terhadap antimikrobial dan relatif resisten terhadap beberapa disinfektan tetapi sensitif terhadap  ionik deterjen. Jika berada di luar tubuh dapat bertahan selama beberapa tahun,  namun mudah mati dengan sinar matahari, dan pada karkas akan bertahan selama beberapa minggu. Predileksi penyakit akan berada di beberapa organ yaitu hati, limfa, usus, dan sumsum tulang. Dimungkinkan semua spesies burung dapat terinfeksi namun kerentanannya berbeda beda antara spesies domestik seperti: ayam, itik, angsa dan unggas kurang rentan adalah burung onta yang tidak umum terinfeksi TB. Penyakit ini lebih sering terjadi pada unggas dengan umur lebih tua karena inkubasi penyakit lama.

Penularan infeksi sumber yang paling penting adalah organisme (hospes) terinfeksi, termasuk unggas domestik, merpati balap dan burung kesayangan atau burung liar. Hal yang lebih penting lagi, karena infeksi M. avium berjalan lama maka jika ada di luar tubuh hospes, beberapa benda atau alat yang terkena tetesan lendir dari burung. Benda atau tempat tersebut meliputi alas, kandang terkontaminasi dan rumput rumputan, peralatan dan hospes terinfeksi, tangan, kaki dan pakaian pemilik unggas. Tempat pemrosesan karkas babi dan unggas yang terdapat tuberkel juga dapat menjadi sumber infeksi. Telur memilki potensi penularan tuberculosis unggas yang tergolong rendah. Lesi tuberkel juga dapat ditemukan di saluran reproduksi (ovarium dan oviduk indukan  dan testis ayam jantan) dan namun jarang ditemukan pada telur. Banyak literatur menyebutkan bahwa tidak ada resiko penularan secara vertical dari induk ke anak melalui telur.

Secara detail Quinn P.J. dkk (2012) dalam Veterinary Microbiology and Microbial Disease, edisi ke 2) menjelaskan beberapa spesies Mycobacterium, hospes utama, spesies yang bisa terinfeksi serta nama penyakitnya.

Penyakit zoonosis ini harus menjadi kepedulian bersama antar Kementrian Kesehatan, Kementrian Pertanian (Ditjen PKH), Kementrian Kelautan dan Kemaritiman, dan Kementrian Kehutanan (berkaitan dengan konservasi dan kebun binatang).  Surveilans kesehatan hewan terstruktur bertujuan untuk mendeteksi kasus Tuberkulosis pada ternak sapi, unggas, kambing, domba, sapi, babi dan lainya, dan selanjutnya mengetahui prevalensi kasus. Hal ini mengingat profesi profesi yang melakukan kontak langsung dengan ternak sangat berpotensi tertular  Tuberkulosis dari ternak. Surveilans terstruktur juga terhadap produk asal hewan dan produk pangan asal hewan seperti susu, daging, jeroan, produk olahan susu. Rumah potong hewan dan rumah potong unggas menjadi salah satu potret keberadaan penyakit hewan termasuk tuberculosis. Pendidikan dan pembinaan kepada para petugas pemeriksa daging dan jeroan hewan sangat penting dilakukan untuk mengetahui gambaran makroskopis menciri  daging, karkas dan jeroan yang terinfeksi tuberkulosis. Ternyata…semakin kita membuka mata, semakin banyak tugas dan tanggung jawab yang belum terlaksanakan.

[]

BERITA TERKINI