Kategori
Artikel

Neospora Caninum Penyebab Keguguran Pada Sapi

    Neospora

Mekanisme kebuntingan

            Kebuntingan merupakan harapan bagi peternak untuk mendapatkan anak, mendapatkan susu ataupun mendapatkan peningkatan produksi susu pada fase laktasi > 1. Diawali dengan inseminasi buatan, pembuahan dan persiapan penempelan embrio pada uterus membutuhkan mekanisme hormonal yang komlpek. Lepasnya sel telur ( ovulasi ) setelah masa estrus akan dilanjutkan oleh pembentukan corpus hemoragicum, kemudian terbentuk badan kuning ( corpus luteum ) sebagai penghasil hormon progesteron yang membantu proses penempelan embrio. Pada fase selanjutnya, hormon progesteron akan dihasilkan oleh plasenta untuk mempertahankan kebuntingan sampai pada saatnya kelahiran ( 280 hari ). Pada fase fase tersebut, rahim membutuhkan kondisi tenang tanpa adanya goncangan / tekanan sedikitpun. Goncangan, tekanan ataupun rabaan yang terlalu keras pada rahim akan menyebabkan munculnya hormon prostaglandin yang akan melisiskan badan kuning, lisisnya badan kuning menyebabkan gangguan produksi hormon progesteron dan tidak ada lagi yang mampu mempertahankan janin di dalam rahim.

Penyebab abortus

Secara umum kejadian abortus berdasarkan penyebabnya dibagi dua yaitu abortus yang diakibatkan oleh faktor infeksius dan non infeksius. Faktor non infeksius yang dapat mengakibatkan abortus diantaranya defisiensi vitamin A, D dan E, selenium, traumatik, benturan, munculnya hormon prostaglandin dari endometrial cup, atau injeksi prostaglandin.  Selain itu, stres panas juga dapat menyebabkan hipotensi, hipoksia dan asidosis fetus. Temperatur induk yang tinggi pada kondisi demam bisa mempengaruhi kondisi fetus. Beberapa toksin yang dapat mengakibatkan abortus diantaranya adalah mikotoksin yang bersifat estrogenik.

Abortus yang bersifat infeksius dapat dibedakan berdasarkan agen penyebabnya, pada sapi yaitu:

Tabel 1. Kejadian abortus karena infeksius berdasarkan waktu kejadian

 Neospora2

Hampir semua abortus karena jamur pada sapi disebabkan oleh dua kelompok jamur. Sekitar 60 sampai 80 persen disebabkan oleh Aspergillus spp dan kebanyakan adalah Aspergillus fumigatus. Jenis Mucorales bertanggung jawab atas keguguran mikotik selebihnya. Kejadian abortus mikotik bervariasi dari 0,5 sampai 16 persen dari semua abortus pada sapi Aspergillus terdapat dimana-mana dan umumnya bersifat saprofit. Jamur memasuki tubuh hewan melalui pernapasan dan makanan. Spora jamur kemudian dibawa ke plasenta melalui aliran darah. Hasil penularan ini secara gradual menyebabkan plasentitis, hambatan pemberian makanan pada saluran fetus, kematian fetus dan abortus dalam waktu beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian. Kebanyakan abortus terjadi pada bulan kelima sampai ketujuh masa kebuntingan, tetapi dapat berlangsung dari bulan keempat sampai waktu partus. Fetus umumnya dikeluarkan dalam keadaan mati, tetapi pada beberapa kasus terjadi kelahiran prematur atau fetus lahir pada waktunya dalam keadaan hidup tapi lemah dan mati segera sesudah lahir.

Neosporosis dinyatakan sebagai penyebab abortus pada sapi-sapi perah

Neospora caninum adalah parasit golongan protozoa yang sangat mirip dengan Toxoplasma gondii. Neospora telah ditemukan di seluruh belahan dunia, sering merupakan penyebab  kasus keguguran pada ternak sapi dan  Anjing secara experimental dibuktikan sebagai hospes definitif.  Alur penularan dimulai dari  feses anjing yang mengandung oosit tersporulasi terdapat pada pakan, termakan sapi yang sedang bunting, menyebabkan keguguran, mumifikasi atau cacat lahir dan alur penularan  ini disebut penularan secara eksogenous. Penularan secara endogenous ( vertikal ) terjadi kelahiran yang sehat tetapi secara persisten terinfeksi Neospora caninum. Abortus akan terjadi  berulang pada kebuntingan berikutnya dan menurun terus ke generasi berikutnya. Hewan yang menjadi hospes antara alami adalah sapi, kerbau dan rusa. Jadi, sudah bukan jamannya lagi memelihara anjing untuk penjaga ternak seperti yang kebanyakan peternak sapi di daerah pegunungan.

Neospora3

Pernyataan ini juga disampaikan oleh drh. Budi Santosa dari Balai Veteriner Bukit Tinggi yang melakukan surveilans aktif untuk melihat sero positif terhadap Neospora caninum pada sapi potong, sapi perah dan kerbau. Surveilans dilakukan di wilayah regional II meliputi Prov. Sumbar, Riau dan Jambi dengan mengambil sample darah sapi dan kerbau yang mempunyai riwayat abortus. Berdasarkan informasi yang disampaikan seroprevalensi di beberapa negara Jerman  49%, Belanda 76%, Spanyol 63%, Swedia 13% , Thailand dan Vietnam 5,5%, Malaysia 9%. Faktor risiko potensial terhadap neosporosis pada sapi ( parameter seropositif ) meliputi: Jumlah sapi pada peternakan, proporsi external replacements, kepadatan anjing, keberadaan anjing pada peternakan, suhu rata-rata di bulan juli.

Tabel 2. Hasil Pengujian sampel berdasar jenis ternak

 Neospora4

Abortus dapat menyebabkan kerusakan selaput fetus, endometrium, retensio plasenta dan ketidaksuburan sesudah abortus. Secara ekonomi, abortus merupakan satu masalah besar bagi peternak karena kehilangan fetus dan dapat juga diikuti dengan penyakit pada rahim serta ketidaksuburan untuk waktu yang lama. Apabila abortus disebabkan oleh faktor infeksius, maka hal dapat mengancam kesehatan semua sapi betina di dalam kelompoknya.

Neospora5

Penulis adalah Drh Joko Susilo (Medik Veteriner Balai Veteriner Lampung)

artikel dimuat di Majalah Infovet edisi September 2013