Kategori
Penyakit Hewan

Penyakit Brucellosis

Brucella adalah agen penyebab brucellosis, suatu zoonosis yang secara global sangat penting, disebut juga dengan Demam Malta, Demam Mediterania (B. militensis) atau Bang’s disease (B. abortus) yang menyerang baik manusia atau hewan.

Brucellosis adalah penyakit hewan menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan secara sekunder menyerang berbagai jenis hewan lain termasuk manusia. Disebabkan oleh bakteri Brucella abortus. Penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar berupa keguguran (abortus) dan kekerdilan anak yang lahir serta kemajiran. Selain itu penyakit ini bersifat zoonosa (menular ke manusia). Oleh karena menyebabkan keguguran maka penyakit ini disebut juga Penyakit Keluron Menular.Ternak yang terserang terutama sapi, domba, kambing dan babi. Sejumlah spesies satwa liar seperti bison, rusa, rusa kutub, kerbau juga dapat terserang.

Infeksi menetap jangka panjang adalah umum terjadi dan penyebarannya melalui sekresi saluran reproduksi dan sekresi kelenjar susu. Karena berdampak secara ekonomi dan beresiko terhadap populasi manusia, hampir setiap negara memiliki Program Kontrol Brucellosis. Program ini biasanya meliputi kegiatan vaksinasi pada hewan muda atau dewasa,  program pemotongan terhadap hewan terinfeksi/terpapar, berdasarkan reaksi terhadap uji serologis konvensional. Tidak ada satupun dari uji ini yang dapat membedakan antara hewan yang divaksinasi dengan yang terinfeksi, sehingga sejumlah hewan yang divaksinasi juga terpotong. Diagnosa definitif brucellosis dapat dilakukan dengan kultur terhadap organisme penyebabnya.  Bagaimanapun juga, hal ini membutuhkan waktu dan suatu prosedur yang mahal. Surveillans seroepidemiologik dilakukan dengan uji RBT, dan yang positif dilanjutkan uji CFT. Ternak yang positif uji CFT harus di potong/Slaughter.

Secara serologik keberadaan Brucellosis telah diketahui di Regional III sejak tahun 1981. Berdasarkan data monitoring terhadap Brucellosis pada tahun 2001 angka prevalensi Brucellosis sebesar 0,1%, pada tahun 2002 angka prevalensi Brucellosis 0% (Proboraras, 2002) dan pada tahun 2003 angka prevalensi Brucellosis 0% (0 dari 1.432 ekor) (Saswiyanti, 2003), pada tahun 2004 0% (0 dari 839 ekor), pada tahun 2005  0%   (0 dari 2.346 ekor), pada tahun 2006 juga 0% (0 dari 11.191 ekor) (BPPV, 2007). Pada tahun 2008 0% (0 dari 6.913 ekor) (BPPV, 2008) dan tahun  2009 angka prevalensinya  0,03% (1 dari 3.001 ekor) untuk sampel yang berasal dari pelayanan aktif dan 0,09%  (3 dari 3480 ekor) untuk sampel yang berasal dari customer (BPPV, 2009), pada tahun 2010 angka prevalensinya 0,3% (12 dari 4.000 ekor) (BPPV, 2010), dan pada tahun 2011 angka prevalensi 0% (0 dari 3.300 ekor) (BPPV, 2011). Monitoring dilaksanakan dengan pengamatan hewan, profil reproduksi seperti angka keguguran dan sero survei dengan uji RBPT (Rose Bengal Plate Test) yang dilanjutkan dengan uji CFT (Complement Fixation Test).

Suatu daerah/wilayah dapat dinyatakan bebas oleh pejabat yang berwenang berdasarkan dari rekomendasi BPPV dan komisi Teknis (Tim Ahli) setelah melaksanakan hal – hal berikut :

  1. Prosedur baku sudah dijalankan ;
  2. Populasi ternak setiap desa telah diuji ;
  3. Tidak ada desa yang digolongkan sebagai desa tertular ;
  4. Vaksinasi tidak dilakukan paling kurang 3 tahun sebelum pernyataan bebas dikeluarkan, kecuali mendapat persetujuan ;
  5. Populasi ternak harus mempunyai uji serologis negatif secara keseluruhan paling kurang 3 (tiga) tahun berturut – turut dan bebas dari kuman ;
  6. Pemasukan ternak ke daerah bebas harus berasal dari daerah bebas ;
  7. Monitoring terus dilakukan setelah pernyataan bebas dikeluarkan atau sepanjang dipandang perlu oleh pejabat yang berwenang. (Anonimous, 1998).

 Syarat–syarat yang tercantum dalam pedoman Surveilans Brucellosis untuk menyatakan status daerah bebas tersebut hampir dimiliki semua oleh wilayah di Regional III.

Program pembebasan Brucellosis di Regional III telah dilaksanakan secara bertahap dimulai dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011.  Pada tahun 2011 target Bebas Brucellosis untuk Regional III tercapai.  Tahapan– tahapan yang sudah dilaksanakan, yaitu :

 Tahun 2007 :   Survei pendahuluan pembebasan Brucellosis ;

 Tahun 2008 :   Pembuatan desain surveilans ;

 Tahun 2009: Sosialisasi Pembebasan Brucellosis dan analisa data yang ada  dan melanjutkan pembebasan Brucellosis di Provinsi  Kepulauan Bangka Belitung dan Provinsi Lampung ;

 Tahun 2010 :  Evaluasi Pembebasan Brucellosis dan melanjutkan  pembebasan Brucellosis di Provinsi Lampung, Sumatera   Selatan dan Bengkulu.

Tahun 2011 : Evaluasi Pembebasan Brucellosis dan melanjutkan  pembebasan Brucellosis di Provinsi Lampung, Bangka   Belitung, Sumatera Selatan dan Bengkulu.

Tahun 2012 : Monitoring terhadap wilayah bebas Brucellosis di Propinsi Lampung, Bangka Belitung, Sumatera Selatan dan Bengkulu.