Penyakit Eksotik

1. Penyakit Mulut dan Kuku

MERUPAKAN PENYAKIT EKSOTIK Disebabkan oleh virus, penularan melalui kontak dan angin. Menyerang semua hewan berkuku belah (sapi, kerbau, kambing, domba, babi, rusa dll). Penularan dari satu hewan ke hewan lain sangat cepat.

Gejala klinis: demam, depresi, lemah, produksi susu terhenti. Terjadi lepuh pada lidah, gusi, bibir, antara teracak, batas kuku, putting susu. Salivasi meningkat dan pincang. Dapat mengakibatkan kematian pada hewan muda.

Patologi: Selain lepuh yang telah disebut, dijumpai juga luka-luka pada rumen. Focal necrosis pada jantung anak sapi.

Diagnosa banding: Swine Vesicular Disease, Vesicular Exanthema, Vesicular Stomatitis, Bovine Papular Stomatitis, Mucosal Disease, IBR, Rinderpest, Bluetongue, PPR, Footrot, Phototoxic Dermatitis dll. Keterangan lengkap mengenai penyakit ini dapat dilihat pada buku-buku mengenai penyakit hewan.

2. Rinderpest

MERUPAKAN PENYAKIT EKSOTIK Terdapat di Afrika, Asia Selatan dan Asia Timur. Disebabkan oleh virus, penularan melalui kontak dan angin. Menyerang sapi dan kerbau. Di Asia Tenggara dapat menulari babi. Kambing dan domba dapat menderita secara subklinis. Penularan melalui kontak dengan hewan sakit atau karkas hewan sakit.

Gejala klinis: demam biphasic, depresi, gelisah, lemah, produksi susu terhenti. Terjadi nekrosis, erosi dan ulcerasi pada lidah, gusi bibir. Mucopurulent conjungtivitis, nafas busuk. Diarrhea busuk berdarah. Angka kematian sangat tinggi.

Patologi: Karkas dehidrasi dan busuk, erosi dan ulcerasi saluran pencernaan, nekrosis pada Peyer’s patches. Turbinatus erosi, ulcerasi dan tertutup eksudat mukopurulen.

Diagnosa banding: Mucosal Disease, MCF, IBR, FMD/PMK, Jembrana Disease, Coccidiosis, Helminthiasis, Keracunan arsen. Keterangan lengkap mengenai penyakit ini dapat dilihat pada buku-buku mengenai penyakit hewan.

3. African Swine Fever

MERUPAKAN PENYAKIT EKSOTIK Penyakit babi, disebabkan oleh virus, penularan melalui kontak langsung atau tidak langsung. Terutama terdapat di Afrika. Pernah dilaporkan terjadi di Eropa, Amerika Latin dan Karibia.

Gejala klinis: mati mendadak, demam, lemah, malas, hilang apetite, cyanosis kulit, diarrhea, abortus. Bentuk kronis mengakibatkan kurus, demam berseling, pneumonia, ulcerasi kulit.

Patologi: perdarahan organ tubuh, limpa membesar dan rapuh, perdarahan lymph nodes. Sulit dibedakan dengan Classical Swine Fever (Hog Cholera).

Diagnosa banding: Hog Cholera, Salmonellosis, Pasteurellosis, Aujeszky?s Disease, keracunan warfarin dan logam berat. Keterangan lengkap mengenai penyakit ini dapat dilihat pada buku-buku mengenai penyakit hewan.

4. Penyakit Nipah

Merupakan penyakit eksotik yang sering disebut juga Porcine Respiratiry and Neurological Syndrome, Porcine Respiratory and Encephalitis Syndrome (PRES) atau Barking Pig Syndrome (BPS). Disebabkan oleh virus Nipah, merupakan salah satu penyakit hewan yang menyebabkan radang otak yang mematikan dan bersifat zoonosis. Virus diketahui dapat menginfeksi ternak babi, kuda, kucing, anjing, kelelawar (fruit bat; genus Pteropus, kambing, burung dan tikus. Babi merupakan sumber penularan infeksi Nipah.

Gejala klinis: tidak semua babi menunjukkan gejala klinis, yang dapat berbentuk ensefalitis dan bentuk pernafasan. Gejala yang sering tampak antara lain demam tinggi mencapai 40 C yang disertai gangguan pernafasan seperti batuk, sesak nafas, ingusan yang dapat disertai dengan darah. Gangguan syaraf seperti tremor, inkoordinasi, kejang-kejang.

Patologi: pada babi lesi yang paling parah ditemukan pada paru-paru. Terdapat pembendungan hebat dan menyebabkan penebalan dinding kapiler septa interalveolar yang berisi sel mononuklear. Kadang alveol mengalami hiperaemi dan terisi oleh darah. Trombosis terdapat pada beberapa pembuluh darah yang lebih besar. Pada otak terlihat adanya sel sinsisial, trombosis, vaskulitis, perivasculer cuffing, degenerasi dan nekrosis.

Diagnosa banding: sering dikelirukan dengan penyakit lain dengan gejala klinis ensephalitis seperti Japanese-B-encephalitis (JE), Aujesky’s disease (Pseudo rabies), Equine encephalitis, Rabies, Hendra, Lyssa virus (Rabies like virus).

5. Penyakit Hendra

Merupakan penyakit eksotik pada kuda yang dapat menyebabkan kematian, dan dapat menyerang manusia (zoonosis). Induk semang virus adalah kelelawar.

Gejala klinis: pada kuda sangat cepat terjadi, umumnya kuda sekarat sekitar 36 jam dari gejala klinis. Kuda mengalami demam tinggi, mencapai lebih dari 40C, respirasi cepat, denyut jantung cepat, ataxia, kepala dibentur-benturkan dan ingusan.

Patologi: paru-paru mengalami kelainan pembendungan, mengeras, terdapat benang fibrin pada pleura, jalan udara berisi eksudat darah yang disertai busa kadang-kadang kental dan ada cairan serous pada kantung pericardium.

Diagnosa banding: sering dikelirukan dengan penyakit lain dengan gejala klinis
ensephalitis seperti Japanese-B-encephalitis (JE), Aujesky’s disease
(Pseudo rabies), Equine encephalitis, Rabies, Hendra, Lyssa virus
(Rabies like virus).

6. Sapi Gila

Etiologi:
Penyakit ini disebabkan oleh sejenis protein yang disebut Prion (proteinaceous infectious) dan disingkat PrP. Prion sangat tahan tahan terhadap berbagai bahan kimia yang bersifat merusak (formalin, ethanol, deterjen, H2O2, dll) dan berbagai kondisi yang ekstrim seperti suhu (sampai 132C) dan tekanan tinggi, pH rendah maupun tinggi.

Penularan:
Cara penularan terutama melalui pakan yang mengandung tepung daging dan tulang (meat bone meal/ MBM) yang berasal dari hewan penderita.
Penularan secara kontak langsung antar hewan tidak pernah dilaporkan, sedangkan penularan secara vertikal dari induk ke anak sangat kecil kemungkinannya.
Penularan dari hewan ke manusia terjadi melalui makanan (daging) dan turunannya yang berasal dari hewan (sapi) penderita BSE.

Gejala Klinis:
Sapi yang terserang BSE umumnya berumur rata-rata 5 tahun. Masa inkubasi BSE sangat bervariasi antara 2-8 tahun dengan rata-rata 5 tahun.
Gejala klinis yang paling menonjol adalah gejala syaraf. Secara umum terjadi perubahan pada status mental dan tingkah laku, abnormalitas bentuk tubuh dan pergerakan serta gangguan sensorik.
Gejala umum yang tampak antara lain nafsu makan hilang, kekurusan, produksi susu turun, ataksia (kejang-kejang), tremor, agresif dan suka menyepak, telinga tegak dan kaku, kadang hewan terjatuh. Disamping itu hewan penderita sangat sensitif terhadap suara, sinar dan sentuhan.

Diagnosis:
Diagnosis dilakukan berdasarkan gejala klinis berupa gejala syaraf, perubahan histopatologis pada otak, dan pengujian secara serologis dan biologis.

Diagnosa Banding:
Kemungkinan BSE dapat dikelirukan dengan penyakit lain yang menyerang susunan syaraf pusat seperti pada bovine encephalitis (Rabies). Keracunan logam berat seperti keracunan Pb juga menyebabkan gejala syaraf seperti pada BSE. Disamping itu terdapat beberapa penyakit metabolis yang juga menyebabkan gejala syaraf seperti nervous ketosis dan hipomagnesaemia.

sumber: http://bppvsubang.ditjennak.deptan.go.id/

BERITA TERKINI