Penyakit Yang Menyerang Sistem Syaraf Pusat Sapi

Dalam perkembangan peternakan, akhir akhir ini ada laporan kematian sapi sapi baik yang dikelola ekstensif terintegrasi dengan perkebunan sawit atau yang dikandangkan secara intensif. Sapi sapi tersebut dilaporkan mati dengan gejala syaraf, dengan kepala berputar putar, sempoyongan, dengan atau tanpa gejala kejang. Beberapa sample diperiksa dengan hasil positif Trypanosoma atau dikenal dengan penyakit Sura, dan parasit ini memang dapat menyebabkan gangguan syaraf pusat. Namun demikian ada berberapa jenis penyakit yang menyerang pada sistem syaraf pusat sapi. Penyakit penyakit tersebut disebabkan karena infeksi virus, bakteri, atau  karena defisiensi, pengolahan silase yang tidak sempurna, atau keracunan unsur non pakan. Masing masing pathogen memiliki penyebab, epidemiologis, gejala klinis, gambaran makroskopis dan mikroskopis yang terkadang berbeda dan spesifik.

Panyakit viral menyerang pada syaraf pusat sapi yang paling familiar adalah bovine viral diare. Jika infeksi terjadi pada saat  kebuntingan ( fase pembentukan organ  pedet), virus ini akan mengganggu proses organogenesis otak. Gejala klinis yang dialami pedet setelah lahir berupa gangguan syaraf dan kematian. Nekropsi  dilakukan  pada pedet yang mati akan menemukan abnormalitas pertumbuhan otak kecil ( cerebelum ). Otak kecil tidak tumbuh dengan sempurna dengan ukuran lebih kecil dari ukuran normal ( hipoplasia / atropi ).

Kiri ( otak normal ), kanan ( atropi otak kecil / cerebelum karena BVD )
Kiri ( otak normal ), kanan ( atropi otak kecil / cerebelum karena BVD )

Bovine spongiform encephalopathy ( BSE ) yang sering kita kenal sebagai penyakit sapi gila ini disebabkan oleh protein aktif yang dikenal sebagai prion. Penyakit ini bisa terjadi secara sporadik pada negara terinfeksi BSE dikarenakan konsumsi tepung tulang ( meat and blood meal ) berasal dari sapi yang mengandung prion serta terjadi pada sapi dewasa umur lebih dari 4 tahun. Gejala sapi yang mengalami penyakit ini memiliki perilaku tidak normal, bergerak tidak teratur, tidak  mampu berdiri, lemah dan kemudian mati. Pada gambaran histopathologinya; terjadi degenerasi berbentuk sponge ( terlihat banyak bolong bolong ) pada batang otak dan menciri pada bagian obex.

Beberapa tahun ini kami mendapatkan beberapa laporan kematian sapi karena gigitan anjing. Setelah kami lakukan investigasi dan pengujian laboratorium disimpulkan bahwa kematian sapi sapi tersebut disebabkan oleh rabies ditularkan oleh gigitan anjing liar, atau anjing penjaga ternak yang terinfeksi rabies. Rabies disebabkan oleh Rhabdoviridae, kejadian penyakit bersifat sporadik. Gejala sapi yang terkena rabies; biasanya hipersalivasi karena paralisa syaraf, takut pada air minum, kejang, terlentang, koma dan mati. Gambaran histopathologinya non- suppurative encephalitis ringan, ditemukan negri bodies pada  sel sel purkinje otak kecil ( cerebellar ). Mengingat program pemerintah yang sangat konsent untuk pembebasan rabies pada 2020 maka dihimbau masyarakat pemilik anjing untuk proaktif mengikuti program vaksinasi rabies. Anjing dimanfaatkan sebagai penjaga ternak dan bukan sebagai penyebab penularan penyakit ke sapi.

Penyakit tidur ( Sleeping desease ) disebut juga sebagai infectious thromboembolic meningoencephalitis  pada sapi disebabkan oleh Histophilus somni (Haemophilus somnus). Epidemiologi penyakit ini terutama terjadi pada kelompok sapi penggemukan dengan berat 350 – 500 kg, bersifat epidemic, pada negara yang memiliki 4 musim kejadiannya meningkat pada musim dingin, disertai dengan gejala pernafasan. Gejala sapi dengan penyakit ini meliputi demam mendadak, ataksia, paralisa alat gerak, rebah dorsal atau ventral, lethargy, koma dan mati. Pada nekropsi akan terjadi perdarahan hebat dan ditemukan banyak cairan cerebrospinal pada meninges dan otak besar serta terjadi pneumonia. Histopathologinya : purulent encephalitis bercampur dengan gumpalan darah ( thrombus ) pada otak besar (  cerebrum) , spinal cord , serta terjadi keradangan selaput otak ( meningitis ). Suppurative pneumonia berkombinasi dengan  multiple necrosis coagulatif terlihat seperti lebah.

Circling disease disebabkan oleh Listeria monocytogenes, penularannya bersifat sporadic atau epidemic, terjadi pada sapi yang mengkonsumsi silase daun  jagung  dalam jangka waktu lama, dan terjadi pada ahir musim spring semi. Pembuatan silase  dilakukan dengan kondisi anaerob, dan PH rendah untuk menghambat pertumbuhan yeast, mold, fungi. Hasil terakhirnya berupa nutrisi yang kaya akan sumber asam laktat, volatil fatty acid (Acetic, Propionic, Butyric, Isobutyric ). Secara prinsip ada 4 tahapan proses silase meliputi tahap respirasi, tahap awal fermentasi oleh enterobakter, fermentasi asam laktat, dan tahap stabilisasi. Proses anaerob ( tanpa udara) akan memecah gula dalam substrat untuk memproduksi asam. Mikroorganisme yang berperan dalam proses pembuatan silase berfungsi sebagai homofermentatif dan heterofermentatif. Bakteria homofermentatif akan memproduksi asam laktat contoh bakteri: Lactobacillus plantarum, Enterococcus faecium, Pediococcus acidilactici, Lactococcus lactis. Sedangkan bakteri heterofermentatif memproduksi lactic acid, acetic acid, ethanol, mannitol dan carbon dioxide contohnya Lactobacillus buchneri, Lactobacillus brevis.

Pada pembuatan silase yang kurang sempurna dengan PH > 5,4 maka akan tumbuh Listeria monocytogenes mencemari silase. Sapi yang memakan silase tercemar masuk ke dalam rongga mulut, bakteri ini akan melakukan penetrasi di mukosa mulut dan lidah, terjadi kolonisasi bakteri. Melalui reseptor syaraf tepi, axonal transport trigerminal dan nervus cranial bakteri masuk  dan berjalan menuju batang otak (Pons, medulla oblongata, spinal cord, obex ). Bakteri ini akan berkembang banyak di sel syaraf pusat dengan faktor virulensi listeriolysin O, phospolipase C, Lecthitinase, polimerasi F actin, replikasi, keluar dari sel infeksi sel lain sehingga terjadi kerusakan sel sel syaraf. Pada saat bakteri keluar dari satu sel sraraf mencari sel syaraf lain maka otak akan melawan dengan pertahanan seluler ( neutrofil ). Akumulasi neutrofil dalam memfagositosis bakteri memunculkan mikroabses. Dalam kondisi yang mencukupi, bakteri juga mampu masuk ke dalam sirkulasi darah di otak menuju ke seluruh tubuh. Gejala klinisnya ; paralysis pada satu sisi syaraf muka, salivasi, berjalan sempoyongan dan berakhir kematian. Histopathologinya : terjadi mikroabses multifocal ( infiltrasi / akumulasi neutrofil ) pada batang otak, disertai perivaskular cuffing ( infiltrasi / akumulasi sel radang di sekitar pembuluh darah otak ), lesi terjadi hanya satu sisi di sisi kanan atau kiri.

Abses otak disebabkan oleh beberapa infeksi bakteria dan menyerang pituitaria. Biasanya terjadi secara sporadik dan terjadi pada sapi dewasa, sering tanpa riwayat atau terjadi setelah infeksi yang bersifat suppuratif. Gejala klinis sapi dengan abses pada otak akan terlihat sangat aktif mencari makan dan minum,  disfagia, sapi akan mengalami paralisis pada lidah, dan tenggorokan. Pada kasus abses di daerah pituitaria, tidak akan terjadi infeksi sitemik ke organ penting lainnya. Abses hanya terjadi pada jaringan sekitar pituitaria, sementara cairan cerebrospinal terlihat  normal.

Star looked disease disebabkan karena defisiensi thiamin ( vitamin B1 ) disebut juga cerebral cortex necrosis ( kerusakan jaringan korteks otak besar ). Sering terjadi pada beberapa sapi pada saat yang sama atau terjadi secara terus menerus, rata rata terjadi pada sapi umur 4 sampai 18 bulan  dan sering bersamaan dengan perubahan pakan. Gejala klinis meliputi keapa sapi menengadah ke atas seperti posisi melihat bintang,  gejala sistem saraf pusat dari demam , opisthotonus , kebutaan , rotasi kedua bola mata , sempoyongan, koma dan mati. Pada saat nekropsi akan bagian kortek otak besar memiliki tekstur yang lebih lunak. Perubahan histopatologi meliputi : necrosa pada gray matter cerebral cortex, ischemia dan necrosa sel syaraf, infiltrasi  jaringan lemak, serta hyperplasia  pembuluh darah.  Chewing disease disebabkan oleh keracuan lead karena konsumsi lead pada pakan. Dapat terjadi pada individu atau kelompok sapi dengan konsumsi pakan yang sama. Pada saat investigasi kasus, akan ditemukan adanya lead pada pakan. Gejala klinis sapi gemetar, kebutaan , menjulurkan tubuh ke depan , berjalan tanpa tujuan, sempoyongan , sering kali dengan eksresi busa air liur, dan bruxism. Temuan makroskopis akan terlihat erosi pada lidah, sehingga sapi mengalami hipersalivasi. Perubahan histopatologi meliputi perubahan spongiform di otak bagian atas, pembengkakan endotel pembuluh darah, pembengkakan astroglial, nekrosa dan iskemik neuron. Terjadi nekrosa laminar korteks serebral dalam kasus-kasus kronis . Epitel tubulus dan ditemukan inklusi intranuklear eosinophilic dalam osteoklas. Lead pada tubuh juga bisa terdeposit dari cemaran berupa asap kendaraan bermotor. Pengukuran konsentrasi dalam tubuh dapat diukur dengan metode AAS dan tertinggi pada cucian rambut, diikuti konsentrasi pada urine, darah, dan organ tubuh hewan ( ginjal, hati, paru, otak, organ digesti ).

Gambaran histopathology  kerusakan otak

sapijoko2

 

BERITA TERKINI