Problematika Usaha Sapi Perah Di Pulau Sumatera Bagian Selatan

sapi22

         Sebagaimana di pulau jawa yang sudah berkembang usaha persusuan, di wilayah pulau Sumatera bagian Selatan juga mengembangkan sapi perah di daerah masing masing. Di Provinsi Lampung kita mengenal sentra sapi perah di Kabupaten / kota Metro, Tanggamus dan lampung barat, di Bengkulu ada di Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong, di Sumsel ada di Kabupaten Pagar Alam, serta di Bangka Belitung ada di Kota Pangkal Pinang. Wilayah pulau Sumatera bagian Selatan memiliki potensi untuk ternak perah yang luar biasa karena didukung oleh sumber pakan ternak dan air yang melimpah, dan di daerah yang memiliki iklim yang sangat pas untuk sapi perah yaitu di pegunungan atau di sekitar kebun teh / kopi.

            Usaha peternakan sapi perah tersebut masih merupakan sapi bantuan pemerintah provinsi / daerah ataupun dari pusat yang dikelola dalam kelompok ternak bahkan ada yang merupakan program Corporate Sosial Responsibility ( CSR ) perusahaan perusahaan di daerah. Di beberapa daerah tersebut, sarana dan prasarana pendukung peternakan sapi perah sudah cukup memadai seperti kandang yang permanen dilengkapi dengan rubber mate,  mesin pemerahan, milk can, dipping cup, tempat pengolahan susu, gudang pengolahan dan pakan ternak, alat copper hijauan,dan tempat composting. Di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu lebih modern lagi karena selain memiliki tempat pengolahan susu juga memiliki unit mobil berpendingin sebagai sarana untuk distribusi produk hasil peternakan sapi perah.

            Perkembangan usaha sapi perah di wilayah pulau Sumatera bagian Selatan menemui beberapa kendala dan problematika yang sangat serius yaitu pemasaran produk, ketidak seimbangan nutrisi,  kendala Sumber daya manusia, penyakit dan seleksi indukan.

  1. Pemasaran produk susu dan olahan susu sapi

usaha peternakan akan berkembang dengan pesat jika didukung oleh suksesnya pemasaran produk, produktifitas optimal dan harga jual yang bagus. Di wilayah pulau Sumatera bagian Selatan, peternak sapi perah mengalami kendala di pemasaran hasil peternakan. Beberapa langkah sudah diupayakan dengan sungguh sungguh oleh dinas daerah terkait atau pemerintah daerah seperti demo budaya minum susu, bekerja sama dengan dinas Pendidikan untuk program PMTAS bagi anak sekolah, atau dengan rumah sakit yang berada di daerah masing masing. Hubungan kerja sama di atas sangat membantu pemasaran produk, tetapi sayangnya tidak bisa berjalan lama dikarenakan alasan alasan seperti  kejadian diare pada anak sekolah setelah minum susu segar / pasteurisasi, atau alasan hygienis yang masih diragukan.

Usaha pemasaran lainnya dengan melakukan pengolahan produk produk pasteurisasi, yoghurt, permen susu, caramel, chese dan susu segar di warung kaki lima, untuk anak anjing, atau untuk anak kambing. Usaha usaha tersebut ternyata belum memberi kontribusi besar bagi pemasaran susu, apalagi jika produksi susunya sudah mencapai ratusan atau ribuan liter per hari. Solusinya adalah adanya upaya pemerintah pusat dan daerah meregulasi tata niaga susu dengan menggandeng pihak swasta untuk berinvestasi membangun pabrikasi susu olahan seperti Frisian flag, Netsle, Indolakto dan yang lainnya di daerah masing masing sehingga  produk susu ( susu kental manis, skim, pasteurisasi, UHT, yoghurt ) ditujukan untuk pangsa pasar sumatera. Iklim yang dingin memang mendukung produksi susu sapi, tetapi yang paling penting dalam usaha sapi perah adalah lokasinya dekat dengan tempat pemasaran ( konsumen ) serta dekat dengan lumbung pakan ternak.

  1. Keseimbangan dan kecukupan nutrisi

sulitnya pemasaran susu sering menyebabkan susu mubadzir tidak terjual dan kadang dibuang cuma cuma dan hal ini yang membuat semangat peternak makin lesu karena tenaga, pikiran dan biaya pakan yang dikeluarkan tidak seimbang dengan hasil susu yang bisa dijual sehingga terkadang sapi sama sekali tidak diperah atau dihabiskan oleh pedet.  Walaupun wilayah wilayah ini merupakan sumber bahan pakan ternak ( tebon jagung, HMT, onggok, sawit, dedak padi, kulit kopi, jagung dan lainnya ), belum ada peternak / kelompok ternak yang membuat pola pakan komplit yang menghitung dengan pasti kebutuhan asupan nutrisi ( energy, protein, bahan kering, lemak, serat kasar,Ca, P ) yang disesuaikan dengan kebutuhan pokok, fase laktasi, kuantitas susu dan kebuntingan.

Peternak akan meniru dan menjiplak pola peternakan dari daerah asal sapi dibeli, jika mereka mendapatkan sapi dari Boyolali Jateng atau Lembang Jabar maka peternak akan banyak memakai ampas tahu dan jerami sebagai pakan utamanya, sedangkan kita tahu bahwa jerami kering tanpa fermentasi memiliki kecernaan yang sangat rendah ( lignin  ) dan menimbulkan produksi susu turun. Di Bangka Belitung contohnya, peternakan sapi perah hanya mengandalkan pakan utama lumpur sawit dan ampas tahu serta hijauan king grass dan jerami. Begitu pula di Lampung, Sumsel, dan Bengkulu, pakan sapi perah masih mengandalkan ampas tahu dan dedak padi. Sebagaimana kita tahu pasti jika ampas tahu, onggok basah atau lumpur sawit diberikan dalam jumlah banyak tanpa diimbangi dengan serat yang cukup akan menyebabkan acidosis dan acidosis inilah yang menjadi sumber malapetaka peternakan sapi perah.

  1. Sumber daya Manusia masih menjadi kendala

Sumber daya manusia menjadi kendala utama bagi perkembangan peternakan sapi perah, bukan jumlahnya yang tidak mencukupi tetapi kualitas sumber daya manusia yang ada. Seperti yang disampaikan salah satu PLT Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan di salah satu daerah di Sumsel ketika mendampingi kami ke kelompok ternak sapi perah, bahwa di instansinya ada 13 sarjana peternakan ( jurusan produksi, nutrisi dan pengolahan hasil ternak ) dan 2 dokter hewan yang turun langsung ke lapangan memberi pembinaan dan pelayanan ke peternak. Mereka diharapkan lebih berinovasi untuk pengembangan ke formulasi pakan ataupun pengolahan hasil ternak. Semakin kita mencoba melakukan sesuatu ( contoh membuat pakan konsentrat ) maka semakin banyak yang akan kita pelajari dan kembangkan dari kekurangan dan kelebihan susu yang dihasilkan.

Ketersediaan bahan baku pakan yang ada di daerah harus dihitung dan dilakukan formulasi komplit dengan bahan baku lain. Secara hitungan bea produksi jika formulasi pakan dilakukan dengan mendatangkan bahan baku pakan dari Lampung ( onggok, bungkil kelapa, bungkil sawit, jagung giling, brand pollard, tetes tebu ), maka akan ditemukan beberapa formula ransum untuk setiap fase laktasi ( early, medium, late, dry ). Onggok dan tetes tebu memiliki kandungan energy yang cukup tinggi tapi protein rendah, sehingga dapat dikombinasi dengan bungkil kelapa, bungkil sawit, jagung giling, brand pollard yang memiliki protein lebih tinggi.  Pemakaian ampas tahu boleh diberikan dengan takaran tertentu dengan tetap memberikan serat dari hijauan yang cukup, karena ampas tahu dapat dipakai sebagai sumber protein yang tinggi walaupun dengan bahan kering yang sangat sedikit.

Feed and grouping harus dilakukan agar semua fase laktasi tercukupi kebutuhannya tanpa adanya gejala negative energy balance. Pengelompokan terhadap hijauan dilakukan jika memang hijauan yang tersedia memiliki kualitas berbeda. Hijauan yang memiliki kualitas 1 untuk sapi perah meliputi rumput Alfafa, tebon jagung dengan baby corn, serta tebon jagung manis, jenis rumput ini diberikan pada sapi dengan fase laktasi awal ( fresh, stater, peak ). Hijauan dengan kualitas 2 meliputi rumput king grass, elephant grass, dan jerami jagung, rumput ini dipakai untuk laktasi fase medium dan late. Sedangkan untuk rumput kualitas 3 adalah jerami / fermentasi jerami dan rumput lapangan hanya dipakai untuk periode kering kandang ( dry pregnant ) dengan tujuan untuk menurunkan produksi susu pada saat masuk fase kering kandang.

  1. Penyakit yang sering dijumpai

Sebagian besar penyakit yang ditemukan seperti ambruk, hipocalsemia, skinny, acidosis, gangguan reproduksi, cacingan, ektoparasit dan lainya merupakan efek samping dari minimnya asupan nutrisi yang didapatkan oleh sapi. Perlu kerja keras untuk mengatasi masalah tersebut baik dari peternak, dokter hewan atau sarjana peternakan yaitu:

  1. Pemberian serat yang cukup buffer dalam complete feed untuk mencegah gejala acidosis
  2. Jika acidosis sudah berjalan lama maka harus dipacu lagi perbaikan ekosistem di rumen dengan yeast ( sacharomyces , aspergillus orryzae ) atau dengan pemberian probiotik
  3. Pembuatan pakan komplit sesuai dengan kebutuhan pokok, produksi, aktifitas sapi dan kebuntingan sehingga tidak ada lagi sapi ambruk dan mati karena kekurusan
  4. Pemberian calcium dan Phospor murni dalam pakan sesuai dengan kebutuhan masing masing fase laktasi untuk menghindari hipo Ca dan kasus ambruk.  Pemberian mineral serbuk dan mineral block sebagian peternak sudah melakukannya, akan tetapi sangat susah melakukan kontinuitas pemberian sehingga efektifitas hasilnya tidak jelas.
  5. Dokter hewan harus membuat program pemberian vitamin atau obat cacing secara rutin dan terpadu serta melakukan pemberian obat cacing secara efektif. Sebagai contoh pemberian obat cacing cair peroral atau bolus akan lebih efektif pada saat sapi belum makan ( rumen kosong ). Perlu dievaluasi juga apakah obat cacing yang selama ini digunakan sudah efektif secara sistemik atau hanya untuk saluran pencernaan saja, sedangkan kasus cacing hati masih belum bisa tertangani tuntas. Perlunya mencari obat broad spectrum yang mampu membasmi cacing saluran pencernakan, cacing hati dan ektoparasit. Di sebagian besar peternak, parasit kutu masih banyak ditemukan disekitar vulva dan berkembang biak pada rambut ekor. Kutu dengan jenis Ptyrus pubis ini sangat mengganggu kenyamanan, menimbulkan anemia / menghisap darah, berahi palsu dan menular ke sapi lain melalui kontak langsung sehingga perlu dibersihkan secara manual dengan dicukur seluruh rambut pada ekor dan dibakar agar tidak berkembang biak.
  6. Gangguan reproduksi yang ditemukan meliputi hipofungsi,  atropi ovaria, infeksi ( anestrus ) dan kawin berulang karena malnutrisi. Perlu pemberian nutrisi cukup dengan dilengkapi vitamin ADE atau Selenium untuk memacu kesuburan. Program kesehatan reproduksi harus ditingkatkan dan harus dimulai dengan teknologi semen beku seksing untuk menghasilkan pedet betina sebagai replacement stock sehingga mempercepat perkembangan populasi ternak perah.
  7. Selama ini peternak mendapatkan sapi bantuan dalam kondisi bunting dari tempat asal ( Jawa ) yang membutuhkan adaptasi iklim, pakan, terkadang resiko keguguran karena kelelahan transportasi. Langkah yang paling baik adalah pengadaan sapi dalam kondisi dara siap kawin ( umur 13 – 15 bulan ). Cara ini memiliki kelebihan tidak ada resiko keguguran karena perjalanan, harganya 50% dari sapi bunting, mendapatkan cukup waktu untuk beradaptasi di tempat yang baru dan dipastikan akan menghasilkan produksi susu yang optimal dalam jangka waktu lama. Dara siap kawin kemudian dikawinkan dengan semen beku seksing, selama kebuntingan pakan diatur dan disetting sesuai dengan pakan jangka panjang yang akan diberikan.
    1. Seleksi indukan

Hal yang paling utama dan pertama dilakukan untuk memulai usaha peternakan sapi perah adalah melakukan seleksi calon indukan. Indukan  ( bunting atau laktasi ) yang baik memiliki kesehatan yang baik, riwayat produksi dan reproduksi baik, pertulangan kuat, sapi murni untuk produksi susu dan bukan dwiguna, pelvis lebar, perekatan ambing kuat dan besar, puting panjang, kencang dan empuk saat diperah. Hindarkan pemilihan indukan yang galur lokalnya lebih dominan karena produksi susu tidak akan banyak.

Sungguh potensi yang luar biasa apabila wilayah Pulau Sumatera Bagian  Selatan ini mampu mengembangkan sapi perah dengan segala potensi yang dimilikinya karena sebagai pintu gerbangnya Pulau Sumatra ( dari jawa ke Jambi, Riau, Padang, Bukit Tinggi, Sumatera Bagian Utara). Ketika wilayah Pulau Sumatera Bagian  Selatan sudah berhasil maka wilayah Pulau Sumatera lain akan mengikutinya, pengadaan ternak tidak lagi mencari ke Pulau Jawa, semua biaya akan lebih ekonomis, dengan harapan terakhir ada kepedulian pemerintah daerah, pusat dan pihak swasta mendirikan pabrikasi pengolahan susu sapi di Pulau Sumatera yang menampung susu dari peternak Sumatera.

Sudah lama Bapak Presiden kita tidak memotong pita untuk peresmian pabrik besar yang mampu menyerap ratusan hingga ribuan tenaga kerja, kami di Pulau Sumatera bermimpi dan berharap Presiden RI melakukan potong pita meresmikan berdirinya indutstri pengolahan susu di Pulau Sumatera. Selamat datang di Pabrik Pengolahan Susu di Sumatera Pak Presiden. [joko susilo]

BERITA TERKINI