Program peningkatan Reproduksi dan Kejadian Tumor Ovarium pada Sapi Perah

tumor

Usaha peternakan sapi perah di Indonesia, pada saat ini bisa dikatakan prospektif dan cukup menjanjikan. Bertahun-tahun usaha sapi perah ini berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Hal ini terbukti mulai tahun 2013, harga susu di koperasi susu sudah di kisaran Rp. 4.000,00/liter. Tahun tahun sebelumnya harga di koperasi masih di bawah Rp. 3.000,00/liter, dan hanya susu dengan kualitas I harganya tertinggi Rp. 3.200/liter. Fakta lainnya, harga sapi laktasi pun meningkat harganya. Beberapa tahun lalu sapi PFH laktasi 15 liter harganya berkisar 12.000.000,00/ekor, namun saat ini harganya sudah diatas Rp. 15.000.000,00. Beberapa waktu lalu, sapi dengan produksi kurang dari 7 liter sudah diculling karena BEP nya 6–7 liter. Pada saat ini sapi diafkir dengan produksi dibawah 5 liter.

Beternak sapi perah secara garis besar hasil utamanya susu dan pedet. Ketercukupan pakan,  manajemen kesehatan, dan reproduksi sangat membantu ketercapaian target. Waktu laktasi sapi yang dihitung setelah melahirkan dikenal dengan istilah DIM (Days In Milk). Ada 3 periode utama dalam masa laktasi yaitu Early lactation (DIM 1-150), Medium (DIM 150 – 210), dan Late ( DIM > 210). Early lactation terbagi lagi dalam 3 fase yaitu fresh kolustrum (1 -7  hari), Stater (8–30 hari), dan Peak (30–150 hari). Target yang dikehendaki peternak adalah sapi sehat, tanpa gangguan metabolisme serta mampu melewati masa kritis (DIM < 30 hari) serta produksi susu yang tinggi di fase tersebut. Di fase peak, peternak berharap mendapatkan produksi susu optimum dan konsisten serta sapi sudah berreproduksi normal, serta dipasikan bunting. Jika sapi sudah dikawinkan pada DIM  90 dan bunting, maka pada DIM 300 (bunting umur 7 bulan) sapi masuk ke periode dry pregnant. Pada saat dry pregnant, sapi tersebut masuk ke periode Late (DIM > 210 hari) yang secara alami produksi susu sudah turun, sehingga membantu keberhasilan pengeringan. Satu fakta yang harus dihindari oleh peternak adalah Dry open/dry offf kondisi dimana sapi sudah tidak memproduksi susu/habis masa laktasinya namun tidak juga bunting..ini sangat merugikan.

Ada beberapa hal yang sangat penting untuk dilakukan peternak di bidang reproduksi agar bisa mensupport produksi susu optimal yaitu:

  1. Memastikan waktu kelahiran (calving). Pengamatan kelahiran harus dilakukan secara ekstra untuk menjamin keselamatan pedet, keselamatan induk, memberikan bantuan pada kasus distokia, meminimalisir kejadian retained fetal membran (RFM), dan memiliki recording sapi sapi dengan riwayat RFM untuk ditangani.
  2. Melakukan observasi dan penanganan ekstra pada sapi kelompok Fresh. Kelahiran normal ataupun abnormal (distokia) yang diikuti RFM atau tidak diikuti, berpeluang mennjadi metritis atau endometritis. Retained fetal membran adalah tertinggalnya sebagian (partial) atau keseluruhan membran fetus (plasenta). Retained fetal membran dapat dicegah dengan pemberian Vit ADE dan Selenium. Pada kelahiran normal yang diikuti dengan RFM, maka dipastikan 90% terjadi metritis. Begitu pula kelahiran normal tanpa RFM juga memiliki peluang terjadinya metritis. Observasi pada kelompok sapi fresh ini dilakukan dengan melihat recording kejadian RFM dan melihat adanya lendir infeksi
  3. Melakukan penanganan pada kasus lendir infeksi, metritis, endometritis, atau pyometra. Penanganan yang dapat dilakukan pertama pada sapi yang RFM, maka dilakukan pengeluaran plasenta yang tertinggal secara manual. Jika masih terdapat plasenta yang tertinggal di dalam uterus maka dilakukan pemberian antibiotik atau antiseptika intra uterine. Pada kejadian RFM yang berlangsung agak lama dan menimbulkan lendir kecoklatan dan bau menyengat bisa dilakukan pencucian uterus (tranfusi) dengan larutan antiseptik yang tidak mengiritir endometrium. Penanganan dengan antibiotik atau antiseptik bisa dilakukan berulang sampai terjadi perbaikan lendir yang keluar menjadi lebih jernih dan tanpa bau.
  4. Melakukan pengecekan saluran reproduksi pada DIM 30 hari untuk mengetahui keberhasilan involusi uterus dan memastikan saluran reproduksi sudah siap berreproduksi. Sapi sapi yang involusinya belum sempurna maka penanganannya bisa dilakukan infusi Iodine Povidone 1 – 2% sesuai kapasitas uterus.
  5. Jika pada DIM ke 60, sapi belum birahi, involusi sudah sempurna, maka dilakukan pengecekan sampai dengan ovarium. Kejadian anestrus post partus terbesar disebabkan karena faktor infeksi (metritis / endometritis) dan defisiensi asupan nutrisi (hipofungsi ovaria). Kejadian anestrus karena infeksi dapat ditangani dengan menghilangkan agen infeksi (bakteri, jamur, parasit), dan bisa dilanjutkan dengan hormonal. Hipofungsi ovaria dapat ditangani dengan perbaikan pakan, pemberian obat cacing dan pemberian Vit ADE dan Selenium.
tumor2
Observasi pada kelompok sapi Fresh

Pemakaian hormonal untuk berbagai macam tujuan penanganan gangguan reproduksi

            Pada peternakan sapi perah modern ada beberapa hormon yang akrab untuk penanganan gangguan reproduksi antara lain:

  1. Prostaglandin dan derivatnya. Hormon ini secara alami dihasilkan oleh endometrial cup di endometirum yang berfungsi untuk melisiskan corpus luteum. Hormon ini hanya bekerja jika status ovarium pada fase luteal (hari 5 – 18) setelah birahi dan menimbulkan turunnya hormon progesteron sehingga masuk ke fase folikuler (estrus). Pada kasus metritis/endometritis, pemberian prostaglandin akan melisiskan corpus luteum namun tidak menghilangkan agen infeksi sehingga IB nya gagal. Jadi untuk kasus endometritis, pemberian prostaglandin disarankan setelah pembarian antimikrobial/antiseptik.
  2. Sediaan hormon ini biasanya berbentuk intravaginal device (PRID/ CIDR) yang didesain seperti huruf T kemudian dimasukkan intra vaginal dengan aplikator dan akan diremove ( diambil kembali ) setelah waktu yang ditentukan (5 – 7 hari). Pemakaian intravaginal device ini ditujukan untuk mengatasi beberapa kasus sillent heat, anovulasi, dan subestrus. Progesteron akan menghambat proses folikulogenesis, dan ketika CIDR dicabut dan kombinasi dengan pemberian prostaglandin maka estrus akan terekspresikan dengan nyata.

    tumor3
    Lendir infeksi pada endometritis dan Tumor ovarium
  3. Gonadotropin releasing Hormone. Hormon ini mempunyai beberapa peran ganda pada perlakuan yang berbeda dan banyak dipakai untuk penanganan kasus kawin berulang (repeat breeder). Repeat breeder secara garis besar disebabkan karena kegagalan fertilisasi dan kematian embrio dini. Kegagalan fertilisasi bisa disebabkan karena anovulasi, delayed ovulasi, IB terlambat, IB terlalu dini, atau semen beku dengan kualitas rendah. Kematian embrio dini banyak disebabkan karena kurangnya kadar progesteron yang dihasilkan oleh corpus luteum, endometritis subklinis, penyuntikan prostaglandin, atau Cystic corpora luteal. Pemberian GnRH pada saat atau setelah IB bertujuan untuk membantu proses ovulasi pada gangguan anovulasi dan delayed ovulasi. Pemberian GnRH yang dilakukan 11 hari setelan IB, bertujuan membantu proses pembentukan corpus luteum sehingga progesteron yang dihasilkan mencukupi untuk mempertahankan embrio dalam rahim.

Pemberian GnRH bersamaan dengan pemasangan CIDR berarti memposisikan GnRH berperan sebagai  corpus luteum (penghasil progesteron). Bila diberikan pada saat  CIDR dilepas dan bersamaan dengan injeksi prostaglandin akan membantu proses lisisnya CL dan mensupport proses folikulogenesis.

 Tumor Ovarium

tumor4
Retained Fetal Membran

Pada umumnya ovarium pada sapi perah berukuran diameter 1 – 2 cm yang dilengkapi dengan folikel pada fase folikuler, dan corpus luteum pada fase luteal. Dari beberapa ratus/ribu ekor jenis gangguan reproduksi yang saya identifikasi dan saya tangani, ada kejadian unik yang baru baru saja saya temukan. Di minggu pertama bulan Mei 2014, saya diundang peternak sapi perah datang ke kandangnya di Lampung. Peternak tersebut menunjukkan ada 1 ekor dari 15 ekor sapinya memiliki catatan produksi susu yang tidak konsisten. Pada puncak produksinya sapi tersebut mencapai 20 liter, namun pada saat masuk peak lactation sapi tersebut tiba tiba produksinya turun drastis menjadi hanya 2 – 3 liter. Kemudian produksi mulai naik kembali walaupun tidak mencapai puncak, namun kejadian penurunan produksi susunya terjadi berulang ulang. Ketika saya lihat sapinya, sapi tersebut bagus, pertulangan halus, bulu halus, ambing dan puting normal. Berdasarkan informasi pemilik sampai dengan DIM 150 hari sapi tersebut belum bunting dan sering keluar lendir jernih dari vulvanya. Setelah saya lakukan palpasi perrectal ke badan ovarium, maka saya temukan ovarium kanan berukuran sebesar kepalan tangan. Diagnosa saya mengatakan sapi perah tersebut menderita tumor ovarium, dan rekomendasi saya agar sapi tersebut dijual untuk dipotong.

Penulis Drh Joko Susilo

Dimuat di Majalah INFOVET edisi Agustus 2014

BERITA TERKINI