Kategori
Artikel

Stop!!! Penyakit Surra Masuk ke Pulau Sumatera

surra

Akhir akhir ini kasus Surra muncul lagi di negara kita, seperti yang dimuat pada majalah Infovet bulan Mei 2014. Kejadian penyakit ini terjadi pada kerbau lokal tepatnya Mei 2013 di Kabupaten Pandeglang dan Lebak, Banten, dilanjutkan kejadian penyakit pada November 2013 dan terakhir terjadi Maret –  April 2014 di Kabupaten Pandeglang. Kejadian penyakit ini mempunyai pengaruh besar karena memberi dampak ekonomi pada peternak akibat kematian, serta dipastikan tidak diijinkanya kerbau dari daerah tersebut dijual keluar daerah lain. Beberapa daerah yang membuat program pengadaan kerbau untuk pengembang biakan kerbau, tidak bisa mendapatkannya dari Provinsi Banten.

Kejadian Surra di Banten menjadi catatan tersendiri di pintu gerbang masuknya pulau Sumatera yaitu Provinsi Lampung. Lalu lintas sapi atau kerbau lokal dari pulau jawa ke pulau Sumatera mempunyai frekuensi yang cukup besar terutama pada 2013. Sehingga kejadian di Banten tersebut harus diwaspadai dan dicegah agar tidak menular ke Sumatera. Jika Surra dari Banten masuk ke Sumatera maka kejadiannya akan tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Sumba. Pemeliharaan ternak dengan digembalakan di padang rumput, integrasi dengan kebun sawit, ataupun populasi kerbau yang hidup di rawa rawa atau sepanjang aliran sungai sangat mudah terjadi penularan dari individu ke individu ataupun ke kawanan sapi / kerbau.

surra2
Peta Penyebaran Penyakit Surra di Indonesia ( Sumber BBALitvet, Bogor )

Dari peta penyakit Surra pada 2006 – 2009, pulau Sumatera bagian Tengah (Jambi, Padang, Riau) terkena penyakit ini. Berdasarkan riwayat yang ada, maka Balai Veteriner regional I (Medan), II (Bukit tinggi), dan regional III (Lampung) dari tahun ke tahun melakukan surveilans aktif terhadap penyakit ini. Hal ini mengingat populasi ternak lokal yang cukup tinggi di wilayah perbatasan Sumatera Bagian Selatan dengan Tengah seperti sebagian kabupaten di Provinsi Bengkulu dan Sumsel. Begitu pula populasi  kerbau lokal (salah satu hewan rentan Surra) di Sumatera Selatan yang banyak di Kabupaten Lahat, Lubuk Linggau, Musi Rawas, OKU, Ogan Ilir. Kemudian di Provinsi Lampung ada di Pesawaran, Tanggamus, Lamsel, Lamteng, Menggala serta Provinsi Bengkulu di Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu Utara, dan Muko Muko.

PEMERIKSAAN SURRA

Surveilans untuk penyakit Surra dilakukan dengan melakukan anamnesa, observasi pada ternak, kandang, keberadaan vektor. Pemeriksaan Ulas Darah/PUD (Direct Microscop Examination/DME) biasa dilakukan di lapangan. Pemeriksaan lainya meliputi pewarnaan Giemsa (Giemsa Stain Smear/GSS), Micro Haematocrit Centrifugation Technique/MHCT, Miniature-Anion Exchange Centrifugation Technique/MAECT. Jika dalam pemeriksaan tersebut ditemukan Trypanosoma evansi maka segera diinjeksikan ke hewan percobaan (mencit). Pemeriksaan serologis juga dapat dilakukan dengan card agglutination test for trypanosomosis (CATT/T. evansi), Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), Indirect immunofluorescence antibody test (IFAT), Latex agglutination test (LAT), Field ELISA (FELISA). Pendekatan secara molekuler dapat dikerjakan dengan polymerase chain reaction (PCR).

Pemeriksaan dengan histopatologi pada organ organ ternak yang telah mati dengan menemukan Trypanosoma evansi pada jaringan, di luar sel atau pada pembuluh darah. Bebarapa kasus Trypanosoma evansi dapat ditemukan pada orhan hati, jantung dan otak. Pada ternak yang mati dengan gejala kepala berputar putar, hasil pemeriksaan histopatologi menemukan Trypanosoma evansi pada otak dan terdapar perivascular cuffing (infiltrasi / akumulasi sel radang di sekitar pembuluh darah) di Otak.

surra3

Trypanosoma evansi adalah protozoa darah homoflagella tersirkulasi di dalam darah secara ekstraseluler sebagai agen penyakit Surra. Beberapa laporan sapi/kerbau dengan gejala klinik: demam, anemis konjungtiva, lemah, ambruk, kurus, terdapat oedema bawah dada, perut, kaki belakang, testis dan terjadi abortus. Beberapa kasus kematian diawali dengan kepala berputar putar, sapi menjadi lebih beringas, dan berujung kematian disertai kembung dan mulut berbusa  seperti keracunan).

Trypanosoma evansi dapat ditularkan melalui vektor mekanik : Lalat penghisap darah (Tabanid & Haematopaghus), lalat Tabanid (hanya betina yang menghisap darah), lalat Muscid (Jantan dan betina menghisap darah). Lalat Tabanid sangat efektif sebagai vektor karena mampu terus menghisap darah meskipun hewannya berontak, mampu mentransfer Trypanosoma evansi ke inang yang baru kurang dari 5 (lima) detik dan mampu menghisap darah dalam jumlah besar

surra4
Gambar Vector Trypanosoma evansi

Jika diamati lebih jauh ada beberapa faktor pemicu kejadian Surra yaitu lemahnya pengawasan lalu lintas ternak, harga obat yang cukup mahal dan terbatas di pasaran, dan lemahnya monitoring vektor Surra yang tentang kapan tingkat parasitemia tinggi pada inang, kapan populasi vektor tinggi, kapan waktu terpendek antara saat menghisap darah inang dan kapan mulai menghisap lagi pada inang yang tidak terinfeksi,  kapan lalat aktif dan kapan darah yang mengandung T. evansi bertahan di bagian mulut inang.

DAMPAK  PENYAKIT  SURRA

Manifestasi klinis Surra berbeda pada tiap hewan, terjadi akut dan fatal pada kuda, unta, anjing, terjadi akut/subklinis pada kerbau, sapi, babi  dan pada hewan lain: subklinis, berlaku sebagai reservoir. Dampak kerugian ekonomis pada peternakan seperti abortus dan gangguan reproduksi meningkat, bobot badan menurun, depresi sistem imun, terjadi anemia dan kematian.

Dari hasil kajian penelitian di BBAlitvet Bogor, Virulensi Isolat Trypanosoma (evansi) dari beberapa daerah diIndonesia dapat dikategorikan sebagai berikut:

surra5

Beberapa langkah antisipasi, pengawasan, penjagaan serta memerangi Surra dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Terus melakukan surveilans aktif dengan melakukan pemeriksaan Preparat ulas darah ( Lab Type A, B, C ) dan segera dilakukan terapi masal jika ditemukan Pemeriksaan ulas darah harus dilakukan dengan cermat dan cepat di lapangan untuk menghindari negatif palsu. Pemeriksaan dengan mikrohematokrit menghasilkan kepekaan lebih tinggi sehingga terapi bisa dilakukan pada sapi sapi yang positif.
  2. Kejadian di kawanan ternak ( kandang / padang penggembalaan ) dengan strategi terapi pilih memberikan hasil kurang memuaskan dan kejadian penyakit masih tinggi terbukti 2-3 minggu setelah pengobatan terjadi 1-2 kasus positif dan setelah 3-4 bulan terjadi kasus secara masal. Strategi terapi masal dilakukan dengan lingkup lebih luas di seluruh padang penggembalaan dan beberapa desa disekitar tempat ditemukannya kasus Surra. Strategi ini sangat efektif karena 3-4 bulan seterlah pengobatan masal, kasus Surra mereda.
  3. Memperkektat lalu lintas ternak antar kandang, antar desa, kecamatan, kabupaten, dan antar propinsi. Perlunya pemeriksaan serius pada ternak yang akan dimutasikan ke tempat lain. Pengisian dokumen SKKH harus dikeluarkan petugas daerah pengirim ternak berdasarkan pemeriksaan laboratorium( negatif Surra ). Penting juga pemeriksaan kembali di pos lalu lintas ternak atau petugas karantina di perbatasan tentang kebenaran isi dokumen dengan jumlah ternak, no kendaraan, jenis ternak, umur, dan hasil pemeriksaan laboratorium.
  4. Sosialisasi dilakukan secara terus menerus kepada masyarakat tentang Surra dan pengobatan rutin.
  5. Pengendalian vektor dilakukan dengan penyemprotan pada ternak dan dikandangkan secara berkala sapi sapi yang dipelihara di padang penggembalaan.

surra6

Drh. Joko Susilo

Medik Veteriner  Muda, Balai Veteriner Lampung

Direktorat Kesehatan Hewan, Dirjen PKH

Kementrian Pertanian RI

Artikel Pernah dimuat di Majalah Infovet Edisi Juli 2014