Kategori
Artikel

Sudah Berhasilkah Pemeliharaan Sapi Bantuan Pemerintah ?

sapi222

Hampir setiap tahun di setiap daerah selalu bertambah populasi sapi bantuan (hibah, pemberdayaan masyarakat) oleh pemerintah dari jalur Sarjana Membangun Desa, APBN, APBD, Bansos dan lainnya. Cukup banyak kelompok ternak yang sukses membina kelompoknya dalam memelihara sapi bantuan, tetapi banyak juga yang berujung tragis sapinya mati dan kelompok ternak bubar. Belakangan ini pemerintah memberikan program dengan memberikan kelompok ternak fasilitas yang lengkap dengan sarana penunjang produksi seperti ruang pertemuan kelompok, pos ronda, gudang pakan, tempat pembuatan kompos, kendaraan pengangkut pakan ternak dan fasilitas lainnya.

Pola peternakan yang dikelola peternak adalah pola breeding yang mengacu pada Village breeding centre. Beberapa hal yang ditemukan pada pemeliharaan sapi breeding bantuan pemerintah antara lain:

  1. Seleksi sapi hanya melihat spec fisik yang disesuaikan dengan spec harga seperti dalam petunjuk pelaksanaan dan teknis ( tinggi badan, berat badan, warna, dan jenis sapi ). Ketika pengadaan yang dilakukan adalah dara siap kawin, seleksi jarang didasarkan pada kondisi alat reproduksi
  2. Management pakan ternak, peternak biasanya hanya mengandalkan rumput sisa pertanian sebagai pakan utamanya. Minimnya pengetahuan tentang pakan ternak alternative membuat kondisi mallnutrisi sapi sehingga pada musim kemarau semakin kurus
  3. Managemen kesehatan hewan dan reproduksi belum terprogram dengan baik.
  4. Semangat kelompok ternak biasanya hanya di awal dan semakin menurun ketika hasil yang diinginkan tidak tercapai ( sapi tidak segera kawin, bunting, lahir )
  5. Perfoma reproduksi yang kurang optimal ( tingginya anestrus, lamanya waktu yang dibutuhkan sapi menjadi bunting, sedikitnya pedet yang dilahirkan )
  6. Pemeliharaan sapi dilakukan dengan pola tambat dan berkaluh, menyebabkan beberapa sapi sangat sulit beradaptasi terutama sapi bali dan sapi Brahman cross. Adaptasi yang terlalu lama dengan pola seperti ini biasanya menyebabkan stress pada sapi, dalam jangka waktu lama menyebabkan depresi reproduksi.
  7. Pemakaian pejantan yang dipilih untuk pemacek kurang memenuhi standart ( libido, umur, status penyakit, dan keunggulan genetic ). Biasanya dalam 1 paket kelompok ternak dengan ratio 3 pejantan : 30 betina, dalam kalkulasi breeding sebenarya sangat cukup akan tetapi kendalanya terkadang pejantan tidak mau mengawini pada saat betina birahi.

Pola breeding yang benar harus terprogram dengan  lengkap agar bisa mendapatkan  hasil yang baik. Seleksi awal sapi yang akan dipelihara menjadi prioritas pertama sapi untuk mendukung perfoma produksi dan reproduksi. Seleksi betina siap kawin dengan umur  minimal 15 bulan ( body maturity ) dengan berat minimal 200 kg ( sapi Bali ) dan 275-300 ( sapi simmetal, limousine, Brahman cross ). Seleksi terpenting adalah pemeriksaan saluran reproduksi untuk memastikan sapi benar benar subur, tidak ada gangguan fungsi dan anatomis saluran reproduksi.  Jika seleksi dilakukan dari luar daerah atau provinsi, maka wajib disyaratkan sapi tersebut bebas brucellosis yaitu dengan cara meminta supplier sapi melampirkan sertifikat bebas brucellosis dari instansi yang berwenang ( dinas peternakan atau Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner di Regional masing masing ), untuk sapi bali disyaratkan juga bebas penyakit jembrana. Begitu pula seleksi pejantan, harus memperhatikan kualitas genetic yang baik yaitu umur yang siap menjadi pejantan ( di atas 3 tahun ), memiliki perfoma tubuh bagus, libido dan kualitas sperma baik, bebas dari berbagai penyakit veneris, memiliki rangka panjang, otot dan pertulangan yang kuat.

Persiapan yang wajib dilakukan sebelum sapi masuk ke kandang kelompok adalah:

  1. Mempersiapkan lahan rumput yang cukup untuk musim penghujan ataupun musim kemarau
  2. Membuat kandang dan perlengkapan yang memenuhi persyaratan kandang yang aman, bersih dan mudah pengendaliannya
  3. Pastikan kandang berlokasi pada tempat yang cukup air.
  4. Untuk pola pemeliharaan lepas, ranch atau pen maka kebutuhan per ekor sapi adalah 3 m2

Lakukan pemberian vitamin B komplek atau ADE dan obat cacing pada saat sapi baru masuk yang sudah dipastikan tidak bunting. Adaptasikan sapi 1 bulan pertama dengan memacu pertumbuhan tubuh dan mempersiapkan agar sapi sangat siap untuk dikawinkan. Pola perkawinan harus ditentukan dari awal dengan kawin alami atau dengan inseminasi buatan. Sapi bali dan sapi Brahman cross sebaiknya dipelihara dengan system lepas di kandang koloni, ranch, pen atau paddock dengan tujuan agar sapi dapat mengekspresikan birahinya dengan nyata menaiki dan dinaiki oleh pejantan. Pastikan kandang bebas dari benda asing ( plastic, kain, karung bekas, bahan bangunan ) dan benda benda tajam ( paku, kawat ). Jika sapi berada dalam sebuah pen, maka lantai tidak boleh terlalu kasar, terlalu miring dan tidak terlalu licin. Apabila dalam sebuah ranch maka pastikan padang rumput benar benar kuat dan bersih dari batu ataupun kerikil. Kandang harus dilengkapi dengan pagar keliling, tempat pakan dan tempat minum. Pagar bisa dibuat dari besi, kayu, bambu atau cukup  dengan electric fenching.

Ratio pejantan dihitung berdasarkan siklus birahi sapi yaitu 18 – 21 hari, artinya dalam populasi 21 ekor akan ada 1 ekor betina yang birahi setiap hari. Sehingga ratio pejantan : betina adalah 1: 21 atau 5% pejantan. Dengan pola sapi dilepas kita akan segera tahu apakah pejantan yang kita pakai agresif dan memiliki kemampuan libido yang bagus. Lakukan pergantian pejantan apabila pejantan memiliki kualitas libido rendah dan pergantian rutin setiap 2 minggu dengan pejantan lain untuk replacement. Perawatan pejantan harus ekstra dengan memberi nutrisi cukup dan pemberian vitamin ADE, selenium secara injeksi atau dalam premix yang dicampur dalam pakan. Segera lakukan penanganan pengobatan pada pejantan yang pincang atau sakit karena aktifitas mengawini dan segera lakukan pergantian dengan pejantan lain. Campurkan pejantan dan betina selama 3 siklus birahi ( 2 bulan ),setelah itu pisahkan pejantan. Pada bulan ke 4 dari awal perkawinan ( 2 bulan setelah betina dipisahkan dengan pejantan ) kita lakukan pemeriksaan kebuntingan. Dari hasil pemeriksaan kebuntingan tersebut akan kita dapatkan usia kebuntingan sapi 2 – 4 bulan.

Pola perkawinan dengan inseminasi buatan bisa dilakukan dengan pola kandang tambat atau dengan koloni. Untuk kandang koloni maka harus dipersiapkan seperangkat bangunan untuk memudahkan handling pada saat IB, seperti gangway dan kandang jepit. Secara alami dalam populasi sapi 100 ekor maka akan ada 5 – 6 ekor sapi birahi / hari dan harus diIB. Pengamatan birahi dan akurasi waktu IB sangat menetukan hasil IB dan % ase kebuntingan. Lakukan pengamatan birahi dan IB selama 3 siklus birahi, lakukan IB sapi yang birahi kembali setelah IB dengan siklus birahi normal dan lengkapi dengan recording perkawinan yang lengkap. Jika dalam 3 siklus ada beberapa sapi yang tidak menunjukkan gejala birahi ( anestrus ), maka lakukan palpasi rectal untuk mengetahui permasalahan gangguan reproduksi sapi. Beberapa status reproduksi sapi penyebab anestrus adalah bunting, infeksi ( corpus luteum persisten ), hipofungsi ovaria, atropi ovaria, cystic luteal, dan kelainan genetic ( hipoplasia ovaria, agenesis, freemartin, dan lainnya ).

Anestrus dan kawin berulang adalah permasalahan yang paling sering dijumpai pada kelompok ternak dan menimbulkan kerugian yang besar bagi peternak. Deteksi dini anestrus dan penanganannya sangat membantu peternak dan mencegah terjadinya kerugian yang lebih besar. Kawin berulang lebih banyak dijumpai pada kelompok ternak yang lemah pengamatan birahinya. Kawin berulang disebabkan oleh 2 hal yaitu kegagalan fertilisasi dan kematian embrio dini. Kegagalan fertilisasi meliputi kegagalan ovulasi, ovulasi tertunda, IB terlalu dini, IB terlambat, kualitas semen beku atau pejantan kurang bagus. Kematian embrio dini lebih disebabkan oleh nutrisi yang tidak mencukupi sehingga terjadi gangguan produksi progesterone berakibat lemahnya kemampuan rahim menjaga janin.

Persiapan pakan juga menjadi point penting untuk menjaga kontinuitas dan kesetabilan kecukupan pakan. Tahun 2012, program bantuan sebagian disertai dengan pemberian bantuan pakan penguat ( konsentrat ). Hindarkan pemberian pakan penguat yang sudah berbau tengik atau ada indikasi berjamur ( aflatoksin ) dan konsentrat yang kondisinya panas di dalam karung. Pembuatan instalansi untuk tempat pemrosesan fermentasi rumput mutlak dibutuhkan. Pada musim panen atau musim hujan, keberadaan rumput yang berlebih seperti jerami dapat diawetkan dengan fermentasi. Fermentasi juga akan meningkatkan kecernaan rumput di dalam saluran pencernakan dan meningkatkan kandungan nitrogen untuk proses pertumbuhan mikrobia rumen.

Penjagaan kondisi tubuh sapi yang sudah bunting harus dilakukan dengan baik. Hindarkan pemberian pakan yang bersifat antagonis terhadap kebuntingan, hindarkan pemberian obat cacing yang berresiko terhadap kebuntingan, untuk kondisi cacingan cukup berat pada saat bunting maka penggunaan abamectin aman untuk sapi bunting. Hindarkan injeksi obat obatan yang beresiko menyebabkan keguguran seperti deksamethasone, estrogen, prostaglandin, dan lainnya. Kelahiran yang normal, pedet yang sehat, dan induk bunting kembali setelah melahirkan dengan interval kelahiran 12 – 15 bulan menjadi tujuan utama peternak.

Peternak akan selalu semangat untuk merawat sapinya jika sapi sapinya berhasil bunting dan pedet berhasil dilahirkan, sebaliknya peternak biasanya memiliki semangat menggebu pada awal diberikan sapi bantuan tetapi semangat itu luntur ketika sapinya tidak kunjung bunting. Jika semangat peternak sudah turun akan menimbulkan efek domino berkepanjangan, peternak malas merumput, sapi tidak cukup pakan, sapi menjadi kurus, sapi anestrus dan kawin berulang, cacingan dan berakhir di rumah potong atau blantik. Pada program Sarjana Membangun Desa, harus benar benar dipilih sarjana yang mempunyai semangat, tanggung jawab, profesional dan memiliki kepemimpinan pada kelompok binaan. Sarjana pendamping harus menghayati betul pemeliharaan dan konsep breeding yang baik. Sebaliknya pemerintah juga harus menuntut pertanggungjawaban Sarjana pendamping atas hasil yang didapatkan, apalagi Sarjana pendamping telah mendapatkan pendapatan rutin dari program ini.

Senyum peternak menjadi tujuan kita semua, maka hindarkan kepentingan pribadi dalam kelompok ternak. Semoga peternak menjadi obyek binaan untuk peningkatan taraf ekonomi dari peternakan dan bukan menjadi objek untuk mencari keuntungan sebagian orang yang berkepentingan sementara peternak selalu miskin dan terbelakang. Maju dan berkembanglah peternakan sapi di Indonesia, agar anak cucu kita akan tetap bertemu dengan ternak yang bernama Sapi. Jika kita tidak serius membina peternak, sapi lokal akan punah dan menjadi cerita belaka bagi anak cucu kita tanpa pernah melihat bagaimana bentuk sapi, atau suatu saat anak cucu kita hanya bisa melihat sapi yang tersisa di kebun binatang saja.

Drh. Joko Susilo