Surat Edaran Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan tentang Pengendalian Penyakit AI Pada Itik

Menindaklanjuti laporan para peternak itik tentang merebaknya kasus penyakit yang menyebabkan tingginya kematian pada itik di beberapa kabupaten di propinsi Jawa Tengah, D.I.Y. dan Jawa Timur, setelah dilakukan investigasi lapangan dan pemeriksaan laboratoris serta penelitian biomolekuler, disimpulkan bahwa:

Ditemukan penyakit Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) subtype H5N1 dengan clade 2.3 subclade 2.3.2. Clade ini merupakan clade baru ditemukan pertama kali di Indonesia, yang sangat berbeda dengan clade virus AI selama ini yaitu 2.1. Beberapa kemungkinan penyebab munculnya clade baru tersebut yang masih harus diteliti lebih lanjut yaitu:

  1. Terjadi mutas genetic drift dan atau genetic shift dari virus sebelumnya
  2. Introduksi virus baru dari luar negeri berdasarkan kesamaan Haemaglutinin pada Phylogenic tree yang kemungkinan disebabkan melalui pemasukan itik dan/atau produknya dari luar negeri secara ilegal, atau kemungkinan migrasi burung liar

Guna mencegah penyebaran virus dan mengendalikan penyakit tersebut, diinstruksikan untuk segera dilakukan beberapa tindakan sebagai berikut:

  1. Penyuluhan kepada masyarakat umum agar tidak panik dan tidak khawatir mengkonsumsi daging dan telur itik sepanjang dimasak terlebih dahulu. Sewaktu menangani (memelihara, menyembelih, mengubur bangkai, dll) itik atau unggas lainnya agar tetap menggunakan masker dan mencuci tangan dengan sabun
  2. Penyuluhan kepada para peternak tentang perlunya segera melaporkan bilamana ditemukan itik yang sakit atau mati secara mendadak, mengisolasi unggas sakit serta tidak memelihara itik bersama dengan ayam atau unggas lainnya
  3. Pembinaan kesehatan unggas dan pengawasan terutama pada peternakan itik pembibitan dan peternak penetas itik yang mendistribusikan anak itik ke berbagai daerah lainnya
  4. Terhadap itik yang sakit atau mati mendadak segera dilakukan deteksi dini dengan uji cepata (rapid test) dan mengirimkan spesimen ke laboratorium BBV/BPPV guna konfirmasi diagnosa laboratoris
  5. Bila hasil diagnosa positif makan agar segera melakukan tindakan depopulasi terbatas (focal culling) disertai biosekuriti
  6. Pembatasan lalu lintas ternak itik dan produknya dari peternakan dilakukan di daerah dimana terjadi peningkatan kasus AI oleh Dinas setempat serta pengawasan lalu lintas di tempat-tempat pengeluaran dan pemasukan oleh pihak karantina hewan, dengan mengacu pada SOP pengendalian AI tahun 2010. Lalu lintas itik hidup dari daerah tertular kasus AI dipersyaratkan dengan kelengkapan hasil uji PCR negatif

Dst….

Sumber :http://ditjennak.deptan.go.id/

download

BERITA TERKINI