Kategori
Artikel Berita Terbaru

SWASEMBADA DAGING SAPI DALAM ILUSI PENGETAHUAN

(Refleksi dan Aksi Untuk Mewujudkan Mimpi)

Oleh drh. Tarsisius Considus Tophianong, M.Sc

Dosen dan Praktisi Bagian Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan Undana

“Gnothi Seauton” Kenalilah dirimu sendiri karena hidup yang tidak direfleksikan tidak patut dihidupi. Dalam perspektif swasembada daging sapi Nasional petuah bijak Socrates ini patut untuk direfleksikan, karena penurunan kinerja reproduksi induk sapi akibat gangguan reproduksi menjadi momok tersendiri bagi swasembada daging sapi. Swasembada daging sapi di Indonesia merupakan ideal yang terlampau tinggi, ibarat pungguk merindukan bulan. Jika swasembada daging sapi adalah gadis, maka para pemuda yang mengejarnya akan jadi bujang abadi alias bujang lapuk. Swasembada daging sapi saat ini menemui realitas yang samar dikejauhan, tetapi tetap ada setitik cahaya jika mau direfleksikan dan berbenah diri.

            Banyak program pemerintah dibidang peternakan cenderung kurang berhasil, salah satu contoh diantaranya penerapan manajemen reproduksi terutama teknologi reproduksi Inseminasi Buatan (IB) dilaksanakan secara nasional pada peternakan rakyat diseluruh wilayah Indonesia. Hal ini berarti penerapan manajemen reproduksi di suatu wilayah disamakan dengan wilayah lain, tanpa memperhatikan sistem pemeliharaan sapi  dan sumber daya yang ada di suatu wilayah. Pada umumnya peternakan sapi rakyat di pulau Jawa adalah pola pemeliharaan intensif, dimana seluruh kebutuhan hidup sapi tersebut sejak perkawinan sampai kelahiran sepenuhnya membutuhkan interfensi peternak. Hal ini tentunya sangat jauh berbeda dengan sistem pemeliharaan sapi bali di Nusa Tenggara Timur dan beberapa wilayah di Indonesia yaitu semi intensif dan ekstensif dimana hampir sebagian besar hidup sapi terjadi secara alami dipadang pengembalaan. Sistem peternakan sapi rakyat dipulau Jawa dengan segala permasalahannya, yang mungkin bersifat spesifik lokasi dijadikan sebagai potret peternakan sapi rakyat di Indonesia. Perlu diingat pepatah tua mengatakan lain padang, lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Program nasional yang dicanangkan pemerintah (GBIB-Gangrep, SIWAB, SIKOMANDAN) serta berbagai seminar, bimbingan teknis sampai pada refreshing penanganan gangguan reproduksi sapi adalah bentuk usaha menuju swasembada daging sapi. Manusia menjadi faktor penentu terjadinya gangguan reproduksi pada sapi yang menjadi penghambat tercapainya swasembada daging sapi. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan keputusan, petugas lapangan sebagai ujung tombak pelaksana bersama peternak. Sapi yang berada pada puncak piramid pembangunan peternakan hanyalah menerima imbas dari manajemen yang ditelah diterapkan. Potret kondisi peternakan sapi adalah pantulan representasi dari penerapan manajemen yang dilakukan oleh peternak bersama petugas.

Fakta empiris aplikasi teknologi reproduksi IB pada seekor sapi bali dengan berat badan ± 200 kg, dilakukan IB crossbreed dengan breed dari bos taurus yang sejak awal sudah dapat diestimasi akan potensi distokia dan gangguan reproduksi lain yang mengikutinya. Jika kita temui petugas lapangan dan menanyakan terkait hal ini maka jawaban yang akan kita terima adalah peternak meminta, memaksa dan sangat menginginkan sapi crossbreed. Dalam konteks ini, mengikuti dan mewujukan keinginan peternak adalah sebuah kekonyolan yang tidak patut dilestarikan. Distokia yang berujung pada tindakan sectio caesaria sebagian orang menganggapnya berkat tersembunyi, karena dengan adanya distokia banyak petugas akhirnya bisa melakukan sectio caesaria. Setiap orang tentunya melihat dari sudut pandang berbeda, menurut saya distokia yang terjadi pada sapi akseptor IB yang berujung pada sectio caesaria adalah bukti kegagalan manajemen perkawinan. Mestinya mencegah terjadinya distokia jauh lebih penting daripada menepuk dada atas keberhasilan sectio caesaria. “Sebab jika distokia yang melahirkan sectio caesaria dianggap sebuah berkat, maka pendidikan medis veteriner, pelatihan serta berbagai bimbingan teknis adalah upaya tanpa faedah”. Jika hal demikian terjadi, akankah mimpi mulia one cow, one calf, one year tercapai? Bukankan induk sapi tersebut akan mengalami masa puerpureum, involusi uterus lebih lama? Bukankah panjangnya masa puerpureum mengakibatkan panjangnya calving interval? Saya yakin kita semua pasti sudah menemukan jawaban, jauh sebelum pertanyaan ini ada. Pertanyaan berikutnya bagaimana dengan penerapan animal welfare yang selalu didengungkan dipodium terhormat dan disuarakan dengan lantang diatas panggung-panggung seminar berreputasi nasional maupun internasional? Kita lalu bertanya apakah prinsip-prinsip animal welfare menjadi komitmen dalam pelayanan dan pengabdian tetap dijunjung tinggi? ataukah hanya tagline iklan?

Di lapangan kita akan menyaksikan belbagai contoh konkret dalam jarak nampak pandang diantaranya IB dilakukan pada sapi yang tidak estrus, sapi bunting, sapi yang sedang mengalami infeksi uterus serta penggunaan PGF2 alfa bak obat dewa tuk semua status reproduksi. Inseminasi buatan yang dilakukan pada sapi bunting ada yang mengakibatkan abortus, adapula lahir pedet bak bibit hibrida yang jarak dari IB sampai kelahiran adalah 2-3 bulan. Pelatihan dan bimbingan teknis terkait aplikasi teknologi reproduksi yang dilakukan di belbagai institusi pelatihan seakan sebuah usaha tanpa makna. Materi yang diberikan pada waktu pelatihan hanyalah ceramah ilmiah yang berorientasi pada jumlah jam pelatihan. Mengapa demikian karena petugas yang konon katanya terlatih dan bersertifikat tidak menerapkan apa yang diperolehnya dengan baik dan benar. Hal ini kembali kepada mentalitas petugas yang menurut Presiden Jokowi membutuhkan revolusi mental. Sedikit berbeda dengan gagasan Bapak Presiden menurut saya mental tidak bisa diubah dengan “REVOLUSI”. Mental hanya bisa diubah melalui “EVOLUSI” karena mentalitas adalah karakter yang perubahannya membutuhkan waktu lama. Petugas berusaha membuat belbagai eksperimen baru dilapangan yang akibatnya lahirlah pelbagai gangguan reproduksi pada sapi akseptor IB. Jika kita telusuri dan amati dengan cara saksama maka kita bisa menyimpulkan gangguan mentalitas dapat berpotensi mengakibatkan gangguan reproduksi pada sapi, karena “eksperimen tanpa pikiran cerdas dibaliknya, sama seperti seorang buta yang ingin memahami warna”.

Hasil kajian ilmiah mengatakan bahwa IB harusnya dilakukan pada pola peternakan intensif dengan rekording yang baik, bahwa crossbreed hanya untuk final stock faktanya di Nusa Tenggara Timur yang pola pemeliharaan sapi bali adalah semi intensif dan ekstensif dilakukan IB dan sebagian besar adalah crossbreed (bos javanicus dan bos taurus) untuk tujuan breeding. Mungkin hal demikian terjadi didaerah lain dalam negeri ini dan tentunya tindakan ini disertai dengan belbagai argumentasi yang dibungkus dalam kemasan ilmiah. Beberapa tahun terakhir sejak diluncurkan program Gertak Birahi Inseminasi Buatan Gangguan Reproduksi sapi (GBIB-Gangrep) Tahun 2015, pelaksanaan IB seakan menjadi poin penting menuju peningkatan populasi. Pelaksanaan perkawinan silang beda bangsa sapi (crossbreed) melalui aplikasi IB dilapangan semakin diminati, mampu memikat hati peternak dan pemerintah karena beberapa alasan diantaranya berat lahir yang lebih berat dari sapi lokal dan pertumbuhan yang lebih cepat adalah suatu keunggulan menurut sudut padang kebanyakan orang.

Sapi lokal seperti sapi bali dengan tingkat fertilitas tinggi dan kemampuan adaptasi pada lingkungan ekstrim yang lebih baik dibandingkan bangsa sapi lain tidak dikelola dengan manajemen yang maksimal. Sapi bali seakan mulai ditinggal pergi dengan berbagai image buruk seperti bertubuh kecil dengan analogi bagaikan saudara tua dari kambing/domba, jika kondisi demikian terus berlanjut suatu saat nanti niscaya sapi bali akan menjadi asing ditanah sendiri. Benarlah ungkapan ini rumput tetangga lebih hijau daripada rumput dihalaman sendiri. Kita selalu terpesona dengan kasat mata, tanpa perlu menelusuri apakah rumput yang hijau berkualitas?

            Berdasarkan fakta empiris menurut hemat saya “halangan terbesar swasembada daging sapi di Negeri ini bukanlah ignorantia, melainkan ilusi pengetahuan”. “Ignorantia” adalah kekurangan pengetahuan yang perlu, yang bisa dibatasi dengan pemberitahuan, dan memang benar kita tidak sedang kekurangan pengetahuan. Sementara ilusi pengetahuan adalah sebentuk “eror” terhadap pengetahuan. Ilusi pengetahuan membuat orang tidak lagi mementingkan atau melihat fakta, kualitas dan menyelami realita, namun soal menarik atau tidak menarik. Seperti halnya pengalaman saya setiap menghadiri kontes ternak sapi di NTT semua orang begitu bersorak sorai penuh decak kagum ketika melihat sapi crossbreed dengan bobot ± 1 ton parade di depan panggung kehormatan para tamu undangan. Dari belbagai contoh konkret yang saya kemukan dalam tulisan ini merupakan eror terhadap pengetahuan/ ilusi pengetahuan. Disini dapat dilihat bahwa yang benar, baik dan berkualitas adalah yang menarik untuk dilihat dan memesona untuk ditonton. Orang lalu lupa bahwa di lapangan sapi crossbreed banyak menyuguhkan berbagai gangguan reproduksi dan fenomena penurunan kinerja reproduksi. Orang lupa bahwa hanya dengan menarik, eksotik dan menawan tidak akan mampu meningkatkan populasi sapi menuju swasembada. Tanpa efisiensi reproduksi, peningkatan populasi hanyalah sebuah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan atau indra lainya dalam tidur yang merupakan sebuah kemustahilan dalam dunia nyata. Ataukah memang kita ditakdirkan swasembada daging melalui import sapi dan daging beku?

Kita tidak terbiasa untuk menyelam dan mendalami suatu masalah dari ujung ke ujung. Kita ibarat melihat hutan tanpa bisa menggambarkan hutannya secara mendetail, tanpa juga mampu melihat pohonya, tetapi langsung menemukan dahan dan daunnya saja. Kita melihat sesuatu hanya dipermukaan saja dan semakin bersahabat dengan kepanikan. Menghadapi situasi ini, kita membutuhkan orang-orang yang mempunyai kebiasaan refleksi untuk menenangkan hati, berpikir jernih dan objektif tentang realita yang ada. Benarlah gagasan Aristoteles bahwa kebenaran adalah dengan melakukan kebenaran, dimana pengetahuan teoritis berhubungan dengan kebenaran, pengetahuan praktis berhubungan dengan aksi. Pengetahuan teoritis berhubungan dengan pengetahuan “tentang”, sementara pengetahuan praktis berhubungan dengan tindakan “membuat”. Singkatnya aksi yang didasarkan pada teori yang benar dan teori yang benar sejatinya juga didasarkan pada refleksi atas aksi yang telah dilakukan. Bukanlah aksi pragmatis ugal-ugalan demi tujuan instrumental sesaat tanpa perlu berpijak pada analisa ilmiah.

Mimpi mencapai swasembada daging sapi adalah mulia, namun realita memotretnya dengan sangat buram. Semoga fajar lekas terbit dan semuanya lekas bangun dari tidur untuk kembali memahami dan menerapakan ilmu sesungguhnya bukan hanya sebatas tagline usang yang melegenda menghiasi mimbar seminar atau sebagai literasi pelengkap lemari perpustakaan. Lantas apa yang harus kita lakukan???