Tantangan dan Peluang BVet Lampung sebagai Laboratorium Diagnostik di era Pasar Bebas ASEAN

Saat ini kita telah sampai pada bulan kedua di tahun 2015.  Tahun dimana diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).  Siap atau pun tidak kita telah berada di dalamnya.  Mampukah kita mengoptimalkan sumber daya dan peluang yang ada untuk menjadikan Indonesia dapat bersaing dengan negara ASEAN lainnya atau minimal menjadi tuan rumah terhadap produk dan jasa dalam negeri dari serbuan produk dan jasa negara ASEAN lainnya.  MEA akan  meningkatkan daya saing untuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan melalui integrasi ekonomi dengan 4 pilar yaitu pasar tunggal dan basis produksi, wilayah berdaya saing tinggi, wilayah dengan pembangunan ekonomi yang merata dan kawasan yang terintegrasi dengan pasar global.

statistiquesIndonesia sebagai satu diantara negara dengan jumlah penduduk terbesar diharapkan mampu menarik investor ke dalam negeri dan mendapat peluang ekonomi yang lebih besar dari negara anggota ASEAN lainnya. Dengan sumber daya alam dan manusia yang ada apakah kita bisa menjadikan sebagai potensi dan pemimpin pasar ASEAN atau hanya menjadi negara konsumen dan  menjadi tamu di negeri sendiri.

Provinsi Lampung merupakan provinsi yang terletak paling selatan Pulau Sumatera. Hal ini menjadikan provinsi ini menjadi sangat strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor peternakan. Provinsi Lampung memiliki potensi pengembangan bisnis di bidang peternakan dengan sumber daya genetik yang sangat potensial seperti kambing Burawa dan sapi pesisir.  Provinsi ini juga memiliki beberapa peternakan unggas dan 9 feedlotter (usaha penggemukan sapi) dan Lampung menjadi salah satu lumbung ternak nasional. Lampung adalah salah satu Provinsi penyangga untuk mensuplai kebutuhan daging baik unggas maupun sapi untuk kebutuhan Jakarta.

Standarisasi sangat merupakan kata kunci yang penting apalagi ketika non barrier tarif (NBT) diterapkan.  Kita tidak bisa lagi menerapkan kebijakan tarif sebagai proteksi terhadap produk kita.  Satu – satunya cara memproteksi adalah bagaimana kita menjaga membanjirnya produk luar di pasar kita dengan standarisasi terhadap kualitas produk untuk melindungi produsen dan konsumen pasar Indonesia.  Standar Nasional Indonesia (SNI) sangat berperan besar disini, begitu pula Laboratorium – Laboratorium pengujian karena hasil laboratorium menjadi penentu kualitas suatu produk apakah sesuai atau tidak dengan standar yang telah ditentukan.

Balai Veteriner Lampung sebagai Laboratorium Veteriner yang telah terakreditasi sesuai SNI ISO/IEC 17025 : 2008 oleh Komite Akreditasi nasional (KAN) sejak tahun 2003 mengemban amanah mengawal agar ternak dalam rantai pasar  dari peternak sampai ke produknya merupakan produk yang aman sehat utuh dan halal.  Baik itu produk lokal, impor maupun produk akan di ekspor.  Semua harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Ada dua puluh tiga pengujian yang telah terakreditasi antara lain Bedah bangkai (Nekropsi), Histopatologi, HA/HI terhadap AI dan ND, Uji Seller’s dan FAT terhadap Rabies, Uji RBT dan CFT terhadap Brucella, Uji Mc Master untuk menguji telur cacing pada tinja/feses, Uji Cemaran Mikroba dan Residu Antibiotika pada Pangan asal hewan. Selain itu Balai Veteriner Lampung tahun ini juga telah memiliki sertifikat ISO 9001:2008 dari Mutu Certificated International untuk kategori pelayanan publik sehingga secara umum secara manajemen ada standar dan jaminan mutu terhadap pelayanan Balai.

            Oleh karena itu keberadaan Balai Veteriner Lampung sebagai Laboratorium Diagnostik sangat diperlukan.  Untuk menjamin kesehatan hewan dan Produk Asal Hewan yang Aman Sehat Utuh dan Halal (ASUH).  Baik pengujian terhadap produk – produk yang akan diekspor ataupun produk – produk yang diimpor ke Indonesia.  Sudah siapkah masuk kedalam persaingan tersebut.  Karena MEA akan membawa banyak perubahan terkait kondisi sosial dan ekonomi.  Persaingan pelayanan, kepercayaan konsumen dan kredibilitas lembaga pengujian akan sangat berpengaruh.  Sudah cukupkah legislasi, regulasi, kompetensi  dan profesionalisme kita untuk bersaing di era MEA ? Semua ada ditangan kita semua, karena suka atau tidak kita telah ada didalamnya.  Kita punya peluang dan sekaranglah kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita bisa.  Semoga…….!

drh Enny Saswiyanti, M.Si

BERITA TERKINI