Untung Rugi Pengurangan Kuota Import Sapi

closeTahun 2009 adalah tahun puncak kejayaan import sapi dengan angka import tertinggi, kemudian turun secara teratur kuota import mulai 2010 – 2013 dengan rata rata penurunan kuota 40 – 60% dari tahun sebelumnya. Tahun 2013 ini menjadi tahun paling sedikit  jatah importnya selama 10 tahun terakhir, dan di 2014 bisa jadi naik, tetap atau bahkan akan dikurangi lagi. Pemerintah ( Kementrian Pertanian, Dinas yang Membidangi Peternakan ), peternak sapi lokal, ataupun pengusaha sapi lokal mempunyai keyakinan di 2014 Indonesia mampu mencapai swasembada daging sapi / kerbau. Di sisi lain banyak para pengimport sapi ( feedloter ) yang meragukan program PSDSK akan tercapai dalam waktu 1 tahun lagi. Semua pihak terkena imbas untung rugi kebijakan penguragan kuota import yang dicanangkan pemerintah.

Pihak pihak yang merasa dirugikan

Pihak yang paling merasa dirugikan adalah para pengimport ( feedloter ) yang sebagian besar ada di Jatim, Jabodetabek, Lampung dan Medan. Mesin pencetak uang yang selama ini mereka dapatkan dari usaha penggemukan sapi import dengan produktifitas tinggi, sejak 3 tahun lalu mulai terganggu operasionalnya. Biaya operasional yang mereka persiapkan untuk memelihara sapi dengan populasi 100% kapasitas kandang dan regulasi rutin perbulannya untuk pelanggan, ternyata kapasitasnya hanya terisi 50 – 60% nya. Mereka yang telah eksis lebih awal menemui kendala untuk penggajian karyawan dengan banyaknya karyawan yang telah diangkat menjadi karyawan tetap dengan segala fasilitas hak karyawan tetap dan kenaikan gaji berkala. Investasi bangunan kandang, gudang, perkantoran, peralatan, angkutan, dan Rumah potong hewan yang mereka mitrakan ke daerah menjadi sangat jauh efektifitas dan nilai ekonomisnya. Dari informasi teman sejawat yang bekerja di salah satu feedloter di Lampung yang kami temui, perusahaannya telah menawarkan bagi sejumlah karyawannya untuk dikasih pesangon dengan pertimbangan sedikitnya populasi sapi yang diimport. Rata rata feedloter di Lampung mendapatkan 5.000 – 15.000 ekor jatah import di tahun 2013 ini.

Pihak berikutnya yang merasa dirugikan dengan turunnya omset adalah para supplier, diantaranya supplier obat-obatan, vaksin, kimia, ear tag, supplier  bahan baku  pakan, feed additive dan supplier lain yang berhubungan dengan operasional kendaraan.  Beberapa karyawan yang nasibnya terancam PHK menanti nasib mereka dengan kecemasan. Jika yang diPHK adalah para sarjana yang memiliki skill untuk bekerja di tempat lain, maka tidak terlalu bermasalah. Namun jika yang diPHK anak kandang, feeder, stockman, pen cleaning, atau buruh bongkar muat, maka mereka akan kehilangan mata pencaharian yang menopang kehidupannya selama ini. ( berkaitan dengan artikel Infovet edisi September 2012 : PSDSK 2014: Dilema Tuntutan Pemerintah Minta Feedlot Kembangkan Breeding )

Para pemotong ( jagal ) juga ikut merasakan penurunan omset mereka setelah feedloter membatasi jatah semua konsumennya. Menurut info dari rekan rekan jagal di Bogor, realita yang ada sekarang mereka sangat kesusahan mendapatkan laba dari hasil pemotongan sapi lokal dari Jawa. Harga sapi sekarang tembus Rp. 35.000 – 36.000,00 / kg, karkas sekarang harganya  berkisar Rp. 70.000 /kg. Secara otomatis sapi yang dipotong harus menghasilkan karkas minimal 50% untuk kondisi Break event point, namun kondisi itu sangat sulit  tercapai karena sapi yang didatangkan dari Jawa biasanya karkas hanya berkisar 47 – 49 % dan itupun masih ditambah  ongkos pemotongan.

Hal yang menguntungkan dan pihak yang diuntungkan dari pengurangan kuota import

Harapan pemerintah dengan pengurangan kuota import sapi adalah menciptakan kedaulatan pangan dengan berbasis kemandirian peternakan rakyat. Hal ini mengingatkan kondisi terburuk peternak lokal pada 2009 ketika importasi sapi tidak terkontrol, banyak sapi trading import yang membanjiri pasar daging sehingga sapi lokal tidak mempunyai harga jual. Sebaliknya sekarang ini kelangkaan daging atau sedikitnya sapi import berimbas naiknya harga sapi lokal, peternak merasakan sedikit manisnya kenaikan harga sapi. Namun yang perlu ditingkatkan pengawasan agar sapi kita tidak terpotong habis karena langkanya sapi, terutama pengawasan pemotongan betina produktif. Rekan dokter hewan di salah satu Koperasi susu di Garut, Jabar awal tahun 2013 menyebutkan bahwa setoran susu dari peternaknya menurun tajam hingga 50% dari yang biasa diterima disebabkan karena banyak sapi perah yang dijual ke blantik untuk dipotong.

Menurunnya populasi sapi import, permintaan pakan ternak juga akan berkurang mengingat kebutuhan pakan sapi import untuk penggemukan selama ini sangat mendominasi. Korelasi supply and demand ditandai berlebihnya stok bahan baku pakan ternak ( onggok, HMT, bungkil kedelai, bungkil sawit, bungkil kelapa, dedak, pollard, jagung, tetes tebu, kulit kopi, dan bahan baku lainnya ) dan berujung dengan turunnya harga pakan ternak. Peluang ini harus ditindaklanjuti semua pihak untuk mengembangkan produktifitas sapi lokal dengan pakan intensif, pengembangan breeding, pengembangan sapi perah menuju swasembada susu 2020, peningkatan produkstifitas kambing dan domba dengan bionutrisi. Bisa jadi dimulai para peternak di Lampung untuk mengembangkan breeding sapi lokal dengan meningkatkan kualitas reproduksi dan program pembuntingan dengan bibit simmetal atau limousine sehingga 3-4 tahun yang akan datang tidak akan tergantung pada keberadaan sapi simmetal atau limousine dari Jawa.

Peternakan sapi perah ataupun penggemukan di Jabodetabek dan sebagian Jabar yang selama ini mengambil bahan baku pakan dari Lampung bisa menikmati turunnya feedcost. Pola pola breeding untuk menghasilkan replacement stock yang unggul dan menghasilkan indukan dengan produksi susu bagus dapat dicapai dengan pemenuhan kebutuhan pakan dan kualitas pakan. Apabila semua berjalan seperti yang diharapkan peternak, maka menjadi tugas pemerintah untuk meregulasi harga produk peternakan ( dalam hal ini susu ) agar lebih dapat mensejahterakan peternak. Harga susu segar yang selama ini identik dengan 1 gelas es teh yaitu Rp. 3.000,00 / liter harus diperjuangkan kenaikan harganya dalam rangka menghargai jerih payah peternak sapi perah dalam memelihara sapinya.

Bagi produsen obat-obatan tidak perlu khawatir dengan menurunnya omset dari feedlot. Langkah kreatif yang perlu dilakukan yaitu dengan mengaktifkan Company Social Responsibility dalam bentuk pembinaan dan pendampingan peternak untuk pengembangan breeding. Dengan pembinaan terpadu pada pola pemeliharaan, intensif breeding, dibarengai managemen kesehatan ternak maka penanganan cacing gastro intestinal, supportive terapi, dan kebutuhan antiseptic, antibiotic akan meningkat sesuai perkembangan populasi ternak breeding. Jika dibandingkan dengan penggemukan sapi import, maka breeding sapi lokal atau sapi perah lebih banyak membutuhkan OVK.

 Ketuk palu kuota import sapi 2013 sudah diteken oleh pemerintah dengan porsi masing masing perusahaan, hal ini boleh ditanggapi beragam. Namun tanggapan tersebut harus menghasilkan akibat yang lebih baik bagi semua pihak. Jika para pengimport merasa dirugikan ( seperti paparan di atas ), sesungguhnya masih ada peluang untuk negosisasi dengan pemerintah atau pihak Australia sendiri untuk menambah import betina produktif brahman untuk bibit breeding tentunya sesuai yang dipersyaratkan para pakar Bibit di Dirjennak Keswan, Kemtan RI. Cara ini dapat meningkatkan populasi ternak di Negara kita dan jangka panjang sapi tersebut dapat diproduksi masal di Indonesia. Jangan tertipu dengan betina spayed, steril, infertile atau final stock yang disediakan Australia. [drh. Joko Susilo]

BERITA TERKINI