Kategori
Artikel

Update: Avian Influenza

Kejadian Avian Influenza sejak tahun 2003 senantiasa ada di wilayah regional Lampung hingga akhir tahun 2015. Di masing-masing daerah memiliki angka kejadian yang berbeda-beda dan jika dipetakan genetik akan memberikan informasi yang berbeda antar daerah. Angka kejadian penyakit Avian Influenza dengan tingkat kepercayaan 95% di Provinsi Bengkulu 0,063 (0,033 ±0,108), Provinsi Lampung 0,045(0,031±0,063), Babel 0,019(0,002±0,068) dan Sumatera Selatan 0,091 (0,058±0,135) (Anonimus, 2016).

Awal tahun 2016 banyak kejadian Avian Influenza di Indonesia (kejadian pulau Jawa dan beberapa daerah di Sumatera). “Wabah yang terjadi di awal Maret ini mungkin disebabkan oleh bentuk mutasi dari virus H5N1 – dan hipotesis awal kami adalah bahwa virus berhasil bermutasi dalam waktu singkat karena terlalu sering menggunakan vaksin yang berputar di luar kendali,” kata Kepala AIRC, CA Nidom kepada Tempo pada Rabu, Maret 16, 2016. Sedangkan menurut Hendra (2016) Clade 2.3.2.1 ini hasil analisis IVM memang menunjukkan diverse antigenicity of virus isolates tetapi genetically masih dalam satu clade 2.3.2.1 group C. Kasus kematian umumnya terjadi pada itik-itik muda (walau sudah divaksin ttp belum matang imunologisnya dan bahkan mungkin baru divaksin sekali saat terserang AI) dan ayam yg belum divaksin sehingga wajar kematian tinggi di kelompok spesies dan umur ini. Hendra berhipotesis bahwa telah terjadi antigenic drift akibat proses adaptasi alami virus Clade 2.3.2.1 pada unggas di Indonesia (ingat virus ini baru masuk di akhir th 2012 dan ingat juga kejadian masuknya virus Clade 2.1 di akhir th 2003 dimana Clade 2.1 berkembang dan berevolusi cepat menjadi 3 kelompok Clade 2.1.1, 2.1.2, 2.1.3 hanya dlm periode 2003-2005 dimana vaksinasi saat itu belum intensif).

Berbeda dengan Clade 2.1.3, Vaksinasi sdh diperkenalkan dan masif digunakan sejak Th 2006. Tetapi data IVM menunjukkan TIDAK ADA Antigenic Shift yang mengubah “muka” virus AI secara drastis..Tetapi yang terjadi adalah antigenic drift dari tahun ke tahun dan drift terjadi juga di antigenic sites nya, tetapi belum terjadi shift pada reseptor binding site yg krusial. Walaupun hanya drift, update challenge antigen tetap perlu dilakukan, karena pemilihan challenge antigen berdasarkan virus yg dominan yg beredar di lapangan sehingga bisa digunakan untuk melihat efikasi vaksinasi (apakah vaksin sekarang masih protektif terhadap kelompok virus yg skrg dominan di unggas, imbuhnya.

Penggunaan vaksin yang homolog lebih bermanfaat dibandingkan dengan Heterolog dan perkembangan kartografi akan dapat memberikan informasi yang lebih baik kaitanya strain virus AI yang ada di lapangan.

Ada beberapa hal yang diperlukan intervensi untuk menekan kasus: Biosecurity sederhana yang dapat diterapkan peternak, Lalu Lintas, Pasar bersih, dan Kompartementalisasi yang diikuti dengan zoning yang sesuai dengan prinsip.

Tim redaksi website