Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI

Perkuat Kewaspadaan Penyakit Hewan, Bvet Lampung Laksanakan Surveilans Terintegrasi di Provinsi Bengkulu

  • 27/04/2026 08:09:00
  • By : Adminbvl
  • 9
Perkuat Kewaspadaan Penyakit Hewan, Bvet Lampung Laksanakan Surveilans Terintegrasi di Provinsi Bengkulu

Bengkulu – Dalam upaya meningkatkan kewaspadaan dan pengendalian penyakit hewan strategis, tim Balai Veteriner (Bvet) Lampung melaksanakan kegiatan surveilans terintegrasi di Provinsi Bengkulu yang mencakup Kabupaten Bengkulu Selatan, Seluma, dan Kota Bengkulu. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 20 s.d. 24 April 2026.

 

Kegiatan diawali dengan pemeriksaan fisik hewan qurban bantuan masyarakat tahun 2026. Di Kabupaten Bengkulu Selatan, dilakukan pemeriksaan terhadap 1 ekor sapi dengan bobot sekitar 1.005 kg. Sementara di Kabupaten Seluma, tim memeriksa 3 ekor sapi dengan bobot masing-masing 940 kg, 840 kg, dan 890 kg. Selain pemeriksaan fisik, tim juga melakukan pengambilan spesimen untuk pengujian laboratorium guna mendeteksi penyakit strategis seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), parasit darah, dan parasit gastrointestinal. Berdasarkan hasil pengujian, sapi bantuan masyarakat Presiden dinyatakan negatif PMK dan parasit darah.

 

Surveilans kemudian dilanjutkan di Kota Bengkulu dengan cakupan pengujian penyakit PMK (antigen dan antibodi), Enzootic Bovine Leukosis (EBL), Septicaemia Epizootica (SE), Jembrana, serta parasit darah pada sapi dan kerbau. Sebanyak 37 spesimen berhasil dikoleksi dari 4 titik lokasi. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada kelompok ternak, termasuk diskusi mengenai pengendalian penyakit dan pentingnya vaksinasi mandiri.

 

Pada hari berikutnya, tim melaksanakan surveilans di UPTD Perbibitan milik Pemerintah Provinsi Bengkulu dengan total 17 spesimen yang berhasil dikoleksi. Hasil pengamatan menunjukkan adanya penurunan signifikan populasi sapi BX dari sekitar 50 ekor menjadi hanya sekitar 9 ekor. Selain itu, indukan sapi Bali yang tersisa umumnya telah berusia tua, sekitar 13 tahun, dengan kondisi hipofungsi reproduksi. Permasalahan lain yang dihadapi meliputi manajemen pakan yang belum optimal, keterbatasan nitrogen cair dan straw, serta pejantan BX yang tidak aktif mengawini. Surveilans juga dilakukan pada plasma nutfah Itik Talang Benih untuk memastikan status Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND), serta manajemen pakan.

 

Tim juga melakukan penelusuran kasus di wilayah Bangkahan, Kota Bengkulu, yang sebelumnya terdampak penyakit Jembrana. Masyarakat menunjukkan respon positif terhadap vaksinasi, mengingat sapi yang telah divaksin sebelumnya terbukti tetap terlindungi. Selain itu, dilakukan pengambilan 1 spesimen pada sapi bull di BIBD Bengkulu yang sebelumnya terindikasi seropositif Lumpy Skin Disease (LSD), di tengah keterbatasan pejantan unggul yang memenuhi syarat produksi semen.

 

Di sela kegiatan, tim Bvet Lampung turut melaksanakan podcast bersama Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu. Menanggapi kegiatan ini, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu, Abdul Hadi, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan surveilans terintegrasi yang dinilai sangat strategis dalam memperkuat sistem deteksi dini penyakit hewan. “Kegiatan ini sangat membantu daerah dalam memastikan status kesehatan hewan, khususnya menjelang momentum Idul Adha. Kami juga mendorong peran aktif dokter hewan di kabupaten/kota sebagai garda terdepan dalam penyebaran informasi dan pengendalian penyakit,” ujarnya.

 

Di tempat terpisah, Kepala Balai Veteriner Lampung, Suryantana, menegaskan bahwa surveilans terintegrasi merupakan bagian penting dari upaya pencegahan dan pengendalian penyakit hewan secara komprehensif. “Kami tidak hanya melakukan pengujian laboratorium, tetapi juga memperkuat edukasi kepada peternak agar mampu mengenali gejala penyakit dan melakukan langkah pencegahan secara mandiri, termasuk vaksinasi. Sinergi antara pusat dan daerah menjadi kunci dalam menjaga kesehatan hewan dan keamanan produk hewan,” jelasnya.

 

Sebagai penutup, tim melaksanakan kegiatan KIE kepada masyarakat dan kelompok ternak di Bengkulu Selatan dengan fokus pada perbaikan manajemen pakan, pengenalan gejala klinis penyakit, serta peningkatan kesadaran dalam pelaksanaan vaksinasi secara mandiri.

 

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan surveilans terintegrasi ini berjalan dengan lancar dan mendapatkan respon positif dari masyarakat serta para pemangku kepentingan, sebagai bagian dari upaya bersama dalam menjaga kesehatan hewan dan menjamin keamanan produk hewan di Provinsi Bengkulu.

KATEGORI


WA Call Center